3 Bangunan Bersejarah di Lampung yang Bisa Disaksikan hingga Kini

Banyak tempat di Lampung yang masih menyisahkan berbagai peninggalan yang saat ini masih bisa dinikmati. Situs-situs yang bersejarah ini tersebar di beberapa tempat di Lampung. Beberapa mungkin telah termakan usia, namun ada juga masih dilestarikan keberadaannya.

Tempat-tempat ini memiliki keberagaman bersejarah yang merepresentasikan kebudayaan dan peradaban masing-masing. Untuk itu berikut beberapa rekomendasi bangunan bersejarah di Lampung yang masih bisa disaksikan hingga saat ini:

1. Gedong Aer

Bangunan ini mulai berdiri pada Abad ke 18, lokasinya sendiri berada di Jl. Imam Bonjol Tanjung Karang Barat Bandar Lampung. Pada era ini tepatnya tahun 1827 Pemerintah Belanda yang merasa perlu memenuhi kebutuhan logistik di Lampung. Karena itu Belanda membuat sebuah menara untuk tampungan cadangan air.

Bangunan yang didirikan oleh Belanda ini kondisinya masih bagus, sehingga digunakan juga ketika masa kependudukan Jepang sebagai pemasok air utama. Dan tidak hanya itu, kokohnya bangunan ini bahkan juga masih bisa berfungsi sampai sekarang dan dikelola oleh PDAM.

2. Vihara Thay  Hin Bio

Vihara ini merupakan salah satu yang cukup bersejarah. Tempat ini didirikan sejak 1850 oleh seseorang bernama Po Heng ini menjadi vihara pertama di Lampung. Vihara ini menjadi salah satu destinasi wisata di Lampung yang cukup menari karena arsitekturnya bernuansa Tionghoa yang kental.

Vihara ini pernah mengalami kerusakan sampai pada akhirnya dibangun kembali pasca letusan gunung Krakatau dan kemudian diberi nama Kuan Im Thing. Soerang Bhikku bernama Sek Te Thi kemudian datang dari China dan menetap di Kuan Im Thing, Teluk Betung untuk membimbing upacara doa di vihara tersebut.

3. Masjid al-Anwar

Bangunan yang dibangun di atas tanah seluas 6000 meter ini bernama Masjid Al-Anwar. Bangunan ini terletak di Jalan Laksamana Malahayati. Teluk Betung Barat, masjid yang tercatat sebagai masjid tertua ini didirikan oleh Deng Sulaiman, seorang warga Lampung keturunan suku Bugis pada tahun 1888 silam.

Akibat letusan Gunung Krakatau, Masjid Al Anwar sempat rusak, namun bangunan ini kembali dibangun dan sampai saat ini masih digunakan bahkan kemudian berkembang menjadi pusat pengkajian filsafat ilmu Islam. Pada masa perjuangan kemerdekaan, masjid ini berperan sebagai basis perlawanan rakyat.