Halo, Gaes!
Libur lebaran emang paling asyik jika dihabiskan dengan berkunjung ke destinasi-destinasi Pariwisata Indonesia. Eits! Tapi, lo enggak cuma bisa menikmati panorama alam negeri ini aja, loh. Di beberapa tempat yang ada di Indonesia terdapat beragam acara budaya dan festival yang digelar dalam perayaan hari raya umat Islam ini. Salah satunya Festival Perahu Baganduang.
Perahu baganduang atau perahu beganduang merupakan salah satu tradisi yang ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Baganduang sendiri memiliki arti bergandeng, Gaes. Kalo berdasarkan artinya, lo pasti udah bisa membayangkan gambaran perahu ini, dong? Yup! Perahu baganduang merupakan gabungan dari dua hingga tiga sampan panjang yang disambung dengan menggunakan bambu.
Perahu baganduang telah digunakan sejak zaman kerajaan dimana perahu ini menjadi alat transportasi raja-raja di masa itu. Dalam perkembangannya, perahu baganduang mulai digunakan oleh masyarakat dalam tradisi manjampuit limau dimana menantu akan mengantarkan air jeruk (limau) ke rumah mertua. Air jeruk ini nantinya digunakan untuk tradisi balimau atau mensucikan diri sebelum idul fitri.
Karena mengandung nilai budaya, etika, moral dan simbol adat, manjampuit limau dengan perahu baganduang terus dilaksanakan, Gaes. Ini dilakukan untuk dapat menjaga tradisi lokal yang telah berlangsung lebih dari satu abad lalu.
Selain digunakan untuk manjampuit limau, di akhir tahun 80-an, perahu baganduang juga digunakan untuk membawa para tamu dalam lomba pacu jalur. Pacu jalur sendiri adalah perlombaan mendayung perahu yang dilaksanakan oleh masyarakat Riau.
Tepatnya pada tahun 1996, perahu baganduang pertama kali dilombakan dalam Festival Perahu Baganduang. Biasanya festival ini diselenggarakan setahun sekali pada hari minggu pertama setelah Hari Raya Idul Fitri, Gaes.

Dalam festival tersebut, perahu baganduang dihias dengan berbagai atribut atau simbol adat. Misalnya, kubah yang menjadi perlambang bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat Lubuk Jambi tidak terlepas dari norma agama Islam.
Simbol agama enggak cuma diwakili oleh kubah, Gaes. Perahu baganduang juga dihiasi dengan lima buah payung yang melambangkan rukun Islam. Payung ini juga menjadi perlambang bahwa masyarakat Lubuk Jambi dipimpin dan dinaungi oleh seorang raja dan empat penghulu.
Simbol ani-ani sebagai alat yang digunakan untuk menuai padi pada zaman dahulu juga turut serta menghiasi perahu baganduang. Tapi, ani-ani bukan satu-satunya simbol yang melambangkan alam pertanian, Gaes. Daun kelapa, padi, hingga labu-labu yang digunakan untuk tempat air minum para petani pun menjadi simbol pertanian yang menjadi mata pencaharian masyarakat Lubuk Jambi.
Selain simbol pertanian, ada pula simbol peternakan yang diwakili dengan tanduk kerbau. Simbol ini melambangkan masyarakat Lubuk Jambi yang hidup dalam alam peternakan. Selain itu, tanduk kerbau juga melambangkan keperkasaan dan keberanian masyarakat Lubuk Jambi dalam menghadapi segala tantangan.
Simbol selanjutnya yang ada di perahu baganduang adalah cerano (wadah untuk menyimpan lembaran daun sirih) yang menjadi lambang persembahan kepada ninik mamak, sopan santun, serta pembuka kata dalam sebuah setiap upacara adat. Kemudian ada juga cermin yang melambangkan introspeksi diri yang harus dilaksanakan setiap masyarakat yang akan melakukan mandi balimau.
Perahu baganduang juga dihiasi dengan janur, kain panjang, dan umbul-umbul berwarna-warni dengan arti masing-masing, seperti kuning yang melambangkan pemerintahan, hijau melambangkan syarak atau agama, merah melambangkan kekuatan nelayan, serta hitam yang melambangkan masyarakat adat.
Dengan segala atribut tadi, udah kebayang, kan, Gaes, kemeriahan perahu-perahu baganduang yang mengikuti festival ini. Fyi, pada tahun 2017, perahu baganduang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Riau. Keren banget, kan?
So, kalo penasaran dengan Festival Perahu Baganduang, manfaatin libur lebaran lo buat berkunjung dan menikmati keseruan di destinasi Pariwisata Indonesia yang satu ini, ya.
Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022





































Leave a Reply