Nahunan & Balian Balaku Untung Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju yang Masih Terjaga

Nahunan & Balian Balaku Untung Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju yang Masih Terjaga

Kearifan lokal masih diwariskan secara turun temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, yang sangat kental dalam kesehariannya. Yaitu kekayaan tradisi keagamaan dan adat yang erat kaitannya dengan kepercayaan Hindu Kaharingan. Dua ritual sakral yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakatnya adalah Upacara Balian Balaku Untung dan Upacara Nahunan.

Masyarakat Dayak Ngaju masih sangat menjaga kegiatan ritual sakral, yang menjadi bagian dalam kehidupan mereka sehari hari.  Kegiatan tersebut adalah upacara Nahunan dan upacara Balian Balaku Untung.  Keduanya upacara ini merupakan bentuk pengabdian, ungkapan rasa syukur, serta permohonan perlindungan kepada Ranying Hatalla (Tuhan Yang Maha Esa).

Upacara Nahunan

Upacara Nahunan merupakan upacara adat masyarakat Dayak Ngaju, terutama bagi para pemeluk kepercayaan Hindu Kaharingan. Nahunan merupakan salah satu ritus dalam siklus kehidupan masyarakat Dayak Ngaju, yang bertujuan untuk memberikan nama kepada anak. Upacara ini memegang peranan krusial sebagai penanda bahwa sang bayi telah resmi diterima secara adat dan spiritual ke dalam lingkungan masyarakat Dayak Ngaju.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju

Dengan diadakannya upacara Nahunan, para orang tua berharap agar anak tersebut diberkati dan diberikan keselamatan serta diberkahi dengan rejeki yang berlimpah oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).

Pelaksanaan upacara adat ini disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dari keluarga yang menyelenggarakannya. Utama dari upacara ini adalah menyiapkan sesajen sebagai persembahan kepada roh leluhur dan Ranying Hatalla langit, namun penyelenggara ritual juga harus memperhitungkan konsumsi bagi tamu yang nantinya akan datang. Karena dalam acara tersebut, akan dilakukan tradisi panggil (mengundang sanak keluarga ataupun orang dekat) untuk datang ke acara tersebut.

Selain merupakan ritual adat, Upacara Nahunan juga menjadi sarana bersosialisasi keluarga penyelenggara dengan orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya, sampai dengan keluarga yang bertempat tinggal jauh.  Banyaknya jumlah tamu yang datang menunjukkan kedudukan atau tingkat sosial si penyelenggara dalam bermasyarakat.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelenggarakan Upacara Nahunan yang pertama adalah menyiapkan semua perlengkapan untuk sang bayi juga perlengkapan bidan. Untuk bayi, terlebih dahulu disiapkan keranjang pakaian yang akan digunakan untuk menyimpan pakaian bayi dan tuyang atau ayunan, untuk menidurkan ketika upacara sedang dilangsungkan.

Tuyang terbuat dari kulit kayu nyamu yang dihiasi dengan mainan sederhana.  Biasanya mainan tersebut terbuat dari botol bekas yang dirangkai, sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yang unik. Sebagai pelengkap lainnya, juga menyiapkan sangku berbentuk seperti mangkuk besar yang akan digunakan untuk memandikan bayi dan juga Garantung untuk pijakan bayi ketika keluar.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju

Sementara itu untuk perlengkapan bidan, siapkan sebuah Tanggul Layah, yaitu topi yang digunakan bidan sebagai menutup kepala saat membawa dan memandikan bayi ke sungai.

Penyelenggara juga harus menyiapkan beberapa wadah lainnya yaitu peludahan yang digunakan untuk menampung kinangan pada pasca upacara, juga lancing yang digunakan untuk menyimpan sirih pinang, mangkok petak untuk meletakan tanah atau air, mangkok tampung tawar untuk menyipan ramuan tampung tawar, ceret untuk menyimpan air minuman tradisional, dan sangku untuk menaruh beras dan kelapa.

Balian Balaku Untung

Upacara Balian Balaku Untung merupakan salah satu tradisi yang juga dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju yang menganut kepercayaan Kaharingan, terutama pada masyarakat yang tinggal di Desa Tumbang Kuayan, Kec. Rungan, Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju

Merujuk dari namanya, balian diartikan sebagai kegiatan atau ritual upacara adat yang dipimpim oleh seorang dukun/basir/mulung, sebutannya.  Balaku diartikan sebagai ungkapan memohon atau meminta.  Sementara kata ‘Untung’ diartikan sebagai keberuntungan, rezeki atau nasib baik.

Jadi, upacara Balian Balaku Untung merupakan upacara untuk memohon berkah, keberuntungan dan keselamatan kepada Ranying Hatalla Langit (Yang Maha Kuasa) melalui penyelenggaraan balian.

Menurut pemeluk keyakinan Kaharingan, segala kesulitan dapat diatasi dengan bantuan Ranying Hatalla Langit, yang menjadi dasar pelaksanan upacara ini.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju
Sesajen yang disiapkan

Upacara Balian Balaku Untung diselenggarakan dengan tujuan untuk memohon dan meminta rezeki kepada Ranying Hatalla Langit dengan perantaraan para dewa.  Kegiatan ini biasanya dilakukan pada momen seperti ungkapan rasa syukur dan pembayaran hajat, yaitu ketika seseorang atau sebuah keluarga mengungkapkan rasa syukurnya atas kesembuhan dari penyakit, atau keberhasilan usaha atau pencapaian suatu hajat tertentu.

Upacara Balian Balaku Untung juga dilakukan sebagai bagian penutup dari upacara adat besar lainnya, seperti ritual Tiwah (upacara pengantaran tulang leluhur). Balian Balaku Untung digelar di akhir agar seluruh rangkaian acara membawa keberkahan dan menolak bala bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju

Kegiatan upacara Balian Balaku Untung dipimpin oleh beberapa rohaniawan (Mulung), mengucapkan mantra-mantra dalam bahasa ibarat/sakral yang dilantunkan dengan iringan musik tradisional seperti gandang (gendang) dan garantung (gong).

Sebelumnya, penyelenggara menyiapkan sarana spiritual seperti piring, beras kuning, daun sawang, kemenyan, serta pakan/hewan kurban seperti ayam atau babi.  Saat upacara, Mulung akan memercikkan air suci dan beras kuning kepada para peserta ritual sebagai simbol pembersihan diri dari energi negatif dan penurunan berkah dari Ranying Hatalla.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju

Yah, itulah dua upacara adat masyarakat Dayak Ngaju yang masih terjaga kelestariannya.  Upacara Nahunan dan upacara Balian Balaku Untung yang keduanya mencerminkan garis hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan (Ranying Hatalla) dalam filsafat hidup masyarakat Dayak Ngaju.  Nahunan menandai awal perjalanan hidup seorang anak manusia dengan doa dan perlindungan adat sejak dini, sementara Balian Balaku Untung mengajarkan tentang rasa syukur dan permohonan berkah dalam perjalanan hidup.(*)