Telepon

Tiga Bangunan Peninggalan Belanda yang Masih Kokoh di Aceh

Provinsi Aceh menjadi wilayah paling barat di Indonesia yang memiliki cerita sejarahnya sendiri. Tempat ini memiliki peradaban yang telah berusia berabad-abad lamanya dan dianggap sebagai awa mula penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Masyarakat Aceh juga mengetahui sejarahnya sendiri melalui berbagai bukti peninggalan bersejarah di Indonesia. Terutama bangunan Belanda ini tersebar di seluruh daerah Aceh yang akan membuktikan bagaimana keberadaan jejak kolonial di masa lampau. Berikut peninggalan peradaban tersebut:

1. Sentral Telepon Belanda

Pada tahun 1903 tempat ini merupakan satu-satunya layanan komunikasi yang dimiliki oleh Belanda ketika menjajah Aceh. Seiring waktu, pada tahun 1931 sentral telepon mulai bertambah fungsinya sebagai kantor pelayanan telepon umum.

Sewaktu penjajahan diambil alih Jepang untuk keperluan militer. Sentra telepon ini menjadi sepenuhnya milik Indonesia ketika kemerdekaan. Menjelang tahun 1960 berubah fungsi kembali menjadi markas komunikasi militer Kodam 1/Iskandar Muda.

2. Mercusuar Willems Toren

Menara setinggi 85 meter di desa Melungge, Kecamatan Pulo Aceh, Kab Aceh besar ini dibangun untuk dijadikan hadiah bagi Raja Willem III dari Belanda pada tahun 1875. Pemberian nama Willems Toren untuk menghormati sang raja karena dianggap berjasa besar dalam kolonialisme Belanda di Asia.

3. Gedung BI Aceh

Gedung Bank Indonesia ini terletak di Jalan Cut Mutia No. 15 Kelurahan Keudah Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh. Bangunan bersejarah peninggalan masa kolonila ini dahulunya bernama De Javasche Bank.

Geudung BI ini sejak awal berfungsi sebagai gedung bank sehingga kesan formal sebagai bangunan pemerintah langsung nampak pada bagian halaman depannya. Gedung ini masih terawat baik namun sudah direnovasi kembali akibat terjangan tsunami