Banyak keseruan yang ditemui di Museum Mpu Tantular. Museum yang berada di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur ini bukan museum pada umumya yang identik dengan tempat yang tenang, penuh benda kuno dan suasana yang terasa kaku. Disini, bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah semata, namun juga tersimpan cerita panjang mengenai perjalanan peradaban, kebudayaan, teknologi, kesenian, hingga kehidupan masyarakat Jawa Timur dari masa ke masa.

Museum Mpu Tantular cocok untuk berbagai kelompok, mulai dari keluarga yang dapat dijadikan kegiatan rekreasi sekaligus perkenalan sejarah kepada anaka-anak, juga cocok bagi para pelajar karena museum ini dapat menjadi ruang belajar di luar kelas. Juga sangat pas bagi para pencinta sejarah karena disini berbagai koleksi arkeologi, naskah, uang kuno dan benda-benda budaya menjadi alasan tersendiri untuk betah berlama-lama. Dan bagi wisatawan umum, Museum Mpu Tantular menjadi pilihan menarik ketika ingin menikmati wisata yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengetahuan baru.
Berkunjung ke Museum Mpu Tantular, bukan hanya soal melihat benda-benda lama. Wisatawan akan menemukan pengalaman unik, untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia.
Ketika melihat sebuah arca, akan mengingatkan kita pada peradaban masa lampau. Sebuah naskah memperlihatkan bagaimana manusia dahulu menyimpan pengetahuan. Hadirnya uang – uang kuno menceritakan perjalanan ekonomi. Serta benda teknologi lainnya yang memperlihatkan kreativitas manusia dalam menghadapi kebutuhan hidup. Semua itu menjadi satu cerita besar di Museum Mpu Tantular.

Pengunjung yang datang ke Museum Mpu Tantular, bukan berarti sekadar melihat masa lalu. Karena dari masa lalu inilah, pengunjung dapat memahami bagaimana sebuah kebudayaan tumbuh, berubah dan akhirnya menjadi bagian dari identitas masyarakat hari ini.
Museum ini juga ramah disabilitas karena menyediakan fasilitas pameran dengan akses huruf Braille untuk pengunjung tunanetra.
Museum Mpu Tantular terletak di Jalan Raya Buduran – Jembatan Layang, Bedrek, Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Museum milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur ini, memiliki koleksi yang sangat beragam.
Ada naskah, keramik, mangkuk, wayang, prasasti serta berbagai arca. Koleksi museum juga mencakup bidang arkeologi, etnografi, filologi, geologi, biologi, numismatika, heraldika, keramologi, seni rupa, teknologi dan sejarah. Di museum ini, pengunjung juga dapat belajar banyak tentang sejarah dan budaya Jawa Timur.
Koleksi Unggulan
Museum Mpu Tantular merupakan salah satu destinasi budaya yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Memiliki lebih dari 15.000 koleksi mencakup berbagai jenis yang dikelompokkan ke dalam 10 jenis klasifikasi ilmiah yaitu geologika, arkeologika, biologika, etnografika, seni rupa, historika, numismatika, heraldika, keramologika dan filologika. Koleksi ini mencerminkan beragam aspek budaya dan sejarah Jawa Timur sehingga menarik untuk dijelajahi.

Dari lebih dari 15.000 koleksi yang dimiliki, ada beberapa objek yang menjadi masterpiece (unggulan) yang ikonik, bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, yaitu :
- Klasifikasi Arkeologika (Ikon Utama Museum), yaitu Hiasan Emas Garudeya (Emas Airlangga) dan Arca Durga Mahesasuramardhini.
- Klasifikasi Teknologika (Sains & Teknologi), yaitu Sepeda Motor Uap (Daimler) dan Simphonion.
- Klasifikasi Biologika, yaitu Fosil Manusia Purba (Homo Erectus Ngawi 1)
Hiasan Garudeya merupakan ikon utama sekaligus masterpiece yang sangat bernilai di museum ini. Perhiasan emas murni peninggalan era klasik dengan ukiran burung Garuda yang sangat detail ini, terbuat dari emas 22 karat dengan berat mencapai 1.163,09 gram. Perhiasan ini juga bertahtakan sebanyak 48 batu permata.
Pada tahun 1989, Hiasan Garudeya ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang warga bernama Seger di Kabupaten Kediri. Benda purbakala ini menggambarkan kisah mitologi Garuda yang membebaskan ibunya dari perbudakan
Arca Durga Mahisasuramardhini adalah arca batu peninggalan zaman Hindu-Buddha yang bernilai seni tinggi.
Sepeda Motor Uap merupakan koleksi kendaraan legendaris buatan G. Daimler dari Jerman pada tahun 1885 (beberapa catatan menuliskan angka replika/tahun rancangan awal). Sepeda motor kuno ini digerakkan dengan menggunakan tenaga uap dan menjadi salah satu benda langka di dunia yang berhasil diselamatkan.
Simphonion adalah alat musik mekanis kuno berupa kotak musik besar peninggalan dari abad ke-19. Untuk menghasilkan melodi musik klasik yang anggun, alat musik ini menggunakan piringan logam berlubang.
Fosil Manusia Purba merupakan fosil bersejarah penting yang merekam jejak evolusi manusia purba di Jawa Timur.

Selain itu, Museum Mpu Tantular juga menyimpan replika goa prasejarah, naskah kuno beraksara Jawa, persenjataan kolonial, alat komunikasi tradisional (kentongan Madura), perangkat gamelan, hingga ruang khusus IPTEK untuk eksperimen sains anak-anak.
Banyak benda-benda peninggalan dari zaman prasejarah, periode Hindu-Budha, kerajaan Islam, hingga masa kolonial dan zaman modern dapat dilihat disini museum ini. Keberadaan benda-benda ini memberikan wawasan mendalam tentang perkembangan sejarah wilayah Jawa Timur.
Untuk menghormati pendiri museum, dibuatlah galeri Von Faber. Di sini, pengunjung pun dapat melihat koleksi-koleksi yang dikumpulkannya selama masa hidupnya.
Selain itu, di Museum Mpu Tantular juga menampilkan pameran tetap yang menggambarkan masa kejayaan Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.

Berbagai kegiatan edukasi kerap disajikan disini, seperti seminar, lomba, festival, serta bimbingan khusus karya tulis bagi pelajar dan mahasiswa. Hal ini dapat membantu untuk mengedukasi masyarakat tentang budaya dan sejarah Jawa Timur.
Sejarah Museum
Museum Mpu Tantular memiliki sejarah panjang yang diwarnai beberapa kali perpindahan lokasi sebelum menetap di Sidoarjo. Cikal bakalnya berawal pada tahun 1933, didirikan oleh kolektor asal Jerman, Godfried Hariowald von Faber, dengan nama awal Stedelijk Historisch Museum Soerabaia. Museum ini sempat dibuka di Raadhuis Ketabang dan Jalan Tegalsari.
Museum ini kemudian diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937. Awalnya, Von Faber mulai memperluas area museum dengan memperoleh sebuah bangunan baru di Jalan Simpang (sekarang Jalan Pemuda 3 Surabaya) dengan dibiayai oleh dana yang terkumpul dari masyarakat. Ruangannya pun semakin beragam, ada ruang koleksi, perpustakaan, ruang kantor, dan auditorium.

Untuk mengembangkan museum ini, Von Faber juga menjalin hubungan internasional ke berbagai pihak. Sayangnya, sebelum cita-citanya tercapai, Von Faber meninggal pada tanggal 30 September 1955.
Kepergiannya menjadikan museum ini tak terurus bahkan banyak koleksi yang rusak atau hilang. Akhirnya museum ini dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum. Dan pada tahun 1964, museum ini mendapatkan pendanaan dari Yayasan Prof. Dr. M. Soetopo.
Agar perhatian pemerintah terhadap museum ini menjadi lebih serius, dibentuklah Direktorat Permuseuman di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dan akhirnya pada tanggal 23 Mei 1972, dibukalah Museum Pendidikan Umum ak dengan nama ‘Museum Jawa Timur’.
Berjalannya waktu, muncul inisiatif untuk menyerahkan lembaga kebudayaan ini kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur. Lalu tanggal 1 November 1974, museum ini diresmikan sebagai ‘Museum Negeri Jawa Timur Mpu Tantular’, setelah sebelumnya terjadi proses serah terima dari Yayasan Pendidikan Umum kepada Pemerintah Daerah.

Nama ‘Mpu Tantular’ dipilih karena nama tersebut merupakan pujangga besar Kerajaan Majapahit yang mencetuskan semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Dan pada tahun 1977, semua koleksi museum dipindahkan ke Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya.
Hingga pada 14 Mei 2004, Museum Mpu Tantular menempati lokasi yang permanen di Jalan Raya Buduran, Sidoarjo, di kawasan sisi barat Jembatan Layang Buduran. Seluruh koleksi museum sudah ditempatkan disini.
Perjalanan panjang berpindah-pindah lokasi ini, membuat Museum Mpu Tantular bukan hanya menyimpan sejarah Jawa Timur melalui koleksinya, tetapi museum itu sendiri juga merupakan bagian dari sejarah perkembangan permuseuman di Jawa Timur.
Waktu Berkunjung
Museum yang memamerkan patung dan artefak budaya Indonesia dan beberapa di antaranya berasal dari zaman prasejarah ini, buka dari Selasa hingga Minggu. Selasa sampai Jumat jam berkunjung pukul 08.00 – 15.30, sementara Sabtu dan Minggu jam berkunjung pukul 08.30 – 14.00. Hari Senin dan libur besar Museum Mpu Tantular tutup.
Untuk harga tiket masuk, terhitung sejak 6 September 2025, resmi menyesuaikan berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 20 Tahun 2025, yaitu Dewasa dikenai Rp 5.000/orang dan Anak-anak (≤12 tahun) dikenai Rp 4.000/anak.

Beragamnya koleksi, kawasan yang luas serta fasilitas edukasi dan sejarah museum yang panjang, menciptakan Museum Negeri Mpu Tantular layak menjadi salah satu tujuan wisata edukasi ketika berada di Sidoarjo dan Jawa Timur.
Datang dan menikmati keseruan di dalam Museum Mpu Tantular bukan berarti sekadar melihat masa lalu. Justru dari masa lalu itulah pengunjung dapat memahami bagaimana sebuah kebudayaan tumbuh, berubah dan akhirnya menjadi bagian dari identitas masyarakat hari ini.(*)


































