Tampil luwes membawakan Tarian Topeng Tumenggung, Adeeva Afseen Mysha Firoos, berhasil menghipnotis para pengunjung di acara seni yang diselenggarakan oleh LQ Forest Kuningan – Cirebon, Sabtu (25/10/2025). Dengan garangnya membawakan peran seorang ksatria, Tumenggung Magadiraja, Adeeva tampil memukau selama 13 menit, membawakan Tari Topeng Tumenggung Gaya Mimi Rasidah.
Tari Topeng Tumenggung merupakan salah satu kebudayaan Cirebon. Tari Topeng Tumenggung menggambarkan sosok seorang Adipati dari Magadiraja yang pemberani dan bersikap tegas, yang tengah melawan perusuh, Jingga Anom.
Tarian ini menceritakan bagaimana Tumenggung Magadiraja yang dikirim Raja Bawarna, mencari Jingga Anom yang tengah kabur, namun setelah bertemu mereka malah adu mulut dan berakhir dengan peperangan.
Sosok penari dalam Tari Topeng Tumenggung harus luwes dan sigap, sehingga gerakan tariannya mencerminkan karakter seorang adipati yang gagah, berani, dan memiliki kepemimpinan kuat. Karakter ini semakin diperkuat dengan memakai topeng dasar berwarna merah dengan mata membelalak dan kumis tebal. Topeng ini melambangkan keberanian, kewibawaan dan ketegasan. Namun, kerutan wajah pada topeng ini mencerminkan seseorang yang bijaksana.

Penari harus memiliki Gerakan yang tegas, kuat namun tetap anggun sehingga mencerminkan keberanian dan kepemimpinan. Penekanan pada gerakan punggung dan tangan memperkuat kesan ksatria yang bijaksana. Sementara itu, kostum penari harus menggunakan warna hitam, yang melambangkan kemampuan beradaptasi dalam segala situasi.
Sejarah Tari Topeng Tumenggung
Tari Topeng Cirebon awalnya tumbuh di daerah pantai utara Jawa Barat. Lama kelamaan berkembang hingga sampai ke Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banyak masyarakat Cirebon meyakini bahwa tarian ini diciptakan oleh salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah. Tepatnya pada tahun 1470, dengan pendekatan melalui kesenian ini, Sunan Kalijaga bersama Sunan Gunung Jati mulai berdakwah, memasukkan ajaran Islam ke dalam tarian tersebut.
Sosok Tumenggung merupakan tokoh utama yang menggambarkan sebagai adipati dari Magadiraja. Dengan kemampuannya memiliki semangat kepemimpinan dan keberanian, Tumenggung mendapat tugas dari Raja Bawarna, menemukan Jingga Anom yang telah melarikan diri menghindari upeti. Sayangnya, pertemuan Tumenggung dengan Anom tidak berjalan mulus yang akhirnya berujung pertempuran.
Perjalanan inilah yang menjadi alur tarian Tari Topeng Tumenggung. Tarian begitu hidup dan bermakna karena diiringi irama yang pas dan sesuai. Ada tiga bagian ritme irama, yaitu irama lambat (Dodoan), iramah sedang (Unggah Tengah) dan irama cepat (Deder).

Penampilan penari harus tampil dengan busana lengan panjang, dasi, badong, keris, kain batik, gelang, selendang serta celana panjang hingga bawah lutut. Pada adegan tertentu, penari pun akan mengenakan topeng.
Khusus untuk babak Tari Topeng Tumenggung, sang penari akan memiliki tambahan properti, yaitu berupa tutup kepala, peci, dan kacamata. Dengan diiringi musik gamelan dan gendang serta lagu khusus lainnya seperti Tumenggung atau Barenkering, aksi penampilan sang penari pun semakin memikat.(*)




































