Pemerintah Identifikasi Dampak pada Fasilitas Pariwisata

Pemerintah Identifikasi Dampak pada Fasilitas Pariwisata NTT

Sejumlah tempat wisata terkena imbas pascagempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)pada 15 Agustus 2026 lalu.  Informasi mengenai kondisi destinasi, akomodasi, aksesibilitas, transportasi, dan fasilitas pendukung terus dihimpun dan diperbarui berdasarkan perkembangan di lapangan.

Pascagempa bumi, sejumlah destinasi wisata di NTT mulai di data.  Kerusakan terjadi dimana-mana.  Seperti di Kabupaten Manggarai Barat, terlihat sejumlah akomodasi terdampak dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari retakan ringan hingga kerusakan plafon, fasad, dan fasilitas tertentu.

Akomodasi banyak yang mengalami kerusakan hingga struktur bangunan akhirnya ditutup sementara, dan tamunya telah dipindahkan pihak hotel ke akomodasi lain yang tidak terdampak. Satu tamu mengalami cedera dan telah memperoleh penanganan medis.

Pemerintah Identifikasi Dampak pada Fasilitas Pariwisata
Wae Rebo

Sementara pada sektor kuliner, dua restoran teridentifikasi rusak ringan, sementara restoran di kawasan Gorontalo, Puncak Waringin, dan Waecicu tidak mengalami kerusakan signifikan dan beroperasi normal.

Pada daya tarik wisata, kerusakan tercatat pada landmark sign Loh Liang Komodo, kerusakan minor di Puncak Waringin, serta keretakan dinding gedung TIC Ngalor Kalo. Goa Rangko dan Batu Cermin tidak mengalami kerusakan; Goa Rangko masih ditutup sementara, sedangkan Batu Cermin telah dibuka kembali dan menerima 132 kunjungan pada 16 Agustus 2026.

Di Kabupaten Manggarai, sebanyak lima destinasi ditutup sementara, sebagai langkah kehati-hatian di tengah gempa susulan yang masih berlangsung, yaitu Wae Rebo, Nuca Molas, Kampung Todo, Ruteng Pu’u, dan Liang Bua.

Sementara di Kabupaten Ngada, dampak teridentifikasi pada Air Panas Mengeruda yang mengalami kekeruhan, Pantai Watulajar dengan kerusakan pada beberapa fasilitas, serta Taman Wisata Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio, Beiposo, yang mengalami rekahan permukaan tanah hingga berdampak pada altar. Pendataan tingkat kerusakan masih berlangsung.

Pemerintah Identifikasi Dampak pada Fasilitas Pariwisata
Danau Kelimutu

Longsor terjadi di Kabupaten Ende tepatnya pada dinding Kawah 1 dan Kawah 2 Danau Kelimutu. Pengunjung dievakuasi saat gempa terjadi dan kunjungan ke Taman Nasional Kelimutu ditutup sementara hingga kondisi dinilai aman. Seluruh petugas dilaporkan dalam kondisi aman.

Ruang tunggu Pelabuhan Laurens Say Maumere yang terletak di Kabupaten Sikka, merupakan bangunan berlantai dua terdampak ambruk total. Pendataan kondisi destinasi, hotel, dan infrastruktur pariwisata lainnya masih berlangsung dengan kendala keterbatasan jaringan komunikasi.

Sementara di Kabupaten Nagekeo, merupakan wilayah yang menjadi episentrum gempa ini, pendataan masih terkendala komunikasi. Informasi awal menyebutkan Hotel Pepita Mbay mengalami kerusakan parah dan sejumlah fasilitas publik terdampak. Kondisi tersebut masih membutuhkan verifikasi lanjutan oleh tim di lapangan.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi NTT melalui Keputusan Gubernur Nomor 305/KEP/HK/2026, berlaku 14 hari terhitung 15–28 Agustus 2026.(*)