Bagi warga Jakarta, libur merupakan waktu yang berharga yang selalu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Salah satunya mengunjungi destinasi wisata alternatif yang asyik, yang ada dalam kota Jakarta itu sendiri, wisata yang sangat baik dan juga edukatif seperti berkunjung ke museum.
Museum tidak lagi sekadar ruang penyimpanan sejarah, tetapi telah berkembang menjadi ruang rekreasi yang relevan, interaktif, dan inklusif bagi berbagai kalangan, terutama keluarga. Yah, menjelajahi museum di ibu kota telah bertransformasi menjadi pengalaman yang modern, interaktif, dan penuh estetika.
Tiga tempat berikut ini, menjadi pilihan wajib dikunjungi untuk menikmati destinasi wisata alternatif yang sangat mengasyikkan di Jakarta, yaitu Museum Kebangkitan Nasional, Galeri Nasional Indonesia dan Museum Nasional Indonesia.

Museum Kebangkitan Nasional (Gedung STOVIA)
Liburan ke Museum Kebangkitan Nasional menawarkan perjalanan waktu mendalam ke masa awal pergerakan kemerdekaan Indonesia. Banyak keseruan yang akan ditemui dalam perjalanan liburan disini. Pengunjung dapat mengeksplorasi ruang kelas, asrama, dan koleksi sejarah kedokteran bumiputra yang ikonik di situs cagar budaya yang terawat indah ini
Museum Kebangkitan Nasional menempati bekas gedung sekolah kedokteran untuk pribumi yang didirikan oleh Belanda, dengan nama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen yang disingkat dengan nama STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputra. Tempat ini merupakan cikal bakal lahirnya organisasi modern pertama, Budi Utomo, yaitu pada tahun 1908.

Museum yang beralamat di Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh No.26, RW.5, Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat ini memiliki vibe yang tenang dan penuh sejarah perjuangan intelektual bangsa. Pengunjung dapat menyusuri ruang kelas peninggalan Belanda, asrama mahasiswa, hingga koleksi alat medis kuno yang digunakan para calon dokter di awal abad ke-20.
Pengunjung akan merasakan evoria reka ulang suasana kelas tempat para siswa STOVIA belajar dan ruang asrama serta memberikan gambaran kehidupan pelajar pribumi di masa penjajahan. Berbagai peralatan medis yang digunakan pada awal abad ke-20 juga dapat dilihat disini. Hal ini memberikan wawasan tentang sejarah kedokteran di Indonesia.

Selain itu, museum ini juga menghadirkan Ruang Pameran Boedi Oetomo, yang menampilkan sejarah berdirinya organisasi Boedi Oetomo dan para tokoh pendirinya. Juga terdapat koleksi foto, buku, dan benda-benda sejarah lainnya yang menceritakan pergerakan nasional.
Dengan gaya arsitektur bangunan yang classic, menghasilkan suasana vintage untuk setiap hasil jepretan foto. Banyak sudut yang asyik untuk mendapat hasil photo yang estetik.
Museum Kebangkitan Nasional buka Selasa – Minggu Pukul 08.00 – 16.00 WIB dan tutup Senin dan hari libur nasional. Untuk tiket masuk, dewasa dikenai Rp. 5000, tiket anak dikenai Rp. 3000 dan tiket turis (dewasa dan anak) dikenai Rp. 25.000.

Bagi pengunjung yang ingin mendatangi Museum Kebangkitan Nasional dapat memilih transportasi umum, seperti Transjakarta. Terdapat rute TJ 1P (Senen-Blok M) dan 2P (Senen-Gondangdia).
Galeri Nasional Indonesia
Ingin menikmati seni di tengah suasana Jakarta yang lebih tenang? Datanglah ke Galeri Nasional Indonesia yang berada tepat di depan Stasiun Gambir. Vibe-nya sangat estetik, modern, dan sangat cocok bagi pencinta seni atau yang mencari spot foto menarik.
Galeri Nasional Indonesia merupakan ‘rumah’ bagi karya seni rupa terbaik Indonesia, mengoleksi ribuan karya seni mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi kontemporer. Ada sebanyak 190.000 koleksi artefak yang mencakup sejarah, arkeologi dan etnografi Indonesia tersimpan disini.

Selain sering mengadakan pameran temporer dari seniman lokal maupun internasional, terdapat kegiatan pameran tetap yang menampilkan karya maestro seperti Raden Saleh dan Basoeki Abdullah.
Banyak kegiatan seru lainnya yang dapat dinikmati disini. Pengunjung dapat menelusuri sejarah seni rupa Indonesia melalui narasi kronologis yang informatif pada kegiatan pameran tetap museum ini, yang mengusung tema ‘Mengenal Indonesia’.
Juga terdapat Ruang Aktivitas Anak dan Keluarga (RAK) yang terletak di Gedung D. Area ini merupakan tempat favorit anak-anak untuk mengasah kreativitas melalui kegiatan seperti mewarnai koleksi galeri.
Pada momen – momen liburan, tempat ini sering mengadakan pemutaran film bertema keluarga atau budaya di area galeri, sebagai bagian dari program ‘Hamparan Berkah’. Dan bagi para pencinta foto, kawasan ini dapat dijadikan ajang berburu foto estetik, karena gedung ini merupakan peninggalan arsitektur bangunan kolonial. Selain itu, instalasi seni modern yang terdapat di halaman Galeri Nasional Indonesia sangat keren dan menjadi target para pencinta foto untuk dijadikan latar foto mereka.

Untuk masuk, terlebih dahulu pengunjung membeli tiket secara online melalui platforfm seperti Traveloka. Galeri buka setiap hari mulai pukul 09:00 hingga 19:00, dengan waktu penukaran tiket Traveloka terakhir pukul 18:00. Biaya tiket masuk Rp 20.000 untuk warga local/warga Indonesia, sementara wisatawan asing dikenai Rp 50.000.
Galeri Nasional Indonesia yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur No.14, Jakarta Pusat ini dilalui oleh transportasi umum seperti Transjakarta. Pengunjung dapat turun di Halte Gambir 2, dimana halte ini akan dilalui oleh Koridor 2 (Harmoni – Pulo Gadung), Koridor 2A (Bunderan Senayan – Pulo Gadung), dan Koridor 2C (Monas – JIExpo Kemayoran/PRJ). Jarak dari halte ke Galeri Nasional hanya sekitar 200 meter.
Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah)
Merupakan museum tertua dan terlengkap di Asia Tenggara. Museum Nasional Indonesia ini menyimpan banyak peninggalan prasejarah hingga zaman kerajaan nusantara. Koleksi prasasti kuno, arca-arca megah dari zaman Hindu-Buddha, hingga ruang khazanah yang menyimpan perhiasan emas milik raja-raja masa lalu.

Terletak di Jalan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat, museum ini lebih dikenal dengan nama Museum Gajah dimana terdapat patung gajah perunggu di halaman depan museum. Patung tersebut merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand saat berkunjung pada tahun 1871.
Museum ini didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 24 April 1778 melalui lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Awalnya bertujuan untuk penelitian seni dan ilmu pengetahuan, museum ini terus berkembang hingga akhirnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan menjadi museum nasional.
Museum Gajah bukan sekadar bangunan tua di jantung Jakarta. Tempat ini adalah ‘mesin waktu’ paling lengkap untuk mengenal identitas bangsa. Dengan vibe-nya nan megah dan sangat informatif untuk memahami akar budaya Indonesia secara menyeluruh.

Sebagai museum tertua dan terbesar di Asia Tenggara, koleksinya mencakup ratusan ribu artefak yang dibagi dalam beberapa kategori:
- Ruang Prasejarah: dimana pengunjung dapat melihat fosil manusia purba dan peralatan batu dari ribuan tahun lalu.
- Ruang Arkeologi (Masa Hindu-Buddha): yang menampilkan koleksi arca-arca raksasa. Yang paling fenomenal adalah Arca Bhairawa, yaitu patung dengan ketinggian 4,41 meter yang terlihat sangat gagah dan sedikit mistis.
- Koleksi Emas & Permata: tersimpan aman harta karun kerajaan Nusantara, mulai dari mahkota emas hingga perhiasan bertahta berlian, yang berada di lantai atas gedung baru (Gedung Arca)
- Etnografi: Gambaran miniatur Indonesia melalui rumah adat, pakaian tradisional, hingga alat musik dari Sabang sampai Merauke.

Selain itu, Museum Nasional Indonesia juga menghadirkan ruang imersif, seperti pertunjukkan bisokop 3D yang berlangsung sekitar 10-15 menit, sehingga mampu menciptakan pengalaman yang lebih interaktif dan menarik bagi pengunjung.
Arsitektur dan panorama Museum Gajah sangat estetik, perpaduan visual yang unik. Kehadiran pilat-pilar putih nan besar merupakan ungkapan gaya Neoklasik Eropa. Pada bagian tengahnya merupakan taman terbuka yang dikelilingi arca, memberikan suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
Sementara itu pada Gedung baru yaitu Gedung Arca, tampilan arsitekturnya lebih modern namun tetap selaras. Penataan cahaya dan interiornya lebih kontemporer. Siapa pun yang datang kesini pasti tergerak hatinya untuk berswaphoto dengan latar belakang minimalis dan elegan ini.

Untuk menuju Museum Nasional Indonesia dapat melalui transportasi umum TransJakarta, turun di Halte Monumen Nasional (Monas), setelah itu dilanjutkan dengan jalan kaki selama kurang lebih tujuh menit.
Beberapa rute TransJakarta yang turun di Halte Monas yaitu TransJakarta 1 (Blok M-Kota), TransJakarta 1A (Pantai Maju-Balai Kota), TransJakarta 1P (Senen-Blok M), TransJakarta 2 (Pulo Gadung-Monas), TransJakarta 3 (Kalideres-Monas via Veteran), TransJakarta 5C (Cililitan-Juanda), TransJakarta 7F (Kampung Rambutan-Juanda via Cempaka Putih) dan TransJakarta 14A (Monas-Jakarta International Stadium/JIS).(*)




































