Halo, Gaes!
Memiliki iklim tropis dan berada di lintasan garis khatulistiwa emang bikin keanekaragaman hayati Indonesia sangat tinggi. Ini juga yang bikin negara kita memiliki banyak hewan endemik, salah satunya Burung Maleo (Macrocephalon maleo).
Eits! Bukan hanya menjadi hewan endemik, loh. Burung ini pun punya sejarah dengan salah satu tradisi masyarakat Banggai. Tradisi ini bahkan menjadi daya tarik Pariwisata Indonesia di Provinsi Sulawesi Tengah, loh. Namanya Malabot Tumpe.

Malabot Tumpe berasal dari Bahasa Banggai, yaitu malabot atau molabot berarti penerimaan atau penyambutan, sedangkan tumpe atau tumbe berarti pertama atau awal. Upacara ini emang merupakan penyerahan dan penerimaan telur pertama Burung Maleo di tahun tersebut dari Kerajaan Batui kepada Kerajaan Banggai.
Menurut sejarah, Malabot Tumpe berawal dari kisah kedatangan Adi Cokro atau Adi Soko, seorang bangsawan dari Kerajaan Kediri di Pulau Jawa, ke Banggai untuk memperdalam ajaran Islam pada tahun 1500-an. Fyi, masyarakat Banggai emang udah mengenal Islam sejak tahun 1200-an.
Di tempat belajarnya, Adi Soko pun mendirikan Kerajaan Banggai dan menjadi raja pertamanya. Sang Raja lalu menikah dengan putri dari Kerajaan Matindok (Batui) dan memiliki anak yang bernama Abu Kasim. Atas kelahiran sang cucu, Raja Matindok pun menghadiahkan sepasang burung Maleo kepada Adi Soko.
Singkat cerita, Adi Soko harus kembali ke Pulau Jawa karena ada urusan mendesak. Meski istri dan anaknya tidak ikut, sang raja tetap membawa serta sepasang burung Maleo pemberian Raja Matondak. Kepergian Adi Soko untuk waktu yang lama membuat Kerajaan Banggai kehilangan pemimpin. Sebagai putra raja, Abu Kasim pun menyusul Adi Soko ke Pulau Jawa untuk membawanya pulang ke Kerajaan Banggai.
Sayangnya karena keadaan, Adi Soko enggak bisa kembali lagi ke Banggai dan memerintahkan Abu Kasim untuk naik tahta. Tapi, sang anak menolak. Setelah diskusi panjang, akhirnya disepakati bahwa tahta Kerajaan Banggai akan diberikan kepada Mandapar, putra Adi Soko dari pernikahan yang lain. Adi Soko juga memberikan sepasang burung Maleo miliknya untuk dibawa pulang ke Kerajaan Banggai karena di Pulau Jawa burung tersebut tidak bisa berkembang biak.
Burung Maleo emang hanya bersarang di daerah pasir terbuka, daerah sekitar pantai gunung berapi, dan daerah yang memiliki hangat dari panas bumi. Beberapa spot di Sulawesi-lah yang cocok untuk menetaskan telur burung yang memiliki bulu hitam, kepala kecil, dan kaki besar ini.
Setibanya di Banggai, Abu Kasim pun melakukan berbagai cara agar Burung Maleo tersebut berkembangbiak. Tapi, usahanya gagal. Maka Abu Kasim pun menitipkan sepasang Burung Maleo tadi pada keluarganya di Kerajaan Batui dengan pesan agar telur pertama burung tersebut diserahkan ke Kerajaan Banggai.
Nah! Amanat leluhur inilah yang terus dijaga oleh masyarakat adat Banggai dari tahun ke tahun, Gaes. Warga Batui bahkan dilarang memakan telur Burung Maleo sebelum telur pertama dipersembahkan ke Kerajaan Banggai. Ini jadi salah satu cerminan ikatan persaudaraan masyarakat Banggai.
Dalam upacara Malabot Tumpe, puluhan hingga ratusan telur Burung Maleo yang ukurannya 5-8 kali lebih besar dari telur ayam, dibawa dari rumah adat Batui di Kabupaten Banggai menuju Keraton Kerajaan Banggai di Kabupaten Banggai Laut. Di masa lalu, pengiriman telur yang menggunakan perahu ini, dilakukan oleh 3 orang tua-tua adat serta 4 orang pendayung dan juru kemudi kapal. Tapi dengan semakin besarnya ukuran perahu di masa sekarang, jumlah pembawa telur pun semakin banyak.
Nantinya, telur yang tiba di Kerajaan Banggai akan dibagi-bagikan kepada keluarga Kerajaan yang berhak. Ada juga telur yang disimpan untuk menggantikan telur lama yang sudah berusia satu tahun. Sst! Konon saat dibuka, telur lama ini bisa memberi gambaran tentang berbagai peristiwa yang telah terjadi di wilayah tersebut selama setahun ke belakang.
Upacara yang sejak tahun 2015 sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia ini termasuk upacara adat di Banggai yang punya banyak peminat, Gaes. So, enggak heran saat Malabot Tumpe berlangsung, banyak warga lokal hingga wisatawan domestik dan mancanegara yang datang untuk ikut menyaksikannya, loh.
Kalo lo adalah salah satu yang penasaran dengan upacara adat ini, segera jadwalin kunjungan lo ke destinasi Pariwisata Indonesia di Sulawesi Tengah sekitar bulan Desember atau saat musim bertelur Burung Maleo, ya Gaes ya.
Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023





































Leave a Reply