Kalimantan tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya seperti hutan tropisnya yang luas dan lebat, serta sungai-sungainya yang membelah daratan. Di balik kekayaan alam tersebut, hidup beragam tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat adat. Seperti Tetek Pantan, sebuah tradisi ritual adat yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Suku Dayak.
Di tengah kehidupan masyarakat Dayak yang kaya akan adat dan budaya, sebuah tradisi ritual ‘Tetek Pantan’ tetap terjaga dan masih dijalankan. Tetek Pantan merupakan salah satu tradisi penyambutan tamu yang sarat makna. Bukan sekadar ritual seremonial, tradisi ini menjadi simbol penghormatan, doa keselamatan, sekaligus pengingat akan kuatnya hubungan manusia dengan adat dan leluhur.

Bagi masyarakat modern, penyambutan tamu mungkin cukup dilakukan dengan senyum, jabat tangan, atau ucapan selamat datang. Namun, dalam kehidupan masyarakat adat, penyambutan dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Tetek Pantan menjadi salah satu bentuk bahasa kehormatan. Melalui tradisi tersebut, masyarakat menunjukkan bahwa seseorang yang datang telah diterima dengan cara yang istimewa. Ada penghargaan yang diberikan, sekaligus harapan baik yang menyertai perjalanan dan kehadirannya.
Melalui prosesi adat, kehadirannya diterima secara terhormat dan diharapkan membawa kebaikan. Selain itu, saat pelaksanaan ritual tersebut, juga disampaikan doa agar perjalanan dan aktivitas yang akan dilakukan berlangsung dengan aman serta terhindar dari hal-hal buruk.
Dalam setiap tahapan pelaksanaannya, Tetek Pantan memiliki makna simbolis yang kuat. Tradisi ini berkaitan dengan prosesi adat untuk menyambut seseorang yang datang ke suatu wilayah atau komunitas masyarakat. Tamu yang datang tidak serta-merta dianggap sebagai orang asing. Melalui prosesi adat, kehadirannya diterima secara terhormat dan diharapkan membawa kebaikan. Pada saat yang sama, ritual tersebut juga menjadi doa agar perjalanan dan aktivitas yang akan dilakukan berlangsung dengan aman serta terhindar dari hal-hal buruk.

Arti Tetek Pantan secara harfiah yaitu ‘Tetek’ berarti memotong atau menebas, ‘Pantan’ artinya merujuk pada batang kayu yang dipasang melintang sebagai rintangan di gerbang masuk suatu wilayah atau tempat acara. Kayu yang digunakan biasanya pohon kayu bulat seperti kayu ulin atau kayu pohon jambu.
Tetek Panta merupakan sebuah tradisi memotong kayu bulat yang dipasang melintang pada gapura atau pintu masuk ke sebuah tempat atau rumah. Kayu itu dipotong oleh tamu yang hendak memasuki tempat milik tuan rumah dalam budaya Dayak.
Masyarakat budaya Dayak percaya, tradisi ini juga dapat mengusir roh jahat yang melekat pada seseorang, memastikan tidak ada niat jahat pada para tamu. Setelah kayu dipotong atau terbelah, para tamu dipersilahkan masuk dan disambut meriah.
Pelaksanaan Tetek Pantan mengikuti tata cara dan urutan adat. Setiap tahapan memiliki makna yang cukup dalam.
- Persiapan Kayu Pantan
Sebelum tamu tiba, tetua adat mendirikan dua tiang pengikat di kanan-kiri jalur masuk dan membentangkan batang kayu bulat secara horizontal. Kayu ini dihiasi dengan ukiran khas Dayak, daun kelapa muda (janur), serta hiasan adat lainnya.
- Penyambutan dan Tari-Tarian

Kedatangan tamu disambut oleh rombongan tetua adat, tokoh masyarakat, dan penari adat (seperti Tari Bagagah atau Tari Kancet). Suara tabuhan musik tradisional seperti gong dan gendang turut mengiringi suasana penyambutan.
- Pembacaan Doa dan Mantra Adat
Sebelum eksekusi pemotongan, seorang Mantir Adat (tokoh adat) atau Damang membaca mantra, do’a-do’a penyucian, serta menyampaikan permohonan keselamatan kepada Sang Hyang Dewata / Ranying Hatalla Langit agar acara berjalan lancar dan penuh keberkahan.
- Penyerahan Mandau dan Dialog Adat
Tetua adat menyerahkan sebuah Mandau (senjata khas Dayak) yang telah diberi doa kepada pimpinan rombongan tamu. Terjadi dialog singkat berupa ucapan selamat datang dan penegasan niat baik.
- Pemotongan Kayu (Tetek Pantan)
Pimpinan tamu berdiri di depan batang kayu pantan. Dengan sekuat tenaga dan penuh ketegasan, beliau harus menebas/memotong kayu tersebut menggunakan Mandau hingga terputus total dalam sekali atau beberapa kali tebasan (tergantung tebalnya kayu dan aturan adat setempat).

- Injakan Telur dan Pembilasan Kaki
Setelah kayu terputus, pimpinan tamu sering kali diminta melangkahi reruntuhan kayu, menginjak telur ayam kampung sebagai lambang kelembutan dan kesucian, lalu disiram air bunga/air beras kuning pada bagian kaki sebagai simbol penyucian akhir.
Ini bukan sekedar pertunjukan seni tari atau seremoni formal, melainkan sebuah ritual, simbolisme spiritual, penghormatan, dan doa perlindungan bagi tamu yang berkunjung. Tradisi ini menjadi pilar penting pelestarian identitas, penghormatan atas keberagaman, serta lambang keterbukaan masyarakat Dayak terhadap siapa saja yang datang dengan niat tulus dan damai.
Melestarikan tradisi seperti Tetek Pantan berarti menjaga cerita tentang manusia dan kehidupannya. Karena ketika sebuah tradisi hilang, bukan hanya sebuah ritual yang lenyap. Bersamanya, bisa ikut hilang cerita, nilai, bahasa simbol, dan cara sebuah masyarakat memandang dunia.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak, tradisi kegiatan Tetek Pantan tetap menjadi pengingat, bahwa akar budaya adalah bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa. Tradisi ini harus terus hidup, menjadi suara masa lalu yang tetap terdengar di masa depan.(*)


































