Omo Hada

Rumah Tahan Gempa dari Nias
Foto: arsitag,com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, lokasi yang berdekatan dengan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menyebabkan Nias menjadi salah satu daerah di Indonesia yang sering kali diguncang gempa bumi. Gempa bumi yang berkekuatan 5 hingga 9 skala richter di Nias telah menghancurkan banyak rumah masyarakat.

Namun, ternyata ada rumah yang tetap berdiri kokoh meski berkali-kali diguncang gempa. Penasaran dengan rumah tahan gempa ini?

Pariwisata Indonesia
Foto: ruangarsitek,id

Omo hada adalah rumah adat Suku Nias. Sobat Pariwisata bisa menemukannya terutama di Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan. Di sini, masih terdapat sekitar 130an omo hada yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Rumah ini membuktikan ketanggapan nenek moyang Suku Nias dalam membangun rumah tahan gempa.

Pada awalnya, nenek moyang Suku Nias tinggal di pohon-pohon dan gua. Omo hada diyakini merupakan pengaruh dari para pendatang yang memasuki Pulau Nias.

Omo Hada di Desa Bawomataluo memiliki desain rumah panggung dengan bentuk persegi. Rahasia rumah tahan gempa ini terletak pada tiang-tiang penyangganya. Tiang-tiang ini tidak ditanam ke tanah, melainkan dipasang di atas susunan batu. Ketika terjadi gempa tiang-tiang ini akan mengikuti gerakan horizontal tanah.

Selain itu, konstruksi rumah ini juga menggunakan sistem knok down atau pasak. Tidak ada satu pun paku yang digunakan untuk menyambungkan satu kayu dengan kayu lainnya. Ketika gempa terjadi, sambungan kayu-kayu ini akan bergerak dinamis.

Jumlah tiang penyangga yang digunakan untuk membangun omo hada bervariasi. Ada yang bisa mencapai 60 buah. Jumlah tiang yang digunakan juga menunjukan berapa ekor babi yang harus dikurbankan saat pembangunan rumah tersebut. Tiang-tiang ini ada yang disusun dengan bentuk huruf X (disebut diwa) yang berfungsi untuk menahan rumah di bagian kolong dan tiang yang disusun tegak lurus yang menopang dan memagari seluruh kolong rumah.

Salah satu keunikan omo hada adalah jarak rumah dengan rumah tetangga. Di satu sisi, dinding rumah akan berhimpit dengan dinding tetangga. Sementara di sisi lain, terdapat ruang kosong yang memberikan jarak dengan rumah di samping. Ruang kosong ini digunakan sebagai akses keluar masuk dari dua rumah tersebut. Di sinilah pintu masuk omo hada berada.

Omo hada dibangun berjajar dan saling berhadapan, menyisakan ruang kosong luas di bagian tengah. Ruang kosong ini digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat, seperti menjemur hasil panen, pertunjukan tari tradisional, hingga lokasi susunan batu yang digunakan untuk lompat batu.

Seperti rumah ada lainnya, bahan yang digunakan untuk membangun omo hada berasal dari alam. Omo hada dibangun dengan material kayu untuk pondasi, kerangka, dan dinding, serta rumbia untuk atap. Seiring perkembangan zaman, beberapa atap rumbia telah diganti dengan bahan seng karena lebih mudah didapatkan dan lebih tahan lama.

Di bagian depan omo hada terdapat kisi-kisi yang digunakan sebagai jendela dan interaksi dengan lingkungan luar. Sementara di bagian atap, terdapat bukaan yang menjadi sumber cahaya serta sirkulasi udara.

Omo hada hanya memiliki dua pembagian ruang yang sederhana. Satu ruang utama yang menjadi publik area digunakan untuk kumpul keluarga hingga menerima tamu. Ruang kedua adalah ruang privat yang didesain membentuk sebuah kamar.

Seperti rumah panggung lainnya, ruang kosong di bawah omo hada digunakan sebagai tempat penyimpanan. Seiring perkembangan zaman, beberapa masyarakat menggunakan bagian ini sebagai tempat untuk menjalankan usahanya, seperti menjahit atau mengukir kayu.

Hal unik lain yang bisa ditemukan di omo hada adalah beberapa batu yang disusun horizontal di depan rumah. Batu-batu ini diletakkan sebagai pengingat pemilik rumah bahwa manusia tidak akan hidup abadi dan akan mengalami kematian.

Untuk mempercantik omo hada, terdapat ukiran-ukiran di bagian dindingnya. Motif yang digunakan umumnya adalah motif flora, fauna, dan bulatan.

Selain omo hada, di Desa Bawomataluo juga terdapat omo sebua atau omo nifolasara. Rumah ini juga merupakan rumah tradisional Nias. Hanya saja penggunaannya dikhususkan untuk pemimpin adat atau pemimpin negeri. Sebagai rumah pemimpin adat, omo sadea memiliki sedikit perbedaan dari omo hada. Rumah ini hanya terdapat satu buah dan terletak di bagian tengah desa.

Jika pintu pada omo hada terletak di samping, pintu masuk omo sebua terletak di bawah kolong. Hal ini sebagai simbol bahwa setiap tamu yang hendak berkunjung harus tunduk dan hormat pada pemimpin adat serta peraturan-peraturan adat yang berlaku.

Selain itu, omo sebua tidak hanya memiliki kisi-kisi sebagai jendela. Rumah juga memiliki jendela besar yang memiliki desain bukaan engsel. Hal ini menjadi salah satu bukti kemajuan teknologi nenek moyang Suku Nias pada masa itu.

Pada tahun 2011, omo hada ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara. Jika mengunjungi Pulau Nias, pastikan Sobat Pariwisata mengunjungi rumah tahan gempa ini, ya! (Nita)