Festival Sekaten

Ritual Tahunan Warisan Kerajaan Demak

Ada yang unik saat Sobat Pariwisata berkunjung ke Jogjakarta di awal bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Islam. Di bulan yang juga sering disebut bulan Mulud itu, digelar festival yang diadakan setiap tahun oleh Keraton Ngayogyakarta Hardidiningrat. Festival berusia ratusan tahun ini juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Penasaran dengan festival ini?

Pariwisata Indonesia

Festival Sekaten merupakan festival tahunan berusia ratusan tahun. Festival ini dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut, sejak tanggal 6 hingga 12 Rabbiul Awal kalender Islam atau tanggal 6 hingga 12 Mulud dalam Kalender Jawa Sultan Agungan. Selain Keraton Jogjakarta, festival yang sama juga dilakukan oleh Kasunanan Surakarta karena tradisi ini merupakan warisan dari Kerajaan Mataram.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata sahadatain, dua kalimat sahadat yang diucapkan oleh penganut Agama Islam. Menurut pendapat lain, Sekaten berasal dari nama Kiai Sekati, nama gamelan yang digunakan dalam ritual tersebut.

Pariwisata Indonesia

Tradisi Sekaten pertama kali dilakukan pada masa Kerajaan Demak, yang diteruskan oleh Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram, hingga Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Konon, pada masa Kerajaan Demak para wali menggunakan momentum hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada tanggal 12 Rabbiul Awal untuk berdakwah.

Pada tanggal tersebut akan dikisahkan tentang perjalanan nabi terakhir menurut kepercayaan agama Islam. Untuk menarik minat dan mengumpulkan masyarakat, maka para wali memainkan gamelan yang merupakan kesenian favorit masyarakat Jawa pada masa itu.

Tradisi Sekaten dimulai dengan prosesi Miyos Gangsa, yaitu ritual keluarnya Gamelan Sekati Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu yang akan diletakkan di sebelah selatan Masjid Gedhe dan Kanjeng Kiai (KK) Nagawilaga yang akan ditempatkan di sisi utara Masjid Gedhe. Kedua gamelan itu akan dimainkan dari pagi hingga malam terus-menerus selama tujuh hari.

Pariwisata Indonesia

Salah satu rangkaian festival ini yang diadakan di hari kelima adalah acara Numplak Wajik. Wajik merupakan camilan yang berasal dari beras ketan, gula merah, dan santan kelapa. Acara Numplak Wajik merupakan rangkaian acara membuat lima gunungan besar yang berisi bahan makanan yang nantinya akan diarak saat acara Grebeg Mulud setelah sebelumnya dibacakan doa di Masjid Gedhe. Kelima gunungan tersebut adalah gunungan putra, gunungan putri, gunungan gepak, gunungan darat, dan gunungan pawuhan.

Numplak wajik hanya boleh dilakukan oleh abdi dalem Keraton dan dilaksanakan di Istana Magangan. Uniknya, selama pembuatan tumpak wajik, ada beberapa orang yang melakukan ‘kenthongan’ yaitu orkestra yang menggunakan alat musik kayu seperti kenthongan dan lesung (alat penumbuk padi). Hal itu dipercaya untuk mengusir pengaruh-pengaruh jahat yang ingin datang dan mengganggu.

Pariwisata Indonesia

Di hari ke tujuh, Sri Sultan akan menuju ke halaman Masjid Gedhe untuk menyebarkan udhik-udhik (beras, biji-bijian, dan uang logam) di tiga tempat, yaitu Pagongan Kidul, Pagongan Lur, da di dalam Masjid Gedhe.  Peristiwa ini merupakan momen dimana Sultan bertemu langsung dengan rakyatnya. Setelah melakukan udhik-udhik, ritual selanjutnya adalah Kondur Gangsa dimana kedua Gamelan Sekati di kembalikan ke tempatnya di dalam Keraton Jogjakarta.

Pariwisata Indonesia

Setelah prosesi tersebut, Sri Sultan akan mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Serambi Masjid Gedhe dengan mengenakan simping dan rangkaian bunga di telinga, sebagai tanda bahwa sang sultan akan selalu mendengarkan keluhan dan aspirasi rakyat. Setelah ritual ini, akan dilakukan Grebeg Mulud yang merupakan puncak Festival Sekaten dan menandakan berakhirnya tradisi tahunan ini.

Grebeg Mulud dimulai dengan parade para pengawal Keraton yang terdiri dari 10 unit bernama: Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijero, Surokarso, dan Bugis yang mengenakan seragam kebesaran masing-masing.

Pariwisata Indonesia

Dulu, pasar malam menjadi salah satu hiburan yang ikut meramaikan Festival Sekaten. Namun, pada tahun 2019, Sultan melarang kehadiran pasar malam tersebut. Pasalnya, menurut sejarah, pasar malam pada Festival Sekaten pertama kali diinisiasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang ingin memecah perhatian warga. Sehingga, tidak semua warga datang dan mendengarkan pembacaan kisah Nabi Muhammad SAW, sebagian justru asyik menikmati hiburan pasar malam.

Meskipun demikian, Festival Sekaten tetap menjadi tradisi yang dinanti oleh masyarakat Jogjakarta serta wisatawan baik domestik maupun luar negeri. Pada tahun ini, seharusnya Festival Sekaten akan dimulai pada tanggal 23 hingga 29 Oktober tahun ini. Namun, belum ada pemberitahuan resmi dari pihak Keraton Ngayogyakarta maupun Kasunan Surakarta tentang digelar atau tidaknya Festival Warisan Kerajaan Demak ini.(Nita)