Halo, Gaes!
‘Kapan nikah?’ emang jadi pertanyaan paling meresahkan saat bertemu dengan keluarga besar di Hari Lebaran. Eits! Tapi ini enggak berlaku buat para jombloers di destinasi Pariwisata Indonesia di Sulawesi Tenggara, Gaes. Karena di sini, pertanyaan kapan nikah akan disupport dengan satu tradisi untuk para jombloers, namanya Kabuenga.
Kabuenga merupakan tradisi untuk mencari pasangan hidup di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Konon, tradisi ini bermula dari legenda La Lili Alamu yang merupakan putra mahkota dari Kerajaan Kambode di Pulau Kapota.
Ketika sudah beranjak dewasa dan merasa siap untuk menikah, La Lili Alamu mendatangi Raja Kambode untuk menyampaikan niat meminang seseorang. Putra mahkota ini menyebutkan nama satu gadis dari kalangan rakyat jelata, yaitu Wa Siogena. Seperti yang bisa lo tebak, tentu saja Raja Kambode menolak mentah-mentah.
La Lili Alamu yang kecewa pun memutuskan untuk merantau, Gaes. Raja dan ratu tidak keberatan karena mereka berharap perjalanan tersebut akan membuat La Lili Alamu bertemu dengan gadis lain dengan strata sosial yang lebih baik dari Wa Siogena.
Sayangnya meski sudah bertahun-tahun merantau, La Lili Alamu belum juga menemukan gadis lain. Maka saat La Lili Alamu pulang dari perantauan, Raja Kambode pun mengadakan sebuah sayembara yang boleh diikuti oleh seluruh gadis di kerajaan tersebut. Setiap gadis harus mengumpulkan selembar Sarung Leja buatan sendiri di sebuah ayunan. Gadis yang sarungnya dipilih oleh La Lili Alamu maka akan terpilih untuk menjadi istri sang putra mahkota.
Seperti kisah-kisah lainnya, sarung buatan Wa Siogena-lah yang terpilih oleh La Lili Alamu. Padahal, sarung milik Wa Siogena ada di tumpukan paling bawah, loh. Maka Raja Kambode pun tidak bisa mengelak dan harus menerima gadis tersebut sebagai menantunya.

Meskipun berdasar dari legenda tersebut, pelaksanaan Kabuenga berbeda dengan ritual cari jodoh dalam kisah La Lili Alamu. Pada Kabuenga, gadis dan pria bujangan akan berkumpul bersama-sama untuk menjalankan serangkaian ritual untuk mencari calon pasangan mereka.
Tradisi ini dimulai dengan pembacaan doa oleh ketua adat untuk memohon keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa serta meminta agar dijauhkan dari segala musibah. Kemudian Kabuenga dilanjutkan dengan ritual kadandio sarra dimana para ketua adat berjalan mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali diikuti oleh kaum ibu serta para gadis di barisan paling belakang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan jual beli minuman. Para gadis yang mengenakan pakaian adat Wakatobi akan memberikan segelas minuman untuk pria yang disukainya. Uniknya, para pria ini enggak boleh menolak dan harus tetap membayar minuman tersebut sebagai bentuk penghargaan.
Pasubui menjadi acara selanjutnya dalam tradisi ini, dimana para pria akan memberikan sajian berupa biskuit, kue-kue, makanan, atau barang lainnya kepada gadis yang mereka sukai. Nah! Di sinilah akan terlihat gadis dan pria yang saling menyukai. Mereka yang sudah menemukan pasangan lalu diperbolehkan untuk menaiki ayunan yang ada di tengah altar.
Meskipun saat ini banyak aplikasi kencan berbekal smartphone, Kabuenga tetap menjadi tradisi favorit dan terus dilestarikan oleh masyarakat Wakatobi. Biasanya Kabuenga dilakukan setelah Idul Fitri karena pada momen tersebut, para pemuda yang merantau bisa pulang dan ikut serta dalam tradisi pencarian jodoh ini.
Eits! Kabuenga bukan cuma diikuti oleh para jombloers, loh. Pasangan yang sudah bertunangan dan akan menikah pun diperbolehkan mengikuti tradisi ini untuk ikut melestarikan budaya. Tapi, mereka akan melakukan ritual yang berbeda agar tidak ditikung oleh pihak lain. Para pengunjung juga boleh ikutan karena selain menjadi tradisi, Kabuenga juga menjadi salah satu daya tarik Pariwisata Indonesia di Wakatobi.
Fyi, sejak tahun 2022, Kabuenga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, loh. So, kalo penasaran dengan tradisi yang satu ini, gunain cuti lebaran lo untuk berkunjung ke Sulawesi Tenggara, ya Gaes ya.
Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023





































Leave a Reply