PariwisataIndonesia.ID – Aceh adalah salah satu wilayah yang dimiliki Indonesia yang terletak di ujung bagian paling barat. Berbatasan dengan wilayah Malaysia dan Samudera Hindia. Tempat ini memiliki kebudayaan yang unik termasuk pakaian adat Aceh yang begitu terkenal.
Pakaian adat Aceh pun sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan kebudayaan Islam.
Bahkan saat ini juga sering digunakan pada acara-acara penting, semisal penikahan atau acara adat lain, tak terkecuali saat upacara peringatan kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia yang dilangsungkan di Istana Presiden, Jakarta.
Ketiga pakaian ini telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat Aceh, berikut nama-namanya:
1. Pakaian adat Meukasah
Pakaian adat Aceh yang pertama ini, dikenal juga dengan sebutan lainnya, yakni Linto Baro dan merupakan salah satu pakaian adat yang digunakan khusus oleh laki-laki.
Baju yang terlihat seperti beskap terbuat dari kain sutra yang ditenun, dan dulunya dipakai ketika upacara adat dan kegiatan pemerintahan pada zaman kerajaan Islam yaitu Samudera Pasai dan Perlak.
Terdapat tiga bagian penting dalam pakaian adat ini, yang masing-masingnya tak terpisahkan satu dengan lainnya, di antaranya meukasah atau baju atasan, sileuweu atau celana panjang, dan meukeutop atau penutup kepala.
Bila menilik secara seksama, umumnya, meukasah didominasi warna hitam yang melambangkan kebesaran, yang hal tersebut sudah dipercaya oleh masyarakat Aceh secara turun-temurun.
Tidak lupa juga para laki-laki menggunakan rencong atau senjata tradisional khas Aceh sebagai pelengkap pakaian adat tersebut.
Lalu, di bagian kerah sampai dadanya terdapat pula sulaman berwarna emas seperti yang digambarkan dalam foto, tampak Presiden Joko Widodo saat mengikuti upacara peringatan kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia di Istana Presiden, Jakarta, Jumat (17/8/2018), tampil mengenakan pakaian adat meukasah. Keren banget, bukan?
2. Pakaian adat Sileuweu
Bagian bawah dari linto baro disebut sileuwu. Celana ini juga disebut sebagai cekak musang. Sileuweu memiliki warna yang sama seperti meukasah. Menggunakan bahan katun, celana ini ditenun dan melebar pada bagian bawah.
Sileuweu biasanya dilengkapi dengan sarung songket saat digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk menambah kewibawaan pemakainya. Cara memakainya cukup dikaitkan pada pinggang dan batas panjangnya sekitar 10 cm di atas lutut.
3. Meukeutop
Meukeutop merupakan kopiah khas Aceh. Kopiah ini memiliki bentuk lonjong ke atas. Selain itu, meuketop juga dihiasi dengan lilitan kain sutra berbentuk bintang segi delapan yang disebut tengkulok. Meukeutop memiliki perpaduan lima warna yang masing-masing punya arti sendiri.
Warna merah dalam meukeutop memiliki arti kepahlawanan, kuning berarti kesultanan, hijau melambangkan agama Islam, hitam sebagai lambang ketegasan dan putih sebagai lambang kesucian.
Sobat Pariwisata, dari ketiga baju adat yang dirangkum dalam satu ulasan ini, mana nih yang paling mewakili kepribadiaan Anda, Sob? (Rizky)





































Leave a Reply