Bolanafo

Wadah Unik dari Pulau Nias
Pariwisata Indonesia
foto: kabarnias.com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, saat mendengar kata Bolanafo, sebagian orang mungkin mengira bahwa benda tersebut merupakan salah satu perlengkapan olahraga. Namun, benda yang satu ini tidak ada hubungannya dengan bola, bahkan tidak memilki bentuk bulat atau lingkaran, melainkan segi empat. penasaran dengan bola ini?

Pariwisata Indonesia
Foto: ilovenias, wordpress.com

Bolanafo berasal dari Bahasa Nias, yaitu kata bola yang berarti tempat dan afo yang merujuk pada lima bahan untuk tradisi makan sirih, yang terdiri dari ari tawuo (daun sirih), betua (kapur), gambe (daun gambir), bago (tembakau), dan fino (buah pinang). Kelima bahan ini disatukan dan disusun secara rapi di dalam Bolanafo.

Baca juga :  Serampang Dua Belas

Tradisi makan sirih di Pulau Nias merupakan salah satu bentuk penghormatan masyarakat Nias terhadap tamu yang datang. Biasanya, tradisi ini kerap dilakukan saat akan memulai pertemuan adat, acara keluarga, upacara adat, atau perayaan-perayaan besar lainnya.

Bolanafo dibuat dari bahan daun pandan berduri dan pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Tahap awal pembuatan Bolanafo dimulai dengan mengambil daun pandan dan membersihkan durinya. Daun tersebut kemudian dibelah sesuai dengan ukuran yang diinginkan.

Baca juga :  Itak Pohul-pohul

Selanjutnya, daun yang telah dibelah lalu direbus selama 1 jam, kemudian direndam dalam air selama 3 hari lalu dikeringkan. Setelah kering, daun kembali dibersihkan dan dikeringkan hingga warnanya putih.

Daun yang telah berwana putih kemudian diwarnai. Pada masa lalu, pewarnaan dilakukan dengan menggunakan pewarna alami. Namun, di masa sekarang, para pengrajin umumnya menggunakan bahan pewarna buatan pabrik karena lebih praktis. Daun yang telah diwarnai kemudian dikeringkan hingga benar-benar kering selama 1-2 hari. Setelah kering, daun pun siap untuk dianyam sesuai dengan motif dan ukuran yang diinginkan.

Baca juga :  Ni’owuru

Terdapat lebih dari seratus motif yang digunakan dalam membuat Bolanafo. Motif-motif ini berbeda sesuai dengan acara yang akan dihadiri (pernikahan, kematian, atau yang lain). Selain itu, motif Bolanafo juga disesuaikan dengan status sosial pemakainya, misalnya motif Ni’otarawa yang digunakan untuk kalangan bangsawan dan motif Ni’ohulayo yang digunakan untuk masyarakat umum.

Di masa sekarang, Bolanafo tidak hanya digunakan sebagai tempat menaruh perlengkapan bersirih. Tas kecil ini juga dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan uang hingga perhiasan. Bolanafo juga kerap dijadikan sebagai cenderamata saat mengunjungi pulau Nias.

Di Bulan Maret 2010, Sentra pembuatan Bolanafo di Nias pernah memecahkan rekor MURI dengan membuat Bolanafo raksasa berukuran 3×3 meter yang pembuatannya dikerjakan oleh lima orang wanita. Pada tahun 2014, Bolanafo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara. (Nita)