Tradisi Blangikhan merupakan salah satu kekayaan budaya takbenda masyarakat Lampung yang masih dilestarikanhingga saat ini. Kegiatan ini bukan ritual sekadar mandi bersama, melainkan sebuah simbol penyucian diri yang sarat akan nilai spiritual, sosial, dan historis. Blangikhan adalah cermin dari kearifan lokal masyarakat Lampung, yang mengajarkan bahwa kesucian hati adalah modal utama dalam beribadah. Ini merupakan perpaduan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Melestarikan Blangikhan berarti menjaga warisan moral untuk generasi masa depan.
Masyarakat Lampung percaya, sebelum memasuki bulan puasa, seseorang harus berada dalam kondisi yang bersih—baik secara lahiriah maupun batiniah. Mereka pun kerap melakukan suatu tradisi khusus, untuk mensucikan tubuh mereka, agar saat menjalankan ibadah saat bulan puasa, tubuh dalam keadaan bersih dan suci.

Kegiatan rutin yang sudah menjadi tradisi khas masyarakat Lampung ini namanya Blangikhan. Secara etimologi, kata Blangikhan berasal dari bahasa Lampung yang berarti ‘mandi’ atau ‘menyucikan diri’. Tradisi ini biasanya dilaksanakan satu kali dalam setahun, tepatnya beberapa hari menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Tradisi Blangikhan menjadi sarana simbolis untuk ‘melunturkan’ dosa, khilaf, dan sifat buruk agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan hati yang jernih.
Tradisi Blangikhan, atau yang juga dikenal sebagai Blangiran, merupakan kearifan lokal masyarakat Lampung berupa ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Prosesi ini dilakukan melalui penyiraman diri menggunakan air dari tujuh mata air sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.

Dilandasi nilai-nilai spiritual yang kuat, tradisi ini mengajak masyarakat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, memperkuat kesiapan mental dan spiritual, serta menata diri dalam menyambut ibadah Ramadan. Pelaksanaan yang berlangsung secara turun-temurun ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Akar Sejarah dan Filosofi
Sejarah tradisi Blangikhan berakar dari perpaduan antara kepercayaan lokal masyarakat Lampung kuno dengan ajaran Islam yang masuk kemudian. Kegiatan ini juga dianggap menjadi warisan leluhur. Hal ini ditandai ketika sebelum Islam menyebar luas, masyarakat Lampung sudah memiliki tradisi penyucian diri di sungai sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan sang pencipta.
Kemudian seiring masuknya Islam, tradisi ini tidak dihilangkan, melainkan diselaraskan. Maknanya digeser menjadi simbol pertobatan dan persiapan diri menyambut bulan Ramadan.

Dalam tradisi Lampung, air dianggap sebagai sumber kehidupan dan media pembersih yang paling murni. Dengan mandi di aliran sungai yang mengalir, diharapkan segala keburukan di masa lalu ikut hanyut terbawa arus. Hal ini dianggap selaras dengan filosofi air.
Tata Cara Pelaksanaan Blangikhan
Ritual Blangikhan tidak dilakukan sembarangan. Terdapat urutan dan perlengkapan khusus yang harus dipersiapkan:
- Persiapan Bahan Alami
Masyarakat menggunakan bahan-bahan tradisional yang disebut sebagai ‘Pangir’ atau ‘Langikh’. Bahan-bahan ini meliputi:
- Jeruk Nipis/Jeruk Purut: Untuk membersihkan badan dan memberikan aroma segar.
- Daun Pandan & Bunga Setaman: Memberikan wewangian alami.
- Santan Kelapa: Terkadang digunakan untuk keramas agar rambut bersih dan mengkilap.
- Akar-akaran: Jenis akar tertentu yang dipercaya memiliki khasiat kesehatan.
- Prosesi Doa Bersama
Sebelum mandi dimulai, tokoh adat atau tokoh agama akan memimpin doa bersama. Tujuannya adalah memohon keselamatan, keberkahan, dan ampunan kepada Allah SWT.
- Ritual Mandi
Setelah doa, warga akan turun ke sungai atau kolam secara bersama-sama. Mereka membasuh seluruh tubuh menggunakan ramuan pangir tadi. Suasana biasanya sangat ramai namun tetap khidmat. Di beberapa daerah, prosesi ini diawali dengan membasuh wajah tiga kali sebagai simbol kejujuran dalam berucap dan melihat.
- Makan Bersama (Sekura/Babuka)
Setelah bersih, tradisi ini biasanya ditutup dengan makan bersama atau disebut dengan cuak mengan istilah lainnya nyeruit atau mangan jejama. Hal ini dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Tradisi Blangikhan memberikan dampak yang luas, tidak hanya dari sisi religius, tetapi juga sosial dan lingkungan. Kegiatan ini mempererat tali silaturahmi, karena menjadi ajang berkumpulnya warga, mulai dari anak-anak hingga lansia. Momen ini juga menghapus sekat sosial dan memperkuat rasa persaudaraan (guyub).
Pada umumnya, ritual ini dilakukan di sungai, secara tidak langsung masyarakat didorong untuk menjaga kebersihan aliran sungai. Sungai yang kotor tentu tidak layak digunakan untuk ritual penyucian diri. Hal ini menciptakan masyarakat harus selalu menjaga dan melestarikan lingkungan terutama sungai-sungai disana.
Di tengah gempuran modernisasi, tradisi Blangikhan menjadi pengingat bagi generasi muda Lampung akan identitas dan akar budaya mereka. Untuk itu, saat ini pemerintah daerah sering mengemas Blangikhan sebagai festival budaya yang menarik wisatawan mancanegara maupun domestik, yang pada akhirnya meningkatkan ekonomi kreatif lokal.(*)




































