Rumah Gadang adalah nama rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional, banyak dijumpai di Sumatera Barat, Indonesia. Sebutan lain rumah ini adalah Rumah Bagonjong, ada juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjuang.
Merupakan salah satu ikonik terkenal di Sumatera Barat, Rumah Gadang bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, namun juga menjadi simbol budaya, identitas, dan falsafah hidup orang Minang.
Bagaimana sejarah serta filosofi apa saja yang terkandung pada Rumah Gadang? Yuk kita cari tahu…
Rumah Gadang menjadi simbol kekeluargaan dan tempat tinggal bersama untuk keluarga besar dari garis keturunan ibu. Berdasarkan sejarah, rumah adat Gadang sering dikaitkan dengan kisah kemenangan rakyat Minangkabau melawan Majapahit.
Bentuk rumah ini sangat unik. Kayak dengan arsitektur menarik. Atapnya berbentuk gonjong, yaitu runcing menjulang sehingga disebut rumah adat bagonjong. Bentuk ini seperi tanduk kerbau, melambangkan kekuatan, kebijaksanaan serta kejayaan. Atap Gonjong juga mengandung filosofi yang melambangkan semangat yang tinggi serta cita-cita yang luhur.

Bentuk badan rumah laksana kapal, pada bagian bawahnya berbentuk segi empat yang tidak seimbang dan mengambang ke atas seperti trapesium. Terlihat adanya lengkungan badan rumah landau seperti badan kapal. Dalam rumah terdapat ruangan yang cukup luas tanpa ada sekat, hal ini melambangkan adanya keterbukaan dan kebersamaan.
Sementara itu pada bagian jendela tampak terlihat tidak lurus dengan ukuran besar-besar. Hal ini menandakan cahaya matahari dan sirkulasi udara sangat baik. Terdapat 8 jendela di bagian depan, 2 jendela di bagian kiri serta 2 jendela di bagian kanan. Bentuk jendela tersebut mengikuti bentuk Rumah Gadang yang miring serta tidak simetris.
Penempatan tiang pada Rumah Gadang ditempatkan sedikit miring ke arah luar dengan menggunakan tiang yang tidak lurus. Tiang kayu ini diperuntukkan sebagai penopang utama. Biasanya, kayu yang digunakan kayu yang sangat kuat seperti meranti atau surian.

Kontruksi bangunan seperti ini memang sesuai dengan wilayah Minangkabau yang memiliki dataran tidak rata sekaligus rawan gempa. Yah, Rumah Gadang dibangun dengan kekuatan tahan gempa, dengan menggunakan tiang vertikal yang dimiringkan. Tiang penyangga rumah juga menyerupai kapal.
Uniknya, tiang-tiang Rumah Gadang tidak ditanam ke tanah melainkan bertumpu di atas batu datar yang kuat dan lebar yang disebut sandi. Sandi ini menjadi tempat berdirinya tiang-tiang utama rumah. Selain itu, penggunaan sandi membantu menahan air tanah mengenai tiang, memperlebar luas permukaan yang bersentuhan dengan tanah, serta menahan getaran dari gempa.
Sementara pada dinding terdapat ukiran dengan motif tumbuhan dan binatang. Ukiran ini mencerminkan filosofi alam Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam terbentang menjadi guru), yang mencerminkan adanya hubungan manusia dengan alam sekitar.
Biasanya, Rumah Gadang dilengkapi dengan sebuah rumah kecil yang letaknya di sebelah atau di depan, terpisah dari rumah induk (Rumah Gadang), disebut Rangkiang. Fungsi Rangkiang sebagai lumbung, untuk menyimpan cadangan pangan seperti padi yang akan digunakan ketika kehabisan sumber makanan akibat bencana atau perang.

Ruangan dalam Rumah Gadang terbagi empat bagian :
- Ruang Depan, merupakan ruang yang paling besar yang dijadikan tempat berkumpul bersama keluarga. Ruangan ini juga dijadikan tempat bermusyawarah, mengadakan upacara, pesta adat, pernikahan, menerima tamu dan acara-acara lainnya.
- Ruang Tengah, merupakan ruangan yang terdiri kamar tidur penghuni wanita bersama suaminya.
- Ruangan Anjungan, bagian ini memiliki lantai ruang yang lebih tinggi dari ruang depan. Pada bagian sisi kanan dan kiri ruangan digunakan untuk tempat tidur wanita yang baru menikah.
- Ruang Belakang, yang dijadikan dapur. Posisi lantainya sejajar dengan ruang depan.
Berikut ini beberapa fungsi Rumah Gadang
- Tempat Tinggal
Ada aturan khusus jika Rumah Gadang dijadikan tempat tinggal, hal ini tergantung jumlah dan status pernikahan perempuan dalam keluarga. Bagi anggota keluarga perempuan yang masih lajang atau sudah menikah, dapat tinggal di rumah gadang, namun bagi pria lajang harus tidur di surau atau Musholla sekitar rumah.
- Tempat Musyawarah
Salah satu fungsi Rumah Gadang yaitu sebagai tempat berkumpul untuk berembuk atau bermusyawarah, dari seluruh anggota kaum untuk membicarakan masalah bersama. Seperti masalah yang berkaitan dengan keluarga, masyarakat, dan kaum yang harus diselesaikan bersama melalui mufakat. - Tempat Merawat Keluarga
Jika ada anggota keluarga yang laki-laki sakit, akan di rawat di Rumah Gadang. Apalagi jika seorang laki-laki diperkirakan ajalnya sudah mulai mengkhawatirkan, maka dia akan dibawa ke Rumah Gadang atau rumah dimana dia dilahirkan. - Sosial
Rumah Gadang menjadi pusat tempat melaksanakan upacara, berbagai perhelatan, perjamuan, sampai penobatan penghulu. -

Rumah Gadang
Meskipun era saat ini begitu canggih, banyak perubahan dimana-mana, namun keberadaan Rumah Gadang tak gentar dengan kemajuan zaman. Rumah Gadang tetap berdiri megah, menjadi simbol kebanggaan dan jati diri masyarakat Minangkabau. Keindahan arsitektur, kekayaan filosofi, serta fungsinya dalam kehidupan sosial menjadikan Rumah Gadang warisan budaya yang patut dilestarikan. Selain dijadikan objek wisata, Rumah Gadang juga menjadi tempat pusat kegiatan budaya.(*)





































