PariwisataIndonesia.id – Transportasi dan pariwisata bak dua sisi mata uang yang keduanya tak bisa dipisahkan. Baik yang berbentuk koin maupun uang kertas, keduanya tetap sama yang dipergunakan sebagai alat pembayaran.
Misal, pecahan bernilai 100perak berbentuk uang logam, satu sisi bergambar Rumah Gadang dan sisi lainnya terdapat Wayang Jawa.
Sekalipun berbeda posisi, baik motif dan gambar atau subjeknya yang tak serupa, iya tetap disebut sebagai satu kesatuan dari nilai mata uang itu sendiri. Bisa jadi dari setiap sisinya, memiliki sudut pandang dan keistimewaan tersendiri.
Selama “Cepek Dulu Dong” adalah ucapan yang pernah ngehits di film boneka si Unyil, tertera angka Rp100 di logam, nilai tukar dari alat bayar ya, tetap cepek. Stop!
Saat ini, bukan mengulas tentang uang logam bergambar “Rumah Gadang”, tapi artikel ini memang sekaligus untuk mendukung atas kunjungan kerja Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ke Sumatera Barat, yang kemarin tiba di Tanag Minang.
Sektor transportasi, tak bisa ditampik, keberadaannya turut mendukung pariwisata di tanah air.
Alasannya? Karena memudahkan tamu (bahasa ini kerap diucapkan untuk pelaku industri pariwisata, red) dan atau wisatawan (disebut objek sebagai pengicu daya tarik wisata, red).
Bersambung ke halaman berikutnya
Berjasa karena, memudahkan dari titik jemput .. “







































Leave a Reply