Pariwisata Indonesia, Efek Semakin Meluasnya Pandemi Virus Corona Bagi Industri Pariwisata

sumber foto: indozone.id

Pariwisata Indonesia—Hai Gaaees!

Dikutip dari kronologi.id, menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), akibat pandemi virus corona ini, sekitar 50 juta orang akan kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata di seluruh Dunia.

Kondisi ini, kata Oktaf, akan berdampak pada sektor penunjang pariwisata lainnya. Misalnya, para pengusaha hotel, restoran, dan maskapai penerbangan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Efeknya seperti simpul yang mengikat sampai ke daerah-daerah, termasuk Gorontalo.

sumber foto: kronologi.id

Oktaf mengungkapkan, akibat melemahnya sektor pariwisata akibat pandemi virus corona, perusahaan penerbangan mulai mengurangi intensitas terbangnya akibat penumpang yang hampir gak ada lhoo Gaaees.

Hal yang sama juga terjadi di sektor pendukung lainnya seperti perhotelan. Akibat wabah ini, beberapa hotel di Gorontalo mencapai okupansi hotelnya tidak sampai 50 persen (30-40 persen).

“Salah satu hotel di Gorontalo okupansinya tidak sampai 50 persen, padahal normalnya itu 60 persen okupansinya itu yang paling rendah ya,” ungkap dia.

Sektor pendukung pariwisata lainnya yang terkena imbas pandemi corona adalah bidang usaha mikro kecil menengah (UMKM). Keterlibatan UMKM sebagai penyedia layanan dan produk pendukung pariwisata akan sangat berpengaruh terhadap pengembangan sektor pariwisata.

Akan tetapi dengan kondisi seperti sekarang ini, menurut Oktaf, para pelaku UMKM juga akan mengalami defisit penghasilan karena kurangnya pengunjung yang datang berwisata dan membeli produk mereka.

“Belum kita berbicara pemandu wisata gak ada job, biro perjalanan tidak ada orderan, UMKM apalagi. Lebih kena lagi. Orang belanja pia itu kan rata-rata orang dari luar,” ujarnya.

Berharap Insentif

Industri pariwisata merupakan industri yang paling terdampak penyebaran virus ini. Semua lini dalam industri pariwisata Indonesia tersungkur sejak ketakutan terhadap corona menyebar hingga ke daerah-daerah.

Semakin lama kondisi ini berlangsung, bukan gak mungkin pernyataan World Travel and Tourism Council (WTTC) akan terjadi. 50 juta pekerja industri pariwisata yang menggantungkan hidupnya dari kunjungan wisatawan akan kehilangan mata pencaharian sebagai penyambung kebutuhan hidup sehari-hari.

Oktaf berharap, pemerintah mengambil langkah dalam menangani hal ini dengan mengajak pelaku usaha duduk bersama. Gak Cuma itu, pemberian stimulus atau intensif dirasa perlu dilakukan sebagai solusi yang benar-benar menjawab persoalan.

“Kita berharap ada insentif dari pemerintah, seperti beberapa yang sudah ditetapkan. Kan banyak cicilan juga. Kemudian keringanan pajak. Itu yang kami inginkan. Karena kita sudah gak menghasilkan apa-apa. Dan kita harus wajib bayar ini itu. Termasuk karyawan,” kata dia.

“Intinya ada kebijakan pemerintah yang membuat kita pekerja industri pariwisata tetap terjaga eksistensinya,” pungkasnya.

#LawanCorona #JagaKesehatan #JanganPanik

#PariwisataIndonesia #CintaIndonesia