Murka Gunung Tambora Tahun 1815, Terus?

Murka Gunung Tambora Tahun 1815, Terus?

Ternyata cantik, lembut dan memesona pernah meletus, ngeri!

Murkanya Gunung Tambora

Sambungan, ( Klik! ) | Gunung Tambora meletus tiga kali sebelum murkanya di tahun 1815:

  1. Letusan pertama diprediksi tahun 3910 SM ± 200 tahun,
  2. Letusan kedua prediksinya pada tahun 3050 SM dan 740 ± 150 tahun.
  3. Dan letusan ketiga memiliki karakteristik letusan yang sama.

Sebelum meletus di tahun 1815, Gunung Tambora alami ketidakaktifan dalam beberapa abad. Menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, peneliti berkesimpulan dan punya analisa dampak dari meletusnya Gunung Tambora. Ia menyebutkan dengan istilah gunung berapi tidur. Tepatnya pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi paling dahsyat, murka Gunung Tambora. Kaldera gunung Tambora gemuruh dan menghasilkan awan hitam. Letusan diikuti dengan suara guruh yang terdengar hingga ke Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh juga terdengar sampai ke pulau Sumatra pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan. Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Situs resmi historia.id sebutkan dalam Instagram@historiadotid, yukk saksikan:

Dalam catatan ditulis, pukul 7:00 malam tepatnya pada tanggal 10 April, letusan gunung ini kian dahsyat. Tiga lajur api terpancar dan bergabung, berbalas-balas. Seluruh pegunungan habis dilalap. Berubah jadi gulungan api yang meluluh lantak apa saja yang dilewati. Tepat pukul 8:00 malam, batuan apung berdiameter 20 cm mengangkasa dan menghujani. Lalu pada pukul 9:00-10:00 malam, aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, luluh lantak desa Tambora, musnah. Ledakan besar terdengar hingga sore pada tanggal 11 April. Abu tersebar sampai ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau ‘nitrat’ tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh. Baru akhirnya reda, prediksi mencatat antara tangal 11 dan 17 April 1815. Tulisan ini, melansir dari banyak sumber tentang Gunung Tambora.

“Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat,” Thomas Stamford Raffles.

Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index. Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg. Ledakan ini ciptakan kaldera berukuran 6-7 km dengan kedalaman 600-700 m. Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m². Sebelum letusan, gunung Tambora diprediksi miliki ketinggian 4.300 m, sudah tentu, jadi puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, ketinggian gunung capai 2.851 m.

Letusan Tambora di tahun 1815 adalah letusan terbesar dalam sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km. Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

Pariwisata Indonesia, Gunung Tambora

Teluk Bima dengan latar belakang pemandangan gunung Tambora di tahun 1821. Sketsa karya AJ. Bik termuat dalam C.G.C “Reinwardt Reis naar het oostelijk gedeelte.”  (Sumber Foto: historia.id)

Tim penelitian yang dipimpin oleh ahli botani Swiss, Heinrich Zollinger, tiba di pulau Sumbawa pada tahun 1847. Misi Zollinger adalah mempelajari letusan dan pengaruhnya terhadap ekosistem lokal. Ia adalah orang pertama yang mendaki ke puncak gunung Tambora. Gunung tersebut masih ditutupi kepulan asap. Ketika Zollinger mendaki, kakinya tenggelam beberapa kali injak kerak. Lapisan masih hangat seperti sulfur. Beberapa tumbuh-tumbuhan mulai tumbuh dan beberapa pohon juga ditemukan di lereng-lereng yang masih rendah. Hutan Casuarina berada di ketinggian 2.200-2.550 m. Saat itu juga didapatkan tumbuhan Imperata cylindrica(alang-alang).

Sebelum meletus sudah dulu dikenali tanda-tandanya di tahun 1812. Puncak letusan terjadi pada bulan April tahun 1815. Besar letusan masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik. Karakteristik letusan membuat letusan dan setelahnya lubang utama menganga, aliran piroklastik menyebabkan korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera.

Pada Letusan ketiga iklim global terdampak. Aktivitas Tambora baru terhenti pada tanggal 15 Juli 1815. Tetapi sejarah juga mencatat pada bulan Agustus tahun 1819. Murkanya tidak sehebat tahun 1815, kembali meletuskan letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh sertai gempa susulan. Dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815. Susulan berikutnya, skala kedua pada skala VEI. Meletus kembali tahun 1880 ± 30 tahun, Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.

Instagram@jeff.adventures membagikan cerita dan keseruannya saat memulai dan berada di puncak.

Pada musim panas tahun 2004, tim dari Universitas Rhode Island, Universitas North Carolina di Wilmington, dan direktorat vulkanologi Indonesia, dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson, memulai sebuah penggalian arkeologi di gunung Tambora. Setelah enam minggu, tim tersebut menggali bukti adanya kebudayaan yang hilang yang musnah karena letusan gunung Tambora. Situs tersebut terletak 25 km sebelah barat kaldera, di dalam hutan, 5 km dari pantai. Tim tersebut harus melewati endapan batu apung vulkanik dan abu dengan ketebalan 3 m.

Tim tersebut menggunakan radar penembus tanah, cari-cari lokasi rumah yang terkubur. Mereka menggali kembali rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk perunggu, peralatan besi dan artifak. Desain dan dekorasi artifak memiliki kesamaan dengan artifak dari Vietnam dan Kamboja.

Uji coba dilakukan menggunakan teknik karbonisasi memperjelas bahwa mereka terbentuk dari pensil arang yang dibentuk oleh panas magma. Semua orang, rumah dan kebudayaan dibiarkan seperti saat mereka berada tahun 1815. Sigurdsson menyebut kebudayaan ini sebagai Pompeii dari timur.

Berdasarkan artifak yang ditemukan, yang mayoritas benda perunggu, tim menyatakan bahwa orang-orang tersebut tidak miskin. Bukti sejarah menunjukan bahwa orang di pulau Sumbawa terkenal di Hindia Timur sebagai penghasil madu, kuda, kayu sepang (caesalpinia sappan), memproduksi dye merah, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan pengobatan. Catatam sejarah memberikan penjelasan diketahui produktif dalam bidang pertanian.

Pariwisata Indonesia, Artefak yang ditemukan

Sumber: National Geographic

Penemua arkeologi memperjelas bahwa ada kebudayaan yang hancur akibat letusan tahun 1815. Sebutan Kerajaan Tambora yang hilang juga disebut oleh media-media asing. Dengan penemuan ini, Sigurdsson bermaksud untuk kembali ke Tambora tahun 2007 untuk mencari sisa desa, dan berharap dapat menemukan istana. Pandangan lain Murkanya Gunung Tambora, baca, Klik:  1). ; 2). dan 3).

Pariwisata Indonesia. Dampak Gunung Tambora

Jejak rumah yang terkubur di bawah pasir dan temuan. Pasir dari endapan awan panas dari letusan Gunung Tambora 1815. Sisa-sisa kayu dan kerangka rumah jadi arang. Sumber: Johnston, 2012 dan ekliptika.

Penutup

Terdapat dua jalur pendakian untuk mencapai kaldera gunung Tambora. Rute pertama dimulai dari desa Doro Mboha yang terletak di sisi tenggara gunung Tambora. Rute ini mengikuti jalan beraspal melalui perkebunan kacang mede sampai akhirnya mencapai ketinggian 1.150 m di atas permukaan laut. Rute ini berakhir di bagian selatan kaldera dengan ketinggian 1.950 m yang dapat dicapai oleh titik pertengahan jalur pendakian. Lokasi ini biasanya digunakan sebagai kemah untuk mengamati aktivitas vulkanik, cuma perlu satu jam sampai ke kaldera. Rute kedua dimulai dari desa Pancasila. Ada di sisi barat laut gunung Tambora. Rute kedua ini, menuju puncak atau mendekati kaldera dapat dicapai cukup berjalan kaki. Akses tercepat dan lokasinya mudah, ketimbang jalur lain.

Apa tanggapan kamu lihat foto netizen dalam aksinya ini, kepoin instagramnya aja, yuuk!

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah menegaskan peta mitigasi bahaya gunung Tambora. Dua zona yang dinyatakan adalah zona bahaya dan zona waspada. Zona bahaya adalah daerah yang secara langsung terpengaruh oleh letusan: aliran piroklastik, aliran lava dan jatuhnya piroklastik lainnya. Daerah ini, termasuk kaldera dan sekelilingnya, meliputi daerah seluas 58,7 km². Orang dilarang tinggal di zona berbahaya. Zona waspada termasuk daerah yang mungkin dapat secara langsung terpengaruh oleh letusan: aliran lahar dan batuan apung lainnya. Luas dari daerah waspada sebesar 185 km², termasuk desa Pasanggrahan, Doro Peti, Rao, Labuan Kenanga, Gubu Ponda, Kawindana Toi dan Hoddo. Sungai yang disebut sungai Guwu yang terletak di bagian selatan dan barat laut gunung Tambora juga dimasukan kedalam zona waspada. Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan diprediksi akan kembali terjadi pada abad ke-20. Letusan terakhirnya terjadi pada tahun 1967, Gunung Tambora kembali murka ditandai dengan gempa-gempa, bunyi gemuruh kuat dari dalam tercatat masih dalam skala 0 VEI, berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.

Buat lebih jelas mendapatkan informasi terkini pesona Gunung Tambora silahkan hubungi, Balai Taman Nasional Gunung Tambora, TN Gunung Tambora dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Tambora yang beralamatkan di Jl. Syech Muhammad No. 5, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Kode Pos 84212. No Telp. (0373)-21919 | Fax. (0373)-21919 | Email: tntambora@gmail.com | Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDANTB), Klik!

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )