Saptoto Nugroho, Sosok Penting di Balik Nama Toto & Stars (Seri-1)

“Jangan saling menyalahkan. Terlebih, mau menjatuhkan. Pendapat saya, bagi yang dijatuhkan belum tentu ia salah. Sebaliknya, apa yang kita pahami ‘benar’ belum tentu pula itu yang paling baik,” kata Saptoto Nugroho yang akrab dipanggil “Toto” adalah pendiri grup musik Toto & Stars. Toto Dulunya Pengamen di Pelataran Jogja. Kini, Sukses Mengais Rezeki di Ibukota.
Umi Kalsum Founder dan CEO Media PVK Grup,17 AGUSTUS 1945,GRUP MUSIK TOTO & STARS,HARI KEMERDEKAAN INDONESIA,HARI ULANG TAHUN KEMERDEKAAN RI YANG KE 76,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA PVK GRUP,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SAPTOTO NUGROHO
Saptoto Nugroho Pendiri Grup Musik Toto & Stars (Foto: Website PariwisataIndonesia.ID)

PariwisataIndonesia.ID – Pria kelahiran Jogjakarta, 2 Mei 1984, yang akrab dipanggil “Toto” adalah sosok seniman, musisi, koreografer dan segudang kebisaan. Bakat dan talentanya tumbuh kembang secara alamiah.

Redaksi PariwisataIndonesia.ID berhasil mewawancarai Toto yang bernama lengkap Saptoto Nugroho di kediamannya di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Kamis (19/8). Artikel ini dibuat dalam dua seri bersambung yang saling melengkapi satu sama lain.

Namanya tersohor di Tanah Air lewat Toto & Stars, dan redaksi diterima langsung olehnya juga disambut hangat di tengah kesibukan dan padatnya jadwal kegiatan Toto & Stars hingga akhir Desember 2021.

Sekaligus menanyakan makna kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia yang diperingati setiap tahun pada 17 Agustus. Hal tersebut, terkait dengan konten dan produk digital Radio Republik Indonesia (RRI) pada beberapa waktu lalu.

Saptoto Nugroho adalah pendiri dan pemilik grup musik Toto & Stars, dan dulunya besar di Jogjakarta. Lalu, hijrah ke Ibukota pada awal tahun 2007. Kini, dikaruniai 2 anak laki-laki. Anak pertamanya bernama Bintang. Sementara, adiknya bernama Lintang. Selisih usianya terpaut tiga tahun. Sang kakak, saat ini berusia 6 tahun.

Redaksi mencatat, ia baru saja menyelesaikan produksi konten terkait peringatan 17 Agutus berjudul “Mengheningkan Cipta” dan sudah tayang di kanal YouTube RRI NET OFFICIAL.

Bahkan sebelumnya, kiprah “Toto & Stars” dalam mengisi kemerdekaan Indonesia juga sudah terendus redaksi melalui penelusuran rekam jejak di media sosial seperti YouTube dan Instagram.

Redaksi langsung mengonfirmasikan keterlibatan Toto & Stars, yang muncul di kanal YouTube Felix Official dan Instagram chikajessica88. Mengomentari hal itu, Toto menjawabnya singkat, “Ibu Pertiwi memanggilnya.”

Dalam keterangannya, Toto mengajak sejumlah musisi dan seniman untuk membantu Polda Metro Jaya terkait lagu berjudul “Vaksin Merdeka.”

Berikut wawancara redaksi bersama salah satu musisi besar Indonesia yang menyebut dirinya pernah menjadi pengamen jalanan di pelataran Jogjakarta.

“Kemerdekaan itu, saat diri kita sudah terbebas dari berbagai bentuk keterbelengguan. Namun, merdeka pun memiliki konsekuensi bagi individunya. Tolong dicatat pula, untuk menerapkan sejumlah kebijakan yang mengatur hal apa saja yang dibolehkan dan dijalani, maupun mana pula yang musti ditinggalkan. Itu sah-sah saja,” kata Toto membuka percakapan saat diwawancara oleh redaksi PariwisataIndonesia.ID, pada Kamis (19/8).

Mengawali wawancaranya terucap kata “keterbelengguan” menurutnya, harus terbebas dari rasa ketidakadilan. Sekaligus belenggu atas hak-hak orang lain yang diabaikan. Apalagi ketidaksetaraan, itu sangat tidak dibenarkan.

“Saya lebih menyoroti esensialnya. Menggarisbawahi makna dari kata ‘merdeka’ itu sendiri,” tegasnya.

Toto menilai, kata “merdeka” harus pula mengadopsi nilai-nilai keluhuran dari “mbah-mbah” terdahulu yang menekankan budi pekerti, lebih luas lagi sampai ke tingkat ulil amri.

Lebih lanjut, dirinya mengingatkan semua pihak agar sesama anak bangsa dapat hidup berdampingan dengan tidak semaunya sendiri.

“Jangan saling menyalahkan. Terlebih, mau menjatuhkan. Pendapat saya, bagi yang dijatuhkan belum tentu ia salah. Sebaliknya, apa yang kita pahami ‘benar’ belum tentu pula itu yang paling baik,” ucapnya.

Untuk itu, katanya, rambu-rambu dibuat sebagai aturan bernegara. Dia menambahkan, hal tersebut tidak membelenggu kemerdekaan itu sendiri.

Konteks rambu-rambu yang ia maksudkan adalah kebijakan yang menjadi imbauan pemerintah sebagai tolak ukur dan perlu disepakati secara bersama-sama. Lanjutnya, merdeka bukan untuk maunya sendiri tapi untuk semua warga Indonesia.

“Merdeka bukan semata-mata untuk satu orang atau kelompok tertentu. Semua menjadi merdeka, karena mengerti batasan yang dimiliki dan penerapan ‘budi pekerti’ jangan diartikan sesempit itu. Keluhuran budi pekerti dari peninggalan nenek moyang kita, makna filosofisnya lebih luas lagi daripada itu,” tafsirnya.

“Diatur mana yang salah dan benar itu maunya yang seperti apa?,” sambungnya.

Dia pun berpesan dengan mengajak semua insan di muka bumi untuk menjauhkan dari saling menyakiti satu sama lain.

Saat mewawancarainya, redaksi menangkap kesan, Toto terbiasa menggunakan kalimat-kalimat tidak langsung. Padahal, ia sosok musisi. Setiap menjawab pertanyaan dari redaksi mirip seorang budayawan dan aksennya, medok Jawa.

Tutur bahasanya terstruktur, sistematis dan santun. Sikapnya tidak tinggi hati. Jawaban yang disampaikannya menari-nari dan berbicara pun memakai istilah-istilah kerajaan Jawa. Menelisik makna filosofis pernyataannya, berasal dari peradaban nusantara di masa lalu.

Untuk mencerna ucapan Toto, redaksi kerap meminta ulang perkataannya atau mendeskripsikan pandangannya agar lebih disederhanakan, antara lain: ini maksudnya tentang apa, ini berkaitan dengan hal apa, pesan ini menjelaskan apa.

Pasalnya, waktu yang diberikannya begitu terbatas dan jadwal Toto super padat. Walaupun begitu, dari raut wajahnya tetap terlihat santai. Sama sekali tidak memberikan kesan sangat sibuk. Padahal, rekan kerjanya tampak asik dan serius merampungkan pekerjaan.

Pada kesempatan tersebut, redaksi ditunjukkan oleh tim yang tergabung dalam grup musik Toto & Stars yang turut mendampingi wawancara, yaitu deretan panjang aktivitas Toto sampai 31 Desember 2021.

Seusai mendapatkan penjelasan tersebut secara kasat mata, Toto enggan dan meminta kepada redaksi agar sejumlah tokoh ternama atau orang besar di negeri ini telah nyaman kepada Toto & Stars, “mohon jangan diekspos,” pintanya.

Sejalan dengan itu, ia menceritakan, ibu baginya adalah sosok istimewa dan segalanya.

“Semua yang saya jalani tak lepas dari nasihat orangtua. Sesibuk apapun, saya selalu mewajibkan untuk menghubungi Ibu saya melalui sambungan telepon dan kalau sudah berbicara bisa berjam-jam,” ungkapnya.

Berlanjut ke wawancara selanjutnya. Ini pesan Toto untuk generasi muda dalam mengisi kemerdekaan.

Ucapan Toto (kalimat demi kalimat meliuk elok dan selalu menguntai serta mengalir spontan.Red), diaduk-aduk tiap kata yang terucap dan menari dengan indahnya. Ia memang piawai untuk itu atau ucapan Toto bak “Barista dan Coffee Master” (orang yang andal dalam mengolah kopi.Red).

“Generasi muda adalah mereka yang hadir setelah orang tua. Sederhananya begini, apa bedanya ketika seorang ayah berpesan dan mengharapkan kehidupan anaknya hari ini atau esok nanti lebih baik daripada dirinya. Itu pesan saya, silakan diartikan,” simpulnya.

Redaksi juga meminta pendapat Toto, hal apa saja yang bisa merekatkan kebangsaan di tengah pandemi Covid-19. Pertanyaan berikutnya, pesan-pesannya untuk mengajak masyarakat bersikap optimis, karena banyak pihak menyebut-nyebut, hidup di zaman sekarang semakin serba sulit.

“Ojo to tarung atau ojo gelut (terjemahan: jangan bertengkar.Red),” ujarnya.

Lagi dan lagi! Redaksi kesulitan memahami maksud perkataannya, dan kembali meminta penjelasan pernyataannya tersebut.

“Perbedaan itu tak perlu dirisaukan. Sebab, makna Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan semboyan Indonesia sudah terang benderang tertulis dalam lambang negara, yaitu Garuda Pancasila,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, ia meyakinkan, meski berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa ini tetap satu kesatuan.

Ditambahkannya, merajut keragaman budaya, suku, agama, ras, dan antar golongan yang berbeda-beda oleh para pendahulu kita sudah dibingkai melalui semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Indonesia ditakdirkan sebagai bangsa yang multi-etnis dan Bhinneka Tunggal Ika berperan sebagai wadah dalam menyatukan segala perbedaan, sesimpel dan semudah itu,” yakinnya.

Dengan demikian, katanya, perbedaan jelas boleh dan dibenarkan, “Situasi tersebut sudah ada sejak zaman dulu. Bhinneka Tunggal Ika itu atinya berbeda-beda tapi tetap berbeda-beda… Hahahaha,” tandasnya.

Redaksi pun bertanya kepada Toto soal “job” yang dikerjakan grup musik Toto & Stars hingga akhir tahun ini.

“Alhamdulillah dan Barakallah. ‘Toto & Stars’ mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dan institusi swasta maupun yang datang dari individu. Mereka menunjuk pekerjaan-pekerjaan seperti audio dan visual, termasuk membuatkan lirik lagu sampai ke konsernya. Ini semua berkat Gusti Allah dan doa dari orang tua,” katanya. (Soet/Ss/Eh)

Bersambung >>>  Saya Cuma Seorang Pengamen (Seri-2)