Banjarmasin dikenal sebagai ‘Kota Seribu Sungai’, menawarkan pesona wisata berbasis air yang unik dan tidak ditemukan di kota besar lain di Indonesia. Dengan jaringan sungai yang membelah kota, Banjarmasin memadukan tradisi sungai yang kental dengan modernitas perkotaan yang asri. Sejarah mencatat kota ini tumbuh dari pemukiman di tepian Sungai Martapura dan Sungai Barito, di mana rumah-rumah panggung (Lanting) dan transportasi perahu (Kelotok) menjadi pemandangan sehari-hari sejak berabad-abad lalu.
Banjarmasin merupakan salah satu kota tertua di Indonesia yang masuk dalam bagian Provinsi Kalimantan Selatan. Kota dengan memiliki wilayah seluas 98,46 kilometer ini, bukan sekedar ibu kota Kalimantan Selatan, namun menjadi denyut nadi kehidupan di atas air.
Memiliki akar sejarah yang kuat pada tradisi sungai, yang menjadi kekayaan alam yang vital bagi masyarakat sekitar. Tak heran, kota ini pun mendapat julukan Kota Seribu Sungai, dengan berjuta pesona nan eksotis yang sulit ditemukan di belahan dunia lain.

Secara administrative, Banjarmasin terbagi-bagi oleh lebih dari 200 aliran sungai. Sungai raksasa yang menduduki kota ini adalah Sungai Martapura dan Sungai Barito. Kedua sungai ini menjadi fondasi transportasi, perdagangan, hingga pemukiman warga sejak ratusan tahun lalu.
Yah, di Banjarmasin, air bukan sekadar pemandangan, tapi jalan raya utama bagi masyarakat lokal. Budaya sungai sudah menjadi yang autentik. Kehadiran rumah-rumah panggung (Lanting) yang mengapung di atas sungai serta interaksi langsung warga lokal yang sangat ramah, menjadi bagian dalam kehidupan di Banjarmasin.
Berusia 499 tahun per 24 September 2025, Banjarmasin dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dan lada di masa lalu. Dan hingga saat ini, kota ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat ekonomi dan budaya di Kalimantan Selatan.

Saat ini, pemerintah kota terus gencar melakukan revitalisasi sungai. Fokus utamanya adalah mengeruk sedimentasi dan menata bantaran sungai agar lebih bersih dan berfungsi sebagai jalur transportasi wisata (waterbus). Meskipun tantangan sampah dan pasang surut air laut masih ada, kesadaran masyarakat untuk menjaga ‘nadi’ mereka mulai meningkat, menjadikan Banjarmasin kota yang lebih modern tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.
Sejarah Nama Banjarmasin
Cikal bakal nama Kota Banjarmasin, bermula pada tahun 1526, muncul nama dari sebuah perkampungan dataran rendah yaitu ‘Banjarmasih’. Ini merupakan nama salah seorang patih yang sangat berjasa dalam pendirian Kerajaan Banjar, yaitu Patih Masih. Patih Masih beradal dari Desa Oloh Masih, yang dalam bahasa Ngaju artinya orang Melayu atau Kampung Orang Melayu. Desa Oloh Masih inilah yang kemudian menjadi Kampung Banjarmasih.
Patih Masih bersama dengan beberapa Patih lainnya sepakat mengangkat Pangeran Samudera mejadi Raja. Pangeran Semudera ini merupakan Putera Kerajaan Daha yang terbuang dan mengasingkan diri di desa Oloh Masih. Sejak itu terbentuklah kerajaan Banjar.

Setelah itu, Pangeran Samudera kembali menaklukkan Muara Bahan dan kerajaan kecil lainnya serta jalur-jalur sungai sebagai pusat perdagangan pada waktu itu. Semakin majunya kerajaan Banjar, membuat raja Daha yaitu Pangeran Tumenggung yang juga merupakan paman dari Pangeran Samudera, terusik.
Akhirnya terjadilah peperangan yang berlarut-larut yang berbuntut Pangeran Samudera terdesak, lalu meminta Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama dan terbesar di Nusantara, untuk membantunya.
Demak bersedia membantu kerajaan Banjar, dengan syarat raja dan rakyatnya harus masuk Islam. Pengeran Samudera setuju dan tentara Demak datang bersama Khatib Dayan yang kemudian mengislamkan rakyat Banjar. Sejak itu Pangeran Samudera berganti nama menjadi Sultan Suriansyah.
Serbuan banjar yang diperbantukan Demak, memuat Daha kalah. Peristiwa ini terjadi pada 24 Desember 1526. Momen ini merupakan hari kemenangan Pangeran Samudera, dan cikal bakal Kerajaan Islam Banjar. Tanggal ini pun dijadikan sebagai hari jadi Kota Bandjarmasih sebagai ibukota kerajaan baru yang menguasai sungai dan daratan Kalimantan Selatan.

Kemudian setelah tahun 1664, sebutan Banjarmasih mulai berubah menjadi Bandjarmassin. Lalu pada abad pertengah 19, tepatnya sejak jaman jepang, nama Bandjarmasin diubah berdasarkan ejaan baru bahas Indonesia menjadi Banjarmasin.
Kota Banjarmasin berada pada ketinggian rata-rata 0,16 m di bawah permukaan laut dengan kondisi daerah berpaya-paya dan relatif datar. Kondisi ini menjadikan hampir seluruh wilayahnya tergenang air saat air pasang.
Namun demikian, Kota Banjarmasin banyak memiliki objek-objek wisata yang menarik dan viral, seperti Pasar Terapung Lok Baintan dan Muara Kuin, pasar yang menjadi ikon Banjarmasin. Disini, ratusan pedagang yang didominasi kaum ibu, berjualan hasil bumi di atas jukung, perahu tradisional khas Banjar, sejak saat fajar. Aktivitas transaksi tukar menukar barang (barter) kerap terjadi di pasar ini.

Banjarmasin juga dikenal dengan Patung Bekantan yang terletak di pinggir sungai Martapura. Ini merupakan patung monyet berhidung panjang dengan tinggi sekitar 6,5 meter dan menjadi spot foto favorit yang bisa menyemburkan air, mirip Merlion di Singapura.
Juga ada Kampung Biru dan Kampung Hijau, yang merupakan pemukiman pinggir sungai. Peletakkannya sangat estetik, bersih dan dihiasi dengan warna-warni yang sangat menarik. Sungguh terlihat instagrammmable.
Yang juga menjadi ikonik Banjarmasin adalah Menara Pandang. Bangunan empat lantai yang terletak di tepian Siring ini, mengajak pengunjung untuk melihat panorama ‘Kota Seribu Sungai’ dari ketinggian. Landmark modern setinggi 21 meter di pinggir Sungai Martapura ini merupakan tempat terbaik untuk melihat panorama kota dan kelokan sungai dari ketinggian.

Banjarmasin juga merupakan ‘Gerbang Permata’, karena menjadi pusat perdagangan intan dan permata terbaik di Indonesia, berdekatan dengan pusat penggosokan intan Martapura.
Kota Banjarmasin juga dikenal dengan kelezatan kulinernya. Mulai dari Soto Banjar yang legendaris, lezatnya Ikan Patin Bakar, hingga wadai (kue) tradisional seperti Bingka yaitu kue terbuat dari berbahan dasar telur dan santan dengan tekstur sangat lembut dan rasa manis yang legit dan Kue Amparan Tatak.
Inilah Kota Banjarmasin, peradaban yang berdenyut di atas air, yang akan selalu mengundang wisatawan untuk datang kembali, bukan hanya untuk melihat sungainya, tapi untuk merasakan keramahan yang mengalir tenang di setiap sudutnya.(*)




































