Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Januari hingga Desember 2025, tercatat ada sebanyak 15,39 juta kunjungan. Rata-rata pengeluaran per kedatangan (average spending per arrival/ASPA) sebesar 1.267 dolar AS.Capaian ini melampaui target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025.
Kenaikan ini juga diikuti dengan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) secara kumulatif mencapai 1,2 miliar perjalanan sepanjang 2025, melampaui target RKP sebesar 1,08 miliar perjalanan dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Hal ini disampaikan langsung Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana didampingi Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, dalam Laporan Bulanan Kementerian Pariwisata RI di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Capaian kinerja sektor pariwisata sepanjang 2025 ini, berhasil melampaui target utama sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Wamenpar yang turut mendampingi Menpar juga turut mengungkapkan, bahwa data perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri yang tercatat ada sebanyak 9,17 juta perjalanan sepanjang periode yang sama. Dari data tersebut, pertumbuhan kunjungan wisman yang lebih tinggi dibandingkan perjalanan wisnas menghasilkan surplus kunjungan sebesar 6,22 juta sepanjang 2025, tumbuh 25,93% dibandingkan surplus pada tahun 2024.
“Pertumbuhan surplus ini mengindikasikan penguatan net devisa pariwisata dan kontribusi positif sektor pariwisata terhadap neraca ekonomi nasional,” ujar Wamenpar.

Dengan capaian yang diperoleh sektor pariwisata sepanjang 2025 ini, menunjukkan bahwa arah kebijakan pariwisata Indonesia berada pada jalur yang tepat. Seluruh target utama tercapai bahkan melampaui rencana, dengan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan citra Indonesia di tingkat global.
Menpar Widiyanti kembali memaparkan, bahwa di tengah pertumbuhan ekonomi nasional 2025 yang mencapai 5,11 persen dengan nilai PDB sekitar Rp23.821 triliun ini, sektor pariwisata mencatatkan kontribusi sebesar 3,97 persen.
“Bahkan, jika turut memperhitungkan dampak lanjutan ke sektor-sektor terkait maka total kontribusi dapat mencapai 4,80 persen atau setara Rp946 triliun hingga Rp1.143 triliun,” ungkap Menpar Widiyanti.

Pariwisata menggerakkan ekonomi melalui empat lapangan usaha utama dengan penyediaan akomodasi dan makan minum sebagai tulang punggung aktivitas wisata. Pada tahun 2025, lapangan usaha ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,41 persen dan memberikan kontribusi 0,24 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,11 persen.
Kinerja tersebut turut diperkuat oleh tiga lapangan usaha lain yang erat kaitannya dengan pariwisata dan menempati tiga besar lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni jasa lainnya yang tumbuh 9,93 persen, jasa perusahaan yang tumbuh 9,10 persen serta transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,78 persen.
“Dengan fondasi ini, kami optimistis peran pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional akan terus meningkat,” kata Menpar Widiyanti.

Memasuki 2026, pemerintah menargetkan 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan wisman dan 1,18 miliar perjalanan wisnus. Upaya pencapaian target tersebut akan difokuskan pada peningkatan kualitas destinasi, penguatan konektivitas, pengembangan event, serta promosi yang lebih terarah dan berbasis pasar.
Pencapaian tersebut membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem pariwisata, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat luas.
“Dengan kolaborasi yang kuat dan komitmen bersama, pariwisata Indonesia diharapkan terus tumbuh secara berkelanjutan, memberikan manfaat yang semakin luas, dan menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat di seluruh penjuru tanah air,” tandas Menpar Widiyanti.(*)




































