Menjaga Kearifan Lokal Tradisi Ngarengkong Kasepuhan Banten Kidul

Menjaga Kearifan Lokal Tradisi Ngarengkong Kasepuhan Banten Kidul

Tradisi Ngarengkong bukan sekedar tradisi.  Kegiatan ini dilakukan serempak dengan perasaan riang gembira yang menunjukkan sebagai penanda, bahwa panen raya telah berhasil.

Ngarengkong masih dilakukan masyarakat adat di Banten, yang menjadi tradisi tahunan Ngarengkong Kasepuhan Banten Kidul. Tradisi yang dilakukan secara turun temurun atau warisan dari nenek moyang ini, diartikan sebagai wujud dari rasa syukur sekaligus juga melestarikan kebersamaan yang dilakukan bersama-sama dengan tokoh masyarakat serta tokoh adat.

Ngarengkong adalah prosesi membawa padi-padi kering yang sudah dipanen dari sawah ke rumah, lalu ke leuit (lumbung padi adat). Asal katanya dari ‘rengkong’, yang merupakan sebutan batang bambu yang diikat ijuk di kedua sisinya.

Setiap orang memikul dua bundel dan dua bundel tersebut berisi tiga ikat atau disebut pocong tangkai-tangkai padi yang kering.

Menjaga Kearifan Lokal Tradisi Ngarengkong Kasepuhan Banten Kidul
Foto; Istimewa

Hasil panen yang disimpan tersebut tidak boleh dijual, nantinya akan digunakan untuk keperluan tatanan adat, selain itu, dapat juga digunakan bagi masyarakat yang tengah mengalami kesuasahan, dengan cara meminjam padi tersebut dan membayarkan setelah mereka panen.

Tradisi Ngarengkong masih kerap dilaksanakan oleh masyarakat adat yang berdiam di sekitar Gunung Halimun, yaitu masyarakat adat kasepuhan yang basisnya bercocok tanam, terutama masyarakat adat yang wilayahnya bercocok tanan padi, seperti wilayah Banten Kidul di sekitar Gunung Halimun.

Biasanya, pesta adat Ngarengkong juga dimeriahkan oleh penampilan seni musik kendang rampak, bobodor dan kuda adul yang di bawakan oleh warga adat setempat dan simpatisan warga luar desa.

Menjaga Kearifan Lokal Tradisi Ngarengkong Kasepuhan Banten Kidul
Foto; istimewa

Ngarengkong merupakan warisan dari leluhur yang memiliki nilai dan makna yang sangat sakral, terutama dalam menanamkan rasa persaudaraan yang lebih erat.  Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat, sikap gotong royong dan kebersamaan, serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dikarenakan panen yang melimpah ruah.

Tradisi yang juga disebut tradisi Ngunjal ini, selain dilaksanakan untuk menjalin kebersamaan, kekompakan, dan kesatuan juga untuk memperkenalkan tradisi leluhur kepada masyarakat luar.  Hal ini juga untuk menjaga kearifan lokal karena betapa pentingnya mencintai dan melestarikan budaya sendiri.(*)