Samsuridjal Djauzi Ingatkan Dokter Bekerja untuk Kemanusiaan; Tolong Pasien COVID19, ‘dok!

umi kalsum founder dan ceo pvk group, GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA (FKUI). PROF DR DR SAMSURIDJAL DJAUZI SPPD-KAI. FACP,GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FKUI PROF. DR. ZUBAIRI DJOERBAN SP.PD-KHOM,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SAMSURIDJAL DJAUZI INGATKAN DOKTER BEKERJA UNTUK KEMANUSIAAN,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP, / Ilustrasi foto: Tangkapan Layar YouTube Akademi Pelita Desa

PariwisataIndonesia.idRedaksi mencatat! Pembentukan Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) – disingkat Pokdisus AIDS RSCM, diresmikan Maret 1986.

umi kalsum founder dan ceo pvk group, GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA (FKUI). PROF DR DR SAMSURIDJAL DJAUZI SPPD-KAI. FACP,GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FKUI PROF. DR. ZUBAIRI DJOERBAN SP.PD-KHOM,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SAMSURIDJAL DJAUZI INGATKAN DOKTER BEKERJA UNTUK KEMANUSIAAN,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP / Foto: Kompas

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP, kiprahnya ‘bekerja untuk kemanusiaan’ didampingi Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM, dan didukung sejumlah dokter untuk belajar tentang HIV-AIDS di Perancis pada 1982-1983.

Samsuridjal Djauzi Ingatkan Peran Dokter; Sampai Kapan Gelombang II Covid19 Terus Makan Korban? <<<  Sebelumnya

Sepulangnya dari sana, panggilan ‘bekerja untuk kemanusiaan’, Pokdisus menyelenggarakan sejumlah pelatihan, kajian dan penelitian tentang AIDS, memberikan layanan bagi Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA.Red) lewat Program akses diagnosis, layanan tes HIV dan terapi obat seperti Antiretroviral (ARV).

‘Bekerja untuk kemanusiaan’, melakukan pertemuan dengan perusahaan farmasi. Mereka berunding-berembuk dengan penjual ARV dan meyakinkan di November 1999, ‘harga terjangkau’. Sayangnya, harga yang dibanderol masih dirasa memberatkan pasien HIV-AIDS.

Tak puas potongan harga belum maksimal, ‘bekerja untuk kemanusiaan’, mereka mengadvokasi berbagai pihak yang memiliki pengaruh kuat di negeri ini, termasuk pemerintah.

Tahun 2004, sebagai upayanya dalam penanggulangan HIV-AIDS berbuah manis.

Pemerintah Indonesia memutuskan melakukan pelaksanaan paten agar bisa memproduksi sejumlah obat ARV di dalam negeri dengan membayar royalti ke pemilik paten. Tahun 2005, obat ARV sudah bisa diakses secara gratis!

“Saat ini, 90 persen biaya obat ARV berasal dari APBN,” ujar Samsuridjal, dikutip dari Kompas.id, Minggu (20/6). Terapi itu diakses sekitar 130.000 ODHA melalui berbagai pusat layanan kesehatan, dan 10.000 di antaranya mengakses lewat Pokdisus RSCM.

Melihat kerja keras dan gigihnya perjuangan Tim Pokdisus, mengetuk banyak lagi dokter dari berbagai spesialisasi ikut bergabung menguatkan misi mulia tersebut.

Sejalan dengan penanganan HIV-AIDS di Tanah Air dan Pokdisus. Di sisi lain, Samsuridjal dan Zubairi sudah menghasilkan banyak penelitian yang dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional.

Baca juga :  Samsuridjal Djauzi Bekerja untuk Kemanusiaan

Kedua guru besar tersebut cukup intens melakukan komunikasi dan penelitian bersama antar Negara. Berbicara di konferensi internasional atas sejumlah penelitian, penangangan, pengobatan infeksi oportunistik dan infeksi menular seksual.

Aktivitas Samsuridjal tersebut, tentu dalam konteks dokter yang ‘bekerja untuk kemanusiaan’, setuju ‘dok?

Tahun 1989, duet Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI yaitu Zubairi yang juga sekaligus menjabat Ketua Satuan Tugas (Satgas) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Samsuridjal berlanjut. Ikut juga menguatkan tokoh lainnya bernama Sri Wahyuningsih. Mereka trio YPI, pendiri Yayasan Pelita Ilmu.

Kegiatan Yayasan ini, antara lain: penyuluhan pada remaja, konseling dan tes HIV, pencegahan HIV-AIDS pada pengguna narkoba suntik, pencegahan penularan pada ibu ke bayi, serta pendampingan bagi ODHA.

“Saat ini, YPI memberikan pendampingan bagi ODHA yang usahanya terpuruk akibat pandemi untuk mendapat bantuan hibah modal dari pemerintah bagi usaha kecil dan menengah,” kata Samsuridjal.

Dia juga mengungkapkan rasa sukacitanya, perasaan tersebut disampaikan kepada Kompas, bahwa ini berita gembira. Karena, katanya, semakin banyak lagi tenaga kesehatan termasuk dokter umum bersedia terlibat dalam layanan kesehatan untuk HIV-AIDS.

Lanjutnya, di kota-kota besar stigma dan diskriminasi bagi pasien ODHA berkurang. Momok mengerikan tertular karena bersentuhan seperti berjabat tangan mulai terkikis di masyarakat dan pihak keluarga mau hidup berdampingan dengan mereka para ODHA. Ini, tidak mudah!

Kebahagiaan Samsuridjal makin lengkap, sambungnya, komunitas HIV-AIDS menjamur hingga ke pelosok Indonesia.

Mereka itu para relawan maupun penggiat HIV-AIDS mau untuk terjun memberikan pendampingan dan mendorong program pemberdayaan ODHA. Super sekali!

 umi kalsum founder dan ceo pvk group, GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA (FKUI). PROF DR DR SAMSURIDJAL DJAUZI SPPD-KAI. FACP,GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FKUI PROF. DR. ZUBAIRI DJOERBAN SP.PD-KHOM,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SAMSURIDJAL DJAUZI INGATKAN DOKTER BEKERJA UNTUK KEMANUSIAAN,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP / Ilustrasi foto: Tangkapan Layar YouTube Akademi Pelita Desa

Berkat perjuangan dirinya didukung seluruh mitra kerja samanya dan dibantu relawan serta penggiat HIV-AIDS atau komunitas, pasien HIV-AIDS tertolong, dan bisa kembali beraktivitas seperti orang normal. Mereka yang mampu, tak lagi berobat ke luar negeri.

Hebatnya, keluarga besar Samsuridjal mendukung pengorbangan dan perjuangan sang kepala keluarga ‘bekerja untuk kemanusiaan’. Dia seorang Dokter yang mendahulukan kepentingan orang lain dan adakalanya berjuang harus dari kocek sendiri.

Luapan bahagia Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP, diulas lengkap oleh Kompas hampir sepekan yang lalu, karena dia berjuang sejak awal mulanya HIV-AIDS terjangkit, menyebar dan merebak di Indonesia.

‘Bekerja untuk kemanusiaan’ tak melulu mengurusi orang sakit!

Untuk hal tersebut, YPI memiliki kegiatan lain, yakni Pelita Desa sejak 2002 silam, memberdayakan remaja desa agar mampu memajukan daerahnya.

Menempati lahan di Desa Ciseeng, Parung, Kabupaten Bogor, Pelita Desa menjadi tempat pelatihan ketrampilan dan wirausaha bagi remaja desa; budi daya ikan, ternak, dan perkebunan; serta sarana perkemahan dan outbound bagi anak sekolah dan masyarakat umum.

Baca juga :  Jokowi Saat Munas KADIN VIII Terangkan Kunci dari Pertumbuhan Ekonomi Tekan Covid-19 Sampai Tuntas

Dana yang didapat untuk membiayai kegiatan YPI, juga dialokasikan untuk meningkatkan wawasan remaja desa. Salah satu caranya, mengajak mereka studi banding ke negara tetangga.

Di masa pandemi, aktivitas outbound terhenti. Sebagai gantinya, para pemuda desa mengekspor ikan dan tanaman hias ke berbagai negara.

Mereka menawarkan lewat internet, juga melayani pembelian skala kecil langsung ke konsumen. Kegiatan tersebut turut mendapatkan dukungan dari para alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) terkait persyaratan karantina dan kemasan pengiriman untuk sampai ke negara tujuan.

Kiprah lainnya, Samsuridjal aktif memberikan edukasi melalui webinar, dan pembekalan bagi para remaja desa dan anak muda di Tanah Air. Salah satunya, melalui saluran resmi yang ia siarkan di YouTube AKADEMI PELITA DESA.

Imbauan ‘bekerja untuk kemanusiaan’ adalah potret dalam kehidupan sehari-harinya.

Dia juga tercatat, masih aktif dalam mengajar di program S2 dan S3, menguji mahasiswa S3 FKUI maupun FK universitas lainnya.

Sampai detik ini, di usianya yang tak muda lagi. Redaksi berulang kali meminta waktu mewawancarainya. Baik di sela jadwal praktik dokter, tempatnya mengajar dan berbicara melalui sambungan telepon.

Baginya publisitas memberikan efek kurang baik atas pengabdiannya dalam mengingatkan tugas seorang dokter sejatinya ‘bekerja untuk kemanusiaan’.

Diwanti-wantinya! Profesi dokter begitu agung, suci dan mulia. Keteladanan dokter dengan ia kehilangan rasa kemanusiaan tidak bisa disebut sebagai dokter yang baik.

Sebagai informasi, Samsuridjal praktik di RSCM, dan RS Kanker Dharmais. Aktif menulis di kolom Konsultasi Kesehatan di Harian Kompas yang diasuhnya sejak November 1993. Menjabat Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta dari tahun 2001 sampai 2005.

Kegiatan lainnya, ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Satgas tersebut diresmikan tahun 2003, dan telah melatih sekitar 3.000 dokter umum agar dapat menyediakan layanan vaksinasi di tempat praktik.

“Selain pada anak, vaksinasi penting bagi orang dewasa. Sebagai gambaran, angka kematian pada orang lanjut usia akibat pneumonia di RSCM mencapai 20 persen. Artinya, dari 10 lansia yang dirawat akibat pneumonia, dua di antaranya tidak bisa diselamatkan nyawanya. Padahal bisa dicegah dengan vaksin pneumokokus,” pungkasnya.

Menutup tulisan redaksi menyematkan dua pesan dari kata-Kata bijak yang menginspirasi, menguatkan imbauan Samsuridjal, dokter itu ‘bekerja untuk kemanusiaan’.

Manusia itu asalnya dari tanah, makan hasil tanah, berdiri di atas tanah, dan akan kembali ke tanah. Lalu kenapa masih bersifat langit?

Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.

Sudah dibaca, ‘dok? Datang dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah itulah nama kepanjangan Buya Hamka. Lahir dari Desa Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908.

Sudahkah kita? “Menjadi Dokter yang Profesional, Berakhlak Mulia dan Mencintai Tanah Air”….

Tak bisa dipungkiri, pengabdian dokter di hari-hari ini menguras pikiran dan tenaga. Sudah pasti menguji kesabaran, karena mereka garda terdepan menolong pasien COVID-19.

Redaksi Pariwisata Indonesia meneruskan imbauan Samsuridjal sejatinya dokter ‘bekerja untuk kemanusiaan’. Tolong pasien pilih-pilih atau membeda-bedakan manusia dan penyakit. Hal itu, diwanti-wantinya!

Hingga pandemi COVID-19 selesai diatasi, publik menaruh harapan besar di pundak tenaga medis, dan mengabdi atas nama bangsa dan negara.

Ini kerja suci, tolong jangan dikotori! Kita menyadari betapa berat perjuangan tim medis pakai Alat Pelindung Diri (APD).

Semangat, dok! Tetap sabar. Banyaknya korban yang terus bertambah, memohon tidak putus asa. Tolong pasien COVID-19, ‘dok!

(Eh)