Pariwisataindonesia.id – Rumah Tambi merupakan salah satu rumah adat dari provinsi Sulawesi Tengah. Mencermati arsitektur rumah adat ini berasal dari kebudayaan suku Lore sebagai mayoritas masyarakat yang menempati di wilayah itu.
Tatkala memperhatikan bentuk bangunannya, maka rumah adat ini tidak ubahnya seperti kebanyakan rumah adat yang ada di Indonesia, yaitu rumah tambi dibangun dengan desain dan bahan-bahan sederhana.
Fungsi rumah tambi bagi masyarakat suku Lore adalah sebagai tempat tinggal raja, rakyat biasa, dan rumah ibadah. Sayangnya, kini rumah tambi tidak banyak digunakan, perihal itu dikarenakan selain kurang menguntungkan dari segi konstruksi, apalagi terkait soal kesehatan.
Kendati demikian, rumah tambi tetap menjadi produk budaya mewakili identitas masyarakat setempat. Hal ini karena sifat rumah adat yang menjadi alat representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku atau masyarakat.
Perbedaan rumah tambi yang dihuni oleh kaum bangsawan, terlihat agak berbeda dengan yang ditempati kaum marginal. Sebab, ‘tambi’ milik bangsawan umumnya memajang kepala atau tanduk kerbau di bagian atap depan dan belakang rumah adat ini, sementara pada rumah rakyat biasa tidak.
Selain itu, rumah tambi kuno juga tak memiliki jendela atau ventilasi. Sehingga, satu-satunya lubang masuk udara hanya terdapat pada bagian depan sebagai pintu masuk. Namun, pada tambi yang lebih modern telah dibuat juga jendela sederhana sebagai ventilasi.
Keunikan lainnya dari tambi, yaitu ventilasinya kurang memadai, buntut dari itu, udara maupun sinar matahari jadi sulit masuk. Wajar saja bila akhirnya seluruh ruangan di dalam tambi tampak dalam keadaan gelap. Padahal, penghuni rumah tambi melakukan berbagai aktivitas di rumah tersebut, termasuk memasak. Terlebih lagi saat memasak asap yang dihasilkan oleh pembakaran terperangkap di seluruh rumah adat ini dan menyebabkan masalah pernapasan. Alhasil, desain rumah tradisional ini mulai ditinggalkan masyarakat.
Alas rumah adat Tambi terbuat dari balok-balok yang disusun, sedangkan pondasinya tersusun dari batu alam. Rumah Tambi tidak berkamar dan penghuninya biasanya tidur di ruang tengah dengan menggunakan tempat tidur dari kulit kayu.
Struktur rumah Tambi adalah berupa rumah panggung dengan tiang penyangga yang pendek dan tingginya tidak lebih dari satu meter. Tiang penyangga ini jumlahnya 9 buah serta saling ditempelkan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan pasak balok kayu.
Tiang-tiang ini biasanya terbuat dari bahan dasar kayu bonati, yaitu sejenis kayu hutan yang bertekstur kuat dan tidak mudah lapuk. Tiang-tiang tersebut menyangga rangka lantai yang terbuat dari papan sebagai dasar. Papan disusun rapat dan luas lantai rumah Tambi adalah sekitar 5 meter dikali 7 meter.
Untuk ruangannya, rumah Tambi hanya memiliki satu ruangan saja yaitu ruang utama. Meskipun hanya satu ruangan besar tapi memiliki fungsi yang bermacam-macam.
Kegiatan sehari-hari mulai dari memasak, tidur, menerima tamu, semuanya dilakukan hanya dalam satu ruangan tersebut. Untuk melengkapinya, diberi dua bangunan tambahan di luar rumah sebagai penunjang kegiatan lainnya yang tidak bisa langsung dilakukan di rumah utama, yaitu Pointua dan Buho atau Gampiri. Pointua adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat penumbuk padi, yang di dalamnya terdapat sebuah lesung panjang bernama Iso dengan jumlah 4 tiang.
Sementara Buho adalah bangunan yang mirip dengan rumah Tambi utama namun memiliki dua lantai. Lantai bawah berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, sementara lantai atas berfungsi sebagai lumbung padi, sebelum dibawa ke Pointua untuk ditumbuk dan diproses lebih lanjut.
Bagian atap rumah tambi berbentuk prisma dengan sudut kecil pada bagian paling atas sehingga terlihat tinggi dan dapat menaungi rumah secara keseluruhan. Atapnya terbuat dari ijuk atau daun rumbia yang memanjang ke bawah sekaligus berfungsi sebagai dinding luar rumah.





































Leave a Reply