Pemerintah Pusat Kirim Trans Metro Dewata untuk Membantu ‘Bali’

SikAsik, Naik Bus Gratis Sampai Akhir Tahun. 'Nyok kite naek bis' Trans Metro Dewata, Bantuan dari Kementerian Perhubungan
Trans Metro Dewata, Bali, Pariwisata Bali, Pariwisata Indonesia
Foto: putueka93

PariwisataIndonesia.id – Provinsi Bali mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa pengadaan moda transportasi baru, bus Trans Metro Dewata. Bantuan dari Kementerian Perhubungan dengan trayek melayani kawasan aglomerasi Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan.

“Kehadiran bus ini diharapkan dapat menggerakkan sektor ekonomi dan pariwisata Bali yang lesu akibat dampak pandemi COVID-19,” ujar Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi usai meluncurkan operasional bus Trans Metro Dewata di Denpasar, Senin (7/9/2020).

Budi menjelaskan, jumlahnya sebanyak 105 bus. Trans Metra Dewata untuk melayani empat koridor. Fungsinya disesuaikan dengan lintasan, pilihan jatuh kepada bus type medium berpenumpang 40 orang. Bus akan melayani koridor Bandara Ngurah Rai-GOR Ngurah Rai. Dan armada baru dipersiapkan sebanyak 22 bus.

Diharapkan tiga koridor lagi, siap beroperasi mulai bulan Oktober. Terdiri koridor Terminal Ubung-Monkey Forest (32 armada), Terminal Pesiapan-Central Parkir Kuta (31 armada) dan Pantai Matahari Terbit-Dalung (20 armada).

Untuk menarik minat masyarakat Bali, tarif bus Trans Metro Dewata sementara digratiskan hingga akhir tahun. “Pemerintah memberikan subsidi 100 persen untuk membantu biaya operasional kendaraan,” ujar Budi.

Secara terpisah, Gubernur Bali Wayan Koster memberikan pernyataan sikap, minat warga Bali kepada jasa moda trasnportasi umum masih rendah. Seyogyanya ini perlu sosialisasi yang gencar.

“Bali ini kecil dan antar kabupaten jaraknya berdekatan. Masyarakat lebih suka sepeda motor sekalipun hujan, padahal bahaya dan berisiko,” tegas Koster.

Gubernur Bali menambahkan bahwa kondisi Jakarta dan Bali jangan disamakan. Dalam pandangan Koster selaku pemangku kepentingan yang paham kebutuhan Bali, saat ini sebenarnya masih ada lagi yang dibutuhkan tapi enggan menjawab.

Menurutnya, penumpang bus di Bali dengan Jakarta sangat berbeda. “Di Jakarta penumpang mengejar bus. Kalau di Bali bus yang mengejar penumpang,” ujarnya lagi.

Dan jasa-jasa seperti rental mobil baru saja bertumbuh. Mereka lagi menikmatinya karena wisatawan lokal dan asing mulai berdatangan. Lagi juga ia mencontohkan pengelolaan bus Trans Sarbagita terus merugi karena sepi peminat. Walhasil banyak bus bantuan Kementerian Perhubungan banyak mangkrak.