Jejak Central Station Amsterdam di Tanjung Priok

stasiun tanjung priuk

Pariwisata Indonesia—Hai Gaaees!

Bangunan yang dikenal sebagai Stasiun Tanjung Priok ini adalah saksi bisu peninggalan Belanda yang tersisa.

Bangunan dan sejumlah material di dalamnya  masih asli. Dominasi desain klasiknya masih kental terasa saat kami memasuki Stasiun Tanjung Priok, yang berada di wilayah Jakarta Utara ini. Lokasinya tepat di seberang Pelabuhan Tanjung Priok yang hingga kini masih menjadi salah satu gerbang primadona ekonomi di Indonesia.

Namun demikian, keberadaan Stasiun Tanjung Priok di masa lampau juga sempat menunjukkan kegemilangannya. Dahulu, Stasiun ini merupakan pintu Gerbang transportasi Hindia-Belanda, bahkan merupakan stasiun termegah di Asia Tenggara pada zamannya.

Sayang, pemerintah sebelumnya seakan tidak peduli dengan keberadaan stasiun ini, padahal balutan sejarah yang menyelimutinya begitu kuat. Baru di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Stasiun yang sempat menjadi tempat tingga sejumlah tunawisma itu, dipugar dan di aktifkan kembali fungsinya, tepatnya sekitar 2009. stasiun tanjung priuk

Stasiun Tanjung Priok dibangun  pada 1885. Namun, karena kegiatan pada zaman itu semakin bertambah maka pada 1914 stasiun ini diperluas. Sekarang luas bangunannya mencapai sekitar 3.600 meter persegi.

Bangunan yang didirikan pada masa pemerintahan Gubernur Jendral A.F.W. itu memiliki sentuhan nuansa seni tinggi dari pembuatnya. Langit-langit bangunannya benar-benar mengadopsi arsitektur stasiun kereta di Eropa masa lampau.

Memasuki area peron kami sempat terkesima, karena  melihat  hampir semua tiang dan atapnya ini masih asli dan banyak kemiripan dengan Centraal Station di Amsterdam. Bedanya, Centraal Station di Amsterdam memiliki 18 jalur sedangkan Tanjung Priok hanya memiliki 8 jalur.

Beberapa kereta seakan tengah  berlindung di bawah atap baja yang sangat megah dengan bentuk setengah silinder dan didominasi barisan kaca, bersama latar yang sangat cantik dan romantis. Suasana itulah yang sempat  melahirkan decak kagum dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke stasiun ini beberapa waktu lalu.

“Stasiun Tanjung Priok sempat ditutup selama 9 tahun dan kini dibuka kembali sejak 13 April 2009, bangunan ini sudah merupakan konservasi namun tetap mempertahankan bentuk aslinya. Awalnya stasiun  ini juga dijadikan  sebagai tempat transit warga barat yang datang ke Batavia dan sekitarnya,” kata Kepala Stasiun Tanjungpriok, Atin Supriaitin kepada Pariwisata Indonesia.

Pada awal abad 20 banyak pejabat atau warga Belanda yang tiba di Batavia dari Pelabuhan Tanjung Priok. Karena dahulunya Stasiun Tanjung Priok juga menyediakan ruang yang berfungsi untuk menunggu keberangkatan kapal laut, dimana para pengunjung bisa menginap di sana.

Menginap? Ya, dulu di lantai dua Stasiun Tanjung Priok ini terdapat penginapan yang banyak di gunakan oleh penumpang yang datang dari luar negeri. Kebanyakan dari mereka sedang menunggu jadwal keberangkatan kereta, semacam transit.

Memang, ini juga sempat melihat dari dekat sejumlah ruangan antic, elegan dan masih terpelihara dengan baik, diantaranya dapur yang lengkap dengan lemari makanannya, ruang kecil yang mirip dengan lift namun menggunakan tali untuk mengantar bahan makanan, ruang dansa tempo dulu, kantor, ruang resepsionis, kamar hotel dan toilet VVIP yang masih dipertahankan ornamen dan perlengkapannya. stasiun tjg priuk Kami sekan terpana dengan semua kemegahan dan keindahan stasiun yang didirikan oleh pekerja berbangsa Eropa itu. Kami jug sempat ketika tahu kalau stasiun ini memiliki ruang bawah tanah (bunker) yang dapat dilalui melalui  lorong gelap serta sempit dan curam yang digenangi air setinggi mata kaki. Namun belum diketahui apa fungsi bunker di stasiun ini. Pihak stasiun pun belum bisa memastikan lebih lanjut akan keberadaan bunker tersebut,  sebelum ada ‘sinyal’ dari bidang purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta Pemprov DKI untuk mengetahuinya lebih lanjut.

Memang dalam beberapa literatur dan bukti secara fisik, bunker bertebaran di Batavia khususnya pada tahun 1940-an, saat perang dunia kedua, mungkin ada hubungannya dengan bunker di stasiun ini. Tapi ada yang bilang kalau bunker di Stasiun Tanjung Priok merupakan lorong panjang yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dan Stasiun Tanjung Priok. Bisa jadi.

Tapi keberadaan stasiun ini merupakan aset yang harus dijaga kelestariannya, bukan hanya sebagai daya tarik wisatawan, tapi sebagai bukti sejarah kalau negeri ini pernah melampaui masa pahit dan  kegemilangan. (PI)