Tarian Betawi, Makna dan Sejarahnya
Tari Cokek

Tarian Betawi, Makna dan Sejarahnya

Tari Betawi merupakan tarian yang berasal dari suku Betawi yang telah lama tinggal di wilayah Jakarta dan sekitarnya.  Akibat dipengaruhi akulturasi budaya Arab, Tionghoa dan Portugis, banyak tarian Betawi terinspirasi dari campuran ketiga negara tersebut.

Berikut ini adalah beberapa tarian Betawi, makna serta sejarahnya.

Tari Topeng Betawi

Tari Topeng merupakan tarian dimana si penarinya mengenakan toping kayu, yang menjadi alat utama untuk menutupi wajahnya.  Tarian ini berkembang pada tahun 1872, yang saat itu dikenal dengan Klain Maskerspel, permainan yang cukup popular kala itu.

Sejarah lainnya mencatat, Tari Topeng terinspirasi dari Tari Topeng Cirebon yang sebelumnya sudah dimainkan oleh para seniman jalanan.

Tari Topeng Betawi memiliki pola gerak tertentu yang dapat dikembangkan dengan variasi serta improvisasi dari penarinya.  Temanya pun bervariasi, seperti menceritakan legenda Betawi, hal-hal yang tengah terjadi di masyarakat serta kritik sosial. Penari akan tampil diiringi kromong tiga, gong buyung, gendang, kecrek, dan rebab.

Tarian Betawi, Makna dan Sejarahnya
Tari Topeng Betawi

Ada yang unik dari Tari Topeng Betawi ini, yaitu pada pemakaian topeng.  Topeng tersebut berbentuk wajah manusia, dengan penampakan mata yang tertutup, hidung mancung dan bibir berwarna merah.  Namun, topeng tersebut tidak memiliki tali yang dapat diikatkan ke kepala.  Agar patung dapat menempel di wajah, para penari harus mengenakan patung tersebut dengan cara menggigitnya.

Tari Topeng Betawi sering dipentaskan pada jamuan acara penting, penyambutan dan dipercaya menjadi tarian tolak bala sehingga kerap dipertunjukkan di berbagai acara kesenian hingga hajatan masyarakat setempat.

Tema yang diusung sangat variatif. Mulai dari cerita legenda, kehidupan manusia, hingga kritik sosial. Untuk alat musik pengiringnya, biasanya menggunakan rebab, kecrek, kromong tiga, gong buyung, hingga gendang berukuran besar.

Tari Cokek

Tari Cokek merupakan salah satu tarian Betawi yang cukup terkenal. Mulai berkembang sejak abad ke-19, Tari Cokek dipertunjukkan untuk menyambut tamu dari tuan-tuan Tionghoa yang datang berkunjung, dengan diiringi orkes gambang kromong.

Uniknya, make up penarinya sangat mencolok dengan riasan warna putih nan tebal. Gerakan tariannya pun identik dengan keerotisan penarinya, sama seperti Tari Ronggeng yang berasal dari Jawa Tengah dan Tari Sintren yang berasal dari Cirebon. Kedua tarian tersebut sama-sama mengajak penonton untuk ikut menari bersama. Nantinya, penari akan membelitkan selendangnya pada salah satu penonton dan penonton tidak boleh menolak ajakan menari bersama itu.

Tari Cokek biasanya dipertunjukkan untuk mengiringi tarian lainnya, seperti Tari Sembah Nyai, Tari Sirih Kuning dan lainnya. Tarian ini cukup erotis, karena penari akan mengajak penonton menari bersama dengan mengalungkan selendangnya.

Tari Nandak Ganjen

Tari Nandak Ganjen merupakan perkembangan tari kreasi Betawi yang dikembangkan pada tahun 2000. Tarian ini berasal dari percampuran budaya Tionghoa dan Betawi, yang menceritakan kisah seorang gadis yang tengah beranjak dewasa, sehingga gerakan tariannya cukup unik, energik serta kerap mengundang senyum para penonton. Selain menyuguhkan keindahan gerakan tari, tarian ini juga menyuguhkan olah suara yang memikat penonton.

Tarian Betawi, Makna dan Sejarahnya
Tari Nandak Ganjen

Nandak Ganjen dalam Bahasa Betawi artinya, Nandak yaitu menari, sementara Ganjen artinya genit. Ini menggambarkan seorang gadis remaja yang siap memasuki usia dewasa, dimana saat masa peralihan tersebut dominan dengan sifat memberontak serta genit.

Penampilan penari Tari Nandak Ganjen mengenakan kebaya yang memiliki pola tiga warna, merah, kuing dan hijau, yang dilengkapi dengan ikat pinggang emas dan selendang warna-warni. Bagian rambut dikonde dengan sumpit berwarna keemasan. Tarian ini juga percampuran budaya Tionghoa dan Betawi.

Berdasarkan sejarah, tarian ini dibuat oleh Sukirman atau lebih dikenal dengan Entong Kisam, yang terinspirasi dari sebuah pantun klasik.

Tari Lenggang None

Tari Lenggang None merupakan tarian khas Betawi yang mengandung unsur cinta, persahabatan, perjuangan dan konflik.  Tarian ini dibawakan oleh seorang wanita.

Biasanya, tarian ini juga diselipkan adegan silat, yang menunjukkan keperkasaan para wanita Betawi dalam seni bela diri. Tari Lenggang None diiringi oleh musik gambang kromong dengan busana yang didominasi warna cerah dan tambahan alat peraga seperti payung dan kipas.

Tari Zapin Betawi

Tari Zapin Betawi dipengaruhi oleh budaya Arab Timur Tengah dan campuran tarian Melayu. Kata Zapin dalam tarian ini berasal dari bahasa Arab Zafana atau Zafanan yang berarti melangkah, dan dapat pula diartikan sebagai menari. Menurut sejarah, tari tradisional ini pertama kali dibawa oleh para pedagang Arab asal Yaman alias kaum hadhrami.

Tarian Betawi, Makna dan Sejarahnya
Tari Zapin

Tari Zapin Betawi adalah jenis tarian pergaulan, yang menggambarkan akan bagaimana pergaulan yang terjadi antarwarga dengan perasaan gembira. Jadi, ketika membawakan tarian ini, harus dilakukan secara gembira karena berfungsi pula sebagai hiburan.

Semakin hari, keberadaan tari ini semakin berkembang, hingga dipergunakan sebagai media untuk menyebarkaan agama Islam di tengah masyarakat Betawi, terutama dipertunjukkan pada upacara tertentu seperti hari maulid nabi, khitanan, perkawinan dan berbagai hajatan besar lainnya.

Tari Kembang Lambang Sari

Tarian tradisional ini mengungkapkan ekspresi kegembiraan orang tua yang mengasuh anak, dengan cara bernyanyi dan menari. Ini merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh seniman Wiwiek Widiastuti dan terinspirasi dari teater Topeng Betawi berjudul Bapak Jantuk. Bahkan, pola tarian dari Tari Betawi ini pun berupa transformasi pantun bertutur, yang selalu dibawakan dalam teater khas tersebut.

Mencerigakan tentang Bapak Jantuk, kisah turun-temurun tentang kehebatan sosok Ayah yang bahagia ketika mengasuh anaknya. Ketika mengasuh, Bapak Jantuk akan selalu berbalas pantun dengan istrinya. Nah, dari dialog-dialog itulah yang menjadi inspirasi terwujudnya Tari Kembang Lambang Sari ini.

Penari yang tampil berjumlah ganjil yang menampilkan gerakan lemah gemulai dan lincah mengikuti iringan musik. Kostum yang digunakan berupa kebaya tiga pola dan bawahan kain batik khas Betawi. Untuk alat musik pengiring biasanya akan menggunakan gamelan topeng, sepasang gendang, sebuah kempul yang digantungkan, kecrek, dan gong angkong.

Tarian Betawi, Makna dan Sejarahnya
Tari Ondel-Ondel

Tari Ondel-Ondel

Ondel-Ondel merupakan mascot Kota Jakarta dan kebudayan Betawi. Boneka besar yang terbuat dari anyaman bambu dengan tinggi 2,5 meter dan diameter sekitar 0,8 meter.

Tari Ondel-Ondel terinspirasi dari boneka ondel-ondel tersebut, namun tidak menggunakannya sebagai alat bantu atau atribut.

Tari Ondel-Ondel menceritakan kebahagiaan seorang anak gadis yang baru saja diizinkan mengikuti sebuah pesta.  Pesta tersebut diramaikan dengan munculnya boneka ondel-ondel. Selain menunjukkan keceriaan masyarakat Betawi, tarian ini juga kabarnya dipercaya dapat menolak bala.(*)