Halo, Gaes!
Menyambut bulan suci Ramadhan, banyak tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat di Nusantara. Sebagian tradisi ini cukup unik dan bahkan banyak yang menjadi daya tarik Pariwisata Indonesia. Salah satuya adalah perang ketupat di Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.
Perang ketupat di Tempilang dilaksanakan dua pekan sebelum bulan Ramadhan atau tepatnya pada tanggal 15 bulan Syaban pada kalender Hijriah. Fyi, tradisi ini juga punya nama lain yaitu ruah tempilang karena dalam bulan Syaban juga sering disebut seebagai bulan ruwah.
Menurut tokoh masyarakat Tempilang, tradisi perang ketupat sudah diadakan sejak tahun 1883, tahun ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda menggalami erupsi besar. Konon, pada masa itu banyak anak gadis di Tempilang yang diambil dan dimakan oleh siluman buaya. Serem banget, ya, Gaes.
Kondisi Tempilang di masa itu bisa dikatakan mencekam, Gaes. Nah! Untuk meredakan rasa takut masyarakat, beberapa dukun di Tempilang pun sepakat untuk mengadakan ritual tolak bala yang bertujuan mencegah terjadinya bencana yang lebih besar lagi. Tradisi yang disebut perang ketupat ini pun diwariskan turun-temurun untuk menjaga budaya dan sebagai pengingat sejarah.

Dalam tradisi perang ketupat terdapat beberapa ritual yang pelaksanaannya dipimpin oleh ketua adat Tempilang. Pada hari pertama atau di malam sebelumnya, akan diadakan ritual ngancak yaitu pemberian makanan kepada mahluk halus atau penunggu lautan yang dipercaya bermukim di laut.
Pada keesokan harinya, tradisi perang ketupat dibuka dengan ritual penimbongan yaitu upacara sakral untuk memanggil mahluk halus berperangai baik yang dipercaya bermukim di darat. Tujuan pemanggilan ini diyakini untuk menjaga dan melindungi desa, Gaes.
Setelah penimbongan, acara puncak yaitu perang ketupat pun dilaksanakan. Acara perang ketupat dilakukan oleh para pesilat yang sudah terlatih dengan cara saling melempar ketupat berisi nasi. Ini dianggap sebagai simbol untuk memerangi kejahatan mahluk halus yang mengganggu aktivitas warga baik di darat maupun di laut.
Tradisi perang ketupat ditutup dengan ritual nganyot perae yaitu ritual menghanyutkan perahu sebagai simbol memulangkan mahluk halus yang berasal dari luar Tempilang. Dengan nganyot perae diharapkan para mahluk halus yang bermaksud jahat tidak akan mengganggu ketentraman masyarakat Tempilang.
Selain untuk menolak bala, tradisi perang ketupat dilakukan untuk meminta perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon agar hasil panen petani dan hasil tangkapan ikan nelayan melimpah ruah, serta untuk menjain tali silaturahmi antar masyarakat setempat.
Enggak hanya warga setempat yang datang saat perang ketupat, loh. Banyak wisatawan lokal dari Belitung ataupun luar provinsi ini yang datang untuk menonton. Selain menjaga tradisi, perang ketupat pun menjadi salah satu aset Pariwisata Indonesia di Tempilang. Bahkan sejak tahun 2014, perang ketupat sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Gimana, Gaes? Kalo penasaran dan ingin menonton tradisi ini, jangan lupa sempatkan untuk berkunjung ke Bangka Barat, tepatnya pada pertengahan Bulan Syaban, ya.
Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023





































Leave a Reply