Selain Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Yogyakarta juga menjadi tempat tinggal peninggalan bersejarah lainnya yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Candi Banyunibo. Sebuah candi Buddha yang menyimpan nilai sejarah, keagamaan, dan arsitektur yang unik serta bukti adanya toleransi dan harmoni kehidupan beragama.
Dengan berbalut suasana yang tenang dan alami, Candi Banyunibo menyajikan pemandangan alam pedesaan yang cantik dan mempesona. Indahnya panorama perbukitan yang asri, candi ini dikelilingi hamparan sawah dan perkebunan.

Candi Banyunibo merupakan candi Budha, hal ini ditandai dengan ciri khas arsitektur Buddha seperti adanya stupa di bagian atap, relief bernuansa Buddhis, serta arca-arca yang dahulu menghiasi relung candi. Bahkan, terdapat sebuah relief yang menggambarkan Dewi Hariti, yang menjadi tradisi Budha yang merupakan symbol kesuburan dan pelindung anak-anak.
Hampir di semua bagian Candi Banyunibo memiliki hiasan dan relief. Ukiran relief kala-makara dan bentuk relief lainnya turut mempercantik ornamen candi ini. Pada dinding kaki candi memiliki beberapa bidang yang dihiasi dengan pahatan berupa motif tumbuh-tumbuhan yang muncul dari pot bunga. Selain stupa, candi ini juga dilengkapi ornamen yang beragam. Hiasan-hiasan inilah yang membuat Candi Banyunibo terlihat indah.
Candi Banyunibo yang menghadap ke barat ini, juga memiliki 6 candi pendamping atau biasa disebut candi perwara yang mengelilingi candi utama, tepatnya di sisi selatan dan timur. Candi-candi perwara ini memiliki bentuk seperti stupa Buddha dengan ukuran pondasi 4,8 x 4,8 meter. Di sebelah utara candi, ada sebuah tembok yang melintang dari barat ke timur dengan panjang sekitar 65 meter.

Candi Banyunibo merupakan candi tunggal yang memiliki ukuran kecil, yaitu 15,3 x 14,25 meter dengan tinggi 14,25 meter. Sementara tinggi atap candi sekitar 2,75 meter dan memiliki ruangan yang dapat dimasuki pengunjung, namun terbatas.
Kompleks candi terdiri atas satu candi utama yang dahulunya dikelilingi beberapa candi perwara. Bangunan utama menghadap ke arah barat dengan denah berbentuk hampir persegi. Pada dinding luar terdapat berbagai relief dan relung yang dahulu menjadi tempat arca Buddha maupun tokoh-tokoh penting dalam ajaran Buddha. Sementara pada bagian pintu masuk terdapat hiasan kala-makara. Ini merupakan elemen dekoratif khas arsitektur klasik Jawa.

Pada posisi sebelah barat candi, terdapat pintu masuk. Sebelah kanan dan kiri tangga candi tersebut terdapat singa yang melambangkan penjaga candi. Susunan candi Banyunibo secara keseluruhan adalah satu candi induk dengan dilengkapi candi perwara dalam bentuk stupa-stupa.
Sejarah Candi
Nama Banyunibo berasal dari bahasa Jawa, yaitu banyu yang berarti air dan nibo yang berarti menetes. Diyakini nama tersebut merujuk pada keberadaan sumber air atau tetesan air yang dahulu banyak ditemukan di sekitar kawasan candi.
Sayangnya saat ini sudah tidak terlihat lagi sumber air yang menetes secara jelas. Namun, kawasan sekitar candi masih didominasi persawahan, kebun, dan lahan hijau yang menunjukkan kondisi alam yang subur sejak masa lampau. Sebagian arkeolog mengaitkan nama tersebut dengan adanya jaladwara, yaitu saluran pembuangan air pada bangunan candi yang berfungsi mengalirkan air hujan.

Candi Banyunibo merupakan peninggalan Mataram Kuno yang memiliki nilai sejarah penting, bukti berkembangnya agama Buddha di Jawa pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Dinilai arsitektur dan unsur keagamaan yang ditemukan, Candi Banyunibo diyakini berasal dari pemerintahan Wangsa Syailendra yang dikenal sebagai pendukung agama Buddha di Jawa.
Hadirnya Candi Banyunibo ini menunjukkan bahwa kawasan Prambanan pada masa Mataram Kuno tidak hanya menjadi pusat perkembangan agama Hindu, tetapi juga Buddha. Hal ini juga menjadi salah satu bukti adanya toleransi dan harmoni kehidupan beragama di Jawa pada masa lampau.

Terletak di Dusun Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Candi Banyunibo berdekatan dengan kompleks Ratu Boko, Candi Barong, dan Candi Ijo. Sekitar 5,6 km kea rah selatan dari Candi Prambanan.
Candi Banyunibo ditemukan pada tahun 1940-an dengan kondisi reruntuhan di dalam tanah. Akhirnya penelitian pun dilakukan dan hasilnya memperkirakan bahwa candi ini dulunya memiliki satu candi utama dan candi perwari (pendamping). Lalu pada tahun 1943, untuk pertama kalinya candi ini dipugar. Sayangnya Candi Perwara kondisinya sangat hancur tidak bisa dipugar. Kemudian pada tahun 1976 pemugaran yang kedua dilakukan dan selesai pada tahun 1978.

Untuk menuju lokasi Candi Banyunibo, dari pusat Kota Yogyakarta memerlukan waktu sekitar 35 hingga 45 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi. Rute yang paling umum adalah melalui Jalan Solo menuju Prambanan, ikuti arah menuju Ratu Boko sebelum berbelok ke kawasan Bokoharjo. Jalanannya aman dan nyaman karena beraspal dan dapat dilalui mobil maupun sepeda motor.
Keindahan arsitektur, relief, serta lokasinya yang berada di tengah kawasan bersejarah menjadikan Candi Banyunibo destinasi menarik bagi pencinta sejarah, budaya, maupun fotografi.(NA)


































