Halo, Gaes!
Saat jalan-jalan ke berbagai destinasi Pariwisata Indonesia, lo pasti bisa nemuin banyak warisan nenek moyang, baik berupa budaya, kuliner, atau kerajinan tangan. Nah! Di Sulawesi tenggara, khususnya Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah, ada satu kerajinan tangan yang wajib banget lo beli untuk cinderamata atau oleh-oleh, namanya Kamohu.
Kamohu adalah kain tenun khas Buton Tengah yang diyakini sudah ada sejak abad ke-19, Gaes. Pada masa itu, Kamohu kerap digunakan oleh keluarga Kesultanan Buton dan para tokoh adat saat menghadiri upacara-upacara adat seperti aqiqah, pernikahan, pingitan, dan lainnya.
Dalam perkembangannya, Kamuho juga dikenakan oleh masyarakat. Tapi, untuk membedakan strata sosial dan jabatan maka dibuatlah aturan penggunaan yang disadarkan pada warna kain. Selain itu, ada juga aturan motif yang menunjukan gender, loh, misalnya motif garis lurus untuk kaum wanita dan motif garuis bersilangan yang membentuk kotak-kotak untuk kaum pria.

Perkembangan Kamohu enggak hanya berhenti sampai di sana. Bersama rempah-rempah, kain tenun ini juga menjadi salah satu komoditi yang diperdagangkan oleh Belanda pada masa itu. Bahkan hingga saat ini, Kamohu pun terus diperjualbelikan dan menjadi incaran para wisatawan yang datang ke Bumi Anoa.
Enggak ada yang tahu pasti kapan dan siapa yang pertama kali membuat Kamohu. Tapi menurut cerita, konon Kamohu berawal dari kisah seorang wanita kaya raya yang memiliki alat tenun pertama dan satu-satunya di daerah Buton. Pada satu ketika, ada pihak yang ingin mencuri alat tenun tersebut, sehingga sang wanita kabur sambil membawa alat tenunnya dan bersembunyi di salah satu gua yang ada di Desa Gumanano, Kecamatan Mawasangka.
Meski setelah sekian lama, keberadaan wanita tersebut enggak bisa diketahui, Gaes. Akhirnya masyarakat pun mencoba meniru alat tenun yang dimiliki dan mulai menenun kain yang disebut kemudian Kamohu. Sst! Hingga hari ini, konon wanita tersebut belum ditemukan, loh.
Enggak seperti beberapa kerajinan tangan yang terancam punah karena modernisasi, Kamohu diyakini akan berumur panjang. Penyebabnya karena bukan hanya kain tenun ini saja yang diwariskan oleh nenek moyang, tapi juga tradisi menenunnya, Gaes.
Di desa-desa yang ada di Mawasangka, menenun menjadi keterampilan yang wajib dimiliki oleh para perempuan meskipun mereka memiliki pendidikan yang tinggi. Bahkan dikatakan, perempuan yang belum pandai menenun tidak diperbolehkan untuk turun tanah dan keluar rumah (dalam arti menikah).
Nilai ini dipegang teguh dan diwariskan secara turun temurun karena diyakini bahwa kemampuan menenun bisa menjadi bekal untuk merajut kehidupan yang akan berpengaruh pada kehidupan rumah tangga nantinya. So, kalo berkunjung ke desa-desa yang ada di Mawasangka, jangan heran kalo lo mendapati banyak ibu-ibu dan anak perempuan yang sedang menenun di samping atau di kolong rumah panggung.
Eits! Tapi kegiatan menenun ini tidak bisa dilakukan setiap hari, ya Gaes ya. Ada waktu-waktu tertentu di mana kegiatan menenun menjadi aktivitas yang dilarang, misalnya saat ada kedukaan, baik yang meninggal adalah keluarga penenun maupun warga yang tinggal di wilayah itu. Khusus di hari-hari tersebut, masyarakat tidak diperbolehkan menenun.
Oh ya, Gaes, untuk memiliki selembar kain Kamohu, lo hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 200 hingga 300 ribu. Semua tergantung motif dan kualitas bahan yang digunakan. Tapi ada juga Kamohu yang dikemas lebih kekinian dan memiliki ukuran kecil, sehingga harganya lebih terjangkau. Misalnya, selendang, syal, tas, ikat kepala, masker, hingga gantungan kunci.
Fyi, sejak tahun 2020, Kamohu sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, loh. Kalo berkunjung ke destinasi Pariwisata Indonesia di Sulawesi Tenggara, jangan lupa membeli kain tenun yang satu ini, ya Gaes ya.
Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023





































Leave a Reply