Museum Gedung Perundingan Linggarjati

Museum Gedung Perundingan Linggarjati

Perjalanan Panjang sang Saksi Bisu Perjuangan

Berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, tentu tidak lepas dari proses yang dilakukan para pahlawan. Mereka telah berjuang tidak hanya dengan senjata api, tapi juga dengan diplomasi. Bahkan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, para pemuda tetap berjuang agar kemerdekaan bangsa ini diakui.

Museum Linggarjati

Museum Linggarjati, foto: yukpigi.com

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengadakan berbagai perundingan untuk mengukuhkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu perundingan yang tercatat di dalam sejarah bangsa ini adalah Perundingan Linggarjati. Perundingan yang belangsung pada tanggal 15 November 1946 itu berisi:

  1. Pengakuan status de facto RI atas Jawa, Madura, dan Sumatera oleh Belanda.
  2. Pembentukan negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat (RIS)
  3. Pembentukan Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai kepala negara
  4. Pembentukan RIS dan Uni Indonesia-Belanda sebelum 1 Januari 1949
Museum Linggarjati

Museum Linggarjati, Kuningan. foto: knginfo.com

Perundingan antara pemerintah Indonesia dan Belanda itu dilakukan di sebuah tempat yang berada di kaki Gunung Ceremai. Lokasi yang berada di daerah Linggarjati, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat itu dipilih karena pada saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perundingan di Jakarta maupun Yogyakarta (ibukota sementara RI).

Gedung yang berada di lahan seluas 2,4 hektar ini, memiliki sejarah alih fungsi yang panjang. Awalnya, bangunan ini masih berupa gubug yang dimiliki oleh Ibu Jasitem (1918). Pada tahun 1921, rumah itu mengalami perobakan menjadi bangunan semi permanen oleh seorang Belanda  bernama Tuan Tersana. Tahun 1930, bangunan yang sudah permanen itu dimiliki oleh Van Ost Dome, yang kemudian mengubahnya menjadi Hotel Rustoord pada tahun 1935.

Museum Linggarjati

Museum Linggarjati, foto: merah-putih,com

Saat pendudukan Jepang, tepatnya tahun 1942, hotel ini berubah nama menjadi Hotel Hokay Ryokan. Setahun kemudian, gedung ini kembali berubah fungsi menjadi markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan dapur umum Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Hingga di tahun 1945, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, banguan ini berubah kembali menjadi hotel dengan nama Hotel Merdeka.

Saat agresi militer Belanda II, tepatnya tahun 1948, gedung ini sempat beralih fungsi menjadi markas Belanda. Setelah pasukan Belanda pergi sepenuhnya dari Indonesia, gedung ini beralih fungsi menjadi gedung SD Negeri Linggarjati (tahun 1950-1975). Baru pada tahun 1976, gedung ini diresmikan sebagai museum dan bangunan bersejarah. Wow, perjalanan yangn panjang, bukan?

Museum Linggarjati, kuningan

Museum Linggarjati, Kuningan

Gedung Perundingan Linggarjati dibangun dengan gaya arsitektur Belanda yang didominasi dengan jendela dan pintu yang lebar. Saat masuk ke dalam gedung, Sobat Pariwisata akan dibawa ke dalam napak tilas perundingan. Kita bisa menemukan diorama, foto, benda peninggalan lain, serta kursi dan meja yang ditata mirip ketika perundingan berlangsung.

Selain ruangan perundingan, Sobat Pariwisata juga bisa melihat kamar-kamar yang digunakan para delegasi. Penataan kamar hingga perabotan, dibuat semirip mungkin seperti saat berlangsungnya perundingan.

Museum Linggarjati, kuningan

Museum Linggarjati, Kuningan

Pengunjung bisa dengan mudah menjangkau Gedung Perundingan Linggarjati dengan angkutan umum dari Kota Cirebon maupun Kota Kuningan. Gedung ini buka setiap hari dari pukul 07.00-15.00 (weekday) dan pukul 08.00-17.00 (weekend). Hanya dengan uang 3.000 rupiah, Sobat Pariwisata bisa malakukan napak tilas salah usaha diplomatik yang dilakukan oleh para pendahulu bangsa ini.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )