Mengenal Generasi Kedua Zona Merah, Pemilik Rumah Makan Sunda dan Populer di Bandung

INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,MEDIA PARIWISATA DAN UMKM,media pvk group, umi kalsum founder dan ceo pvk group,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SELAMAT DATANG DI ZONA MERAH KOTA BANDUNG ADA KULINER TRADISIONAL KHAS SUNDA,TAUFIK GENERASI KEDUA KULINER ZONA MERAH,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,ZONA MERAH RUMAH MAKAN NGEHITS DI BANDUNG,media pariwisata indonesia, pariwisata indonesia, situs terbaik pariwisata dan umkm
Foto Taufik Sekeluarga, Generasi Kedua Rumah Makan Zona Merah di Bandung / Dok. Web Pariwisata Indonesia

PariwisataIndonesia.id – Ayo berburu kuliner berbasis budaya dan populer di kota Bandung. Yuk, mengenal lebih dekat profil pemilik usaha “Zona Merah” salah satu potret UMKM di Indonesia yang masih berdiri dan bertahan.

Taufik adalah generasi kedua rumah makan Zona Merah khas Sunda. Dialah di balik suksesnya rumah makan yang menyuguhkan masakan-masakan Jawa Barat.

INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,MEDIA PARIWISATA DAN UMKM,media pvk group, umi kalsum founder dan ceo pvk group,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SELAMAT DATANG DI ZONA MERAH KOTA BANDUNG ADA KULINER TRADISIONAL KHAS SUNDA,TAUFIK GENERASI KEDUA KULINER ZONA MERAH,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,ZONA MERAH RUMAH MAKAN NGEHITS DI BANDUNG,media pariwisata indonesia, pariwisata indonesia, situs terbaik pariwisata dan umkm
Taufik Generasi Kedua Zona Merah / Dok. Web Pariwisata Indonesia

Semangat Taufik tersingkap bak permen nano-nano dalam mengais rezeki di tengah pandemi COVID-19.

Awal mula Zona Merah berdiri berkat rintisan dari pasangan Deddy Sutardi dan Nolis Suryani, yakni pada bulan Maret 2010.

Sampai hari ini, omzetnya sudah puluhan juta per hari. Sabtu malam; malam Minggu; dan tanggal merah, malah lebih tinggi lagi.

“Zona Merah berdiri, pada Maret 2010,” kata Taufik kepada Ridwan, wartawan Pariwisata Indonesia, di Bandung, Minggu, 2 Mei 2021.

Diceritakan, “kepergian ayah mertua untuk selamanya menjadi titik balik hidup saya.”

Kepergian Deddy, membuat keluarga berduka. Taufik menambahkan, beralihnya estafet kepemimpinan Zona Merah pada hakekatnya sejak tahun 2011, saat dirinya sudah menyandang gelar sarjana hukum.

Saat itu, “Saya tidak tega melihat ibu mertua dan istri yang tengah mengandung harus begadang setiap hari.”

Sambungnya, “berkat restu mertua dan doa orangtua, mereka saling menyemangati dan mendorong untuk terus menguatkan saya. Jadilah seperti sekarang.”

Takdir berkata lain, jebolan sarjana hukum dari Kampus Mpu Tantular terpaksa banting setir. Dari dulu cita-citanya menjadi pengacara dan memiliki kantor sendiri. Saat ini, suami dari Yanti Rizka Yulianti Suryani menjadi martil keluarga.

Pria kelahiran Jakarta, pada 19 Oktober 1986, sudah jatuh bangun dan tidak patah arang. Terus melakoni bisnis keluarga, pikirnya, ini perjalanan panjang untuk membangun mental yang kuat menuju sukses. Meski di tengah pandemi Covid-19, dia semangat untuk tetap optimis.

“Prinsipnya, tidak ada satu manusia pun yang tak butuh makan. Usaha rumah makan itu tidak akan pernah mati. Setiap orang pasti membeli makanan untuk mereka makan. Ini kebutuhan dasar manusia,” gumamnya. Seloroh generasi kedua Zona Merah.

Tempat makan milik Taufik, lokasinya terbilang strategis tidak jauh dari mall PVJ. Persis di pinggir jalan raya. Silakan datang ke Jalan Sukajadi No 57, Bandung.

Selama Ramadhan, jam operasional buka jam 11.00 sampai jam 04.00 wib. Namun, untuk makan di tempat baru dibolehkan di atas jam 15.00 wib. Sebelum itu, memesan makanan melalui jasa pengantaran ojol (jasa ojek online.Red) dan takeaway.

Diungkapkannya, sesuai Peraturan Walikota Bandung selain pengaturan jam operasional juga mengatur soal penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Zona Merah sudah menerapkan 3M (Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan). Imbauan tersebut sekaligus menegaskan untuk kapasitas tamu yang makan di tempat ikut dibatasi.

KLIK. SUBSCRIBE! Like. comment positif. dan share-share untuk konten di channel You Tube milik netizen bernama Rijal Maulana.

Video menarik dan istimewa saat memberikan ulasan secara visual tentang rumah makan Zona Merah. Nonton, yuk!

Menu paling terfavorit dan terkemuka di Zona Merah, antara lain: Oseng Daging Mercon, Iga Bakar, Bebek, Cumi, Tahu Bejek dan Sambal yang jadi khasnya, yakni Sambal Mercon. Dijamin lezat dan maknyus.

Untuk menu standar, memasang harga seporsi mulai dari Rp 30ribu, terdiri dari ayam; tahu bejek; dan perkedel, diberikan bonus oleh Taufik es teh manis dan lalapan, free.

Lainnya, ada pepes peda; tahu benyek; jengkol; perkedel jagung; dan nasi uduk. Untuk air mineral dan lalapan free. Seporsinya, dibandrol Rp 35ribu sudah include tax.

Ada menu comotan, tamu bisa sesuka hati. Santapan yang di-jembreng-kan Zona Merah dijamin bikin ngeces, dan membingungkan. Masakan di sini tak cuma enak-enak tapi bikin penasaran.

Isi perut full tank di Zona Merah. Terhidang aneka masakan masih panas dan tak sengeri namanya. Setiap melahap, mengapa rasanya pecah di tenggorakan?

Kuliner viral di kota kembang, kata Taufik, sambal Zona Merah mengucurkan air mata dan keringat, nangis se-ember (kiasan.Red).

Deretan artis Indonesia pernah menyantap hidangan Zona Merah, foto-fotonya terpampang di dekat kasir, sebagian lagi masih proses bingkai foto untuk di pajang. Menurut Taufik, untuk menguatkan brand awareness Zona Merah.

Baru-baru ini, artis Elly Sugigi tak ketinggalan, komentar Elly menurut pelayan Zona Merah bernama Anton, “Mba Sugigi puas. Makanannya dibilang nampol dan enak-enak,” celetuk Anton saat melayani salah satu artis Indonesia.

Anton tidak sendiri, karena jumlah karyawan Zona Merah totalnya 16 orang. Kerja mereka dibuat 2 shift. Tempat makan favorit yang ada di kota dengan sebutan Paris van Java, tersedia dua lokasi.

Pertama, ada di depan. Lebih tepatnya yang berada di pinggir jalan raya dan statusnya masih sewa. Lokasi kedua, berbentuk bangunan permanen dua lantai. Terletak di bagian belakang dan bangunan ini milik sendiri.

Secara fisik, jajanan khas Sunda yang terkenal nikmat dan harus dicoba karena menggugah selera cukup lengkap fasilitasnya, ada musholla, toilet, dan seluruhnya sudah wifi.

INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,MEDIA PARIWISATA DAN UMKM,media pvk group, umi kalsum founder dan ceo pvk group,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SELAMAT DATANG DI ZONA MERAH KOTA BANDUNG ADA KULINER TRADISIONAL KHAS SUNDA,TAUFIK GENERASI KEDUA KULINER ZONA MERAH,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,ZONA MERAH RUMAH MAKAN NGEHITS DI BANDUNG,media pariwisata indonesia, pariwisata indonesia, situs terbaik pariwisata dan umkm
Taufik (Foto: Kanan) saat menyambut tamu Zona Merah / Dok. Web Pariwisata Indonesia

Ketika wartawan Pariwisata Indonesia bertanya, kenapa disebut Zona Merah atau sengaja ambil momen pas saat pandemi Covid-19? Jawabnya, “Astagfirullah! Tidak begitulah. Dulu-dulunya, masih berjualan di area terlarang atau di atas trotoar,” bebernya.

Dia melanjutkan cerita, “Tahun 2010, Zona Merah mulai berkedai. Kondisinya, masih sepi dan danger. Kami berempat saling mendukung. Saya dan istri. Lalu, ibunya istri dan bapak mertua mengadu nasib dengan mangkal untuk berjualan dari sore sampai dini hari. Saat itu, tempatnya bisa dikatakan masih rawan banget,” terangnya.

Warung ini semakin terkenal lantaran diberi nama Zona Merah, momen pas lagi corona (COVID-19). Mungkin saja, orang takut tapi penasaran.

Mengomentari itu, senyum dan gurauan ayah tiga anak ini menjelaskan, “Wah saya nggak tahu. Namanya bikin serem, ya? Hahahaha,” tawanya spontan.

Penampilannya, ada rasa lelah tersembunyi senyum. Gurauan-gurauan yang diciptakan seperti menutupi jeritan batin yang terdalam.

Kisah nyata! Ini curahan hati Taufik pertama kali pandemi covid-19 melanda Bandung. Gejolak batin dari penerus generasi kedua Zona Merah.

“Ojol-ojol (Ojol singkatan ojek online.Red) baru, saat terima order untuk pick up ke Zona Merah masih takut-takut. Takutnya semacam sesuatu yang seperti apa begitu, identik dengan daerah yang terlarang,” dia menjelaskan.

Lambat laun berubah, “Awalnya, tidak ada yang mau ambil menu makanan kita karena alasan nama Zona Merah. Asem banget!” katanya mengeluh. (Eh/Rd/Ksm).

Wawancara Selanjutnya >>> Zona Merah! Salah Satu Potret UMKM Masih Bertahan di Tengah Covid-19