Situs Gunung Padang, Karya Seni Terpendam Peradaban Purba

Situs Gunung Padang. Sumber Foto : cnn

Pariwisata Indonesia—Hai Gaaees!

Berada di Situs Gunung Padang jangan kaget jika menemukan kumpulan Balok-balok batu yang bertebaran. Ternyata, usia bebatuan ini sudah tua sekali. Tertarik untuk kesini, lokasinya berada di ketinggian 885 m dpl, di Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Destinasi yang satu ini merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan dari zaman Megalitikum. Oh ya, lokasi wisatanya berbukit-bukit dan sedikit curam. Tak mudah untuk dijangkau.

Kompleksnya menghampar luas dan memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi.

Sejauh mata memandang, panorama alam menghijau dan udaranya sejuk sekali. Untuk luas kompleks situs, pada bagian utamanya seluas 900 m², dan berada di ketinggian 885 m dpl.

Sementara buat luas secara keseluruhan destinasi wisata ini sekitar 3 ha. Wajar saja jika destinasinya, disebut-disebut sebagai punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Rumor yang berkembang di masyarakat, mereka meyakini reruntuhan bebatuan ini berkaitan dengan kisah Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran yang bermaksud membangun istana dalam semalam. Bersama pasukan dan masyarakatnya mengumpulkan balok-balok batu alami dari sekitar Gunung Padang.

Sayangnya, upaya tersebut gagal karena fajar telah menggagalkannya sehingga bebatuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang itu dibiarkan berserakan di atas bukit.

Asumsi yang dibangun masrakat setempat bahkan dipercaya bebatuan yang berserakan tersebut sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia atau belum dibentuk oleh tangan manusia. Karena alasan itu, masyarakat mengkramatkan lokasi ini.

Bebatuan ini jumlahnya sangat banyak dan tersebar hampir menutupi bagian puncak Gunung Padang. Penduduk sekitar menamakan 5 teras di gunung ini dengan nama-nama bernuansa Islam, yaitu: Meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog (tempat duduk) Eyang Swasana, Sandaran Batu Syeh Suhaedin (Syeh Abdul Rusman), Tangga Eyang Syeh Marzuki, dan Batu Syeh Abdul Fukor.

Berkaitan umur Situs Gunung Padang, terjadi silang pendapat. Ada sejarawan yang berpendapat dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu.

Pendapat arkeolog yang lain, situs ini diperkirakan sudah jauh lebih tua dari itu. Diduga umurnya 2500-400 SM. Penelitian didasarkan dari bentuk monumental megalit dan catatan Bujangga Manik.

Disebut oleh Arkeolog itu, kalau Bangsawan dari Kerajaan Sunda dari abad ke-16 menuliskan suatu tempat Kabuyutan (tempat leluhur yang dihormati orang Sunda), ada di hulu Sungai Cisokan. Tentunya, sejalur dengan situs Gunung Padang.

Indonesia boleh berbangga hati, bila pendapat tersebut benar. Artinya, situs Gunung Padang diyakini sezaman dengan bangunan Piramida di Mesir. Dengan demikian, sudah tentu, bangunan yang tampak mengampar telah ada sebelum dibangunnya Candi Borobudur. Sudah pasti, lebih tua dari Machu Picchu di Peru.

Jika diperhatikan bangunan punden berundaknya seperti terbuat dan berbahan dasar mirip sedimen vulkanik yang tiap ukurannya tidak sama satu dengan lainnya. Mengamati bebatuan yang berserakan disini, juga merasakan kekaguman dan takjub.

Selain keindahan panorama alam yang memesona, berdiri di tengah-tengah bebatuan terasa ada sesuatu yang berbeda. Apakah perasaan ini sebagai tanda lokasinya kental aroma mistis. Tapi pikiran juga, melayang-layang untuk bertanya, dari mana batu-batuan ini berasal?