Oh, ya! Pemiliknya bernama Dewa Made Gunawan adalah putra asli daerah Sambangan yang lahir, pada Selasa, 25 Maret 1975, katanya, tempat usaha ini sudah menerapkan Prokes.
Upaya yang dilakukannya, seperti menyiapkan area untuk cuci tangan, pembersih tangan. Kemudian, thermal gun untuk mengukur suhu dan karyawan mereka sudah divaksin.
Menurut pemilik objek wisata Alam Sambangan Dewa Made, kolam renang ini diperuntukkan bagi orang dewasa dan anak-anak.
Untuk pengunjung yang tak mau basah-basahan, silakan menikmati fasilitas Alam Sambangan lainnya yang tak kalah menarik atau dapat duduk di pinggiran kolam sambil bersantai-santai.

Terkait hal tersebut, pengelola wisata menyediakan kursi lonjer dan meja payung di pinggiran kolam.
Jangan takut tidak kedapatan tempat, karena berderet jumlahnya. Banyak, Gaess!
Rasakan sensasinya ketika tidur-tiduran di kursi itu dengan minum segelas jus lemon yang menyegarkan sembari mencicipi hidangan yang tercantum dalam daftar menu restoran Alam Sambangan.
Seruput lagi jusnya Gaess, bagaimana? Mantap bukan!
Siapapun yang pernah datang ke Alam Sambangan akan rindu untuk kembali datang. Apalagi yang sedang kasmaran, jiejie… Dunia serasa milik berdua nih, yee!
Gaess! Sejauh mata memandang menghadirkan panorama alam yang masih alami. Dengan menyaksikan semua itu, kita semakin terasa kecil dan terucap kata syukur untuk mengagungkan nama Tuhan YME.
Alasannya, Gaess! Dari pemandangannya ini, selain asri, juga menghampar begitu luasnya perbukitan nan hijau yang ada di tempat tersebut.
Meski pohon-pohonnya itu lebat dan menjulang tinggi tetap saja masih menjadi bagian kecil dari luasnya hutan Kintamani yang letaknya berdekatan dengan Alam Sambangan.
Belum lagi keindahan sunrisenya, benar-benar sempurna. Kontributor Bali Media Pariwisata Indonesia, Komang Maleneo Bramasta melaporkan dari Alam Sambangan.
Artikel berjudul “Atasi Gagal Move On Datanglah ke Alam Sambangan di Bali, Lagi PDKT? Ini Kesempatan, HTM 10K All In” merupakan tulisan pertama di www.pariwisataindonesia.id dan cerita dimulai dengan pagi-pagi sekali saat hari masih gelap, ayam pun, mungkin baru berkokok.
Setibanya, disambut suara burung berkicau dan sekujur tubuh disengat kesejukan yang luar biasa, top banget deh!
Tak perlu diulas mendalam, biar menjadi cerita tersendiri bahwa di balik tugas lapangan seorang jurnalis untuk menjadi wartawan profesional dibutuhkan dedikasi, meski ada “Cucuran Keringat dan Air Mata.”

Kami tak mau melewatkan kesempatan menyaksikan saat matahari keluar dari tidurnya. Sinar mentari pagi perlahan-lahan dari semula gelap sampai akhirnya sang Surya sinarnya menerangi kami, Bali, dunia ini tanpa terkecuali. Sungguh indah ciptaanMu Tuhan.
Dari Alam Sambangan kami menyampaikan, betapa indahnya Pulau Dewata dan kita semua harus bangga menjadi anak Indonesia.





































Leave a Reply