BPIP Lakukan MOU tentang Kebhinnekaan dan Toleransi

BPIP

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjalin kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dalam penelitian untuk pemajuan toleransi di Indonesia.

Nota kesepahaman (MoU) tentang Pemajuan Toleransi, Kebhinnekaan dan Kebebasan Beragama di Indonesia, ditandatangani perwakilan empat institusi, di Balairung UGM, Yogyakarta pada Sabtu(13/6).

“Kerja sama ini ke depan segera kita tindaklanjuti. Negara ini sudah sangat membutuhkan partisipasi kita dari berbagai aspek dan tingkatannya,” sebut Kepala BPIP Yudian Wahyudi.

Menurutnya, penandatanganan kerja sama itu merupakan upaya bersama keempat institusi untuk membumikan nilai-nilai Pancasila, khususnya untuk memajukan toleransi, kebhinnekaan dan kebebasan beragama di Indonesia.

Tujuan dari kerja sama itu, menurut dia, antara lain akan ditempuh melalui pembinaan ideologi Pancasila, memproduksi pengetahuan melalui riset dan kajian baik kualitatif maupun kuantitatif untuk menghasilkan pengetahuan baik yang bersifat pengembangan pengetahuan (knowledge generation) dan penyelesaian masalah (problem solving).

Upaya lainnya, lanjut dia, yakni dengan mendukung penguatan kapasitas guru pendidikan agama Islam untuk memajukan pendidikan agama Islam yang toleran dan inklusif, memperkuat kapasitas dosen agama Islam di perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta untuk memajukan pendidikan agama Islam toleran dan inklusif, serta menyelenggarakan forum tahunan toleransi untuk berbagi pengetahuan, memajukan kebijakan dan memperkuat jaringan kerja (peer learning, peer sharing).

Penandatanganan Nota Keseopahaman di Gedung Utama UGM/Foto BPIP
Penandatanganan Nota Keseopahaman di Gedung Utama UGM/Foto: BPIP

Selain itu, kata dia, juga akan melakukan pendampingan dan sosialisasi daerah toleran bagi jajaran pemerintah kota/kabupaten dan berbagai elemen masyarakat sipil.

Nota kesepahaman itu berlaku selama tiga tahun dan para pihak akan melakukan pengendalian dan evaluasi secara reguler dan bertahap, sehingga tercapai kesinambungan untuk dapat mangakselerasi pembumian Pancasila.

“Output dari ditandatanganinya nota kesepemahaman ini oleh semua pihak, wajib ditindaklanjuti dengan pelaksanaan kegiatan konkret,” kata Yudian.

Secara terpisah, Rektor UGM Panut Mulyono menyambut baik kerja sama itu, katanya, “Negara membutuhkan partisipasi kita semua. Dan berharap nantinya dapat diisi dengan pengembangan atau kajian secara akademis terkait Pancasila,” ucap Rektor. Ditambahkannya, “Agar secara keilmuan Pancasila terus tumbuh dan bisa dibuat referensi kalau pun tidak diadopsi bangsa lain di dunia,” tutup Rektor.