Pariwisata Indonesia, Mansion Tjong A Fie
Galeri foto semasa hidup Tjong A Fie bersama keluarga dan kolega – Foto: Google Maps/Kenzo Kenzie

Jejak Tiga Gedung Bersejarah di Kota Medan dan di Urutan Buncit Ada Satu Video Menginspirasi yang Wajib Ditonton

3. Mansion Tjong A Fie

Bangunan kuno bersejarah berikutnya tak bisa dilepaskan dari tokoh yang bernama Tjong A Fie yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Medan, Sumut., dan juga menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan kota Medan.

Sosoknya, selain disebut-sebut sebagai figur yang mengedepankan semangat multikultural yang terus menjaga keberagaman dan kerukunan. Di sisi lain, semasa hidupnya, juga banyak berjasa dan ikut andil dalam mengembangkan pelabuhan kecil bernama Tanah Deli hingga akhirnya menjadi sebuah kota yang maju.

Bahkan, meski dinobatkan sebagai salah satu orang terpandang dan terhormat, ia tetap tak lupa untuk membantu sesama. Masyarakat di zaman itu, menyebut Tjong A Fie sebagai orang yang senantiasa memiliki sifat dermawan dan penuh welas asih.

Mengulik pundi-pundi uang Tjong A Fie diperoleh dari bisnis utamanya, meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank sampai perusahaan kereta api.

Berbekal kesuksesannya tersebut, sangat wajar bila ia begitu dekat dengan para kaum terpandang di Medan, di antaranya Sultan Deli, Ma’moen Al Rasyid serta pejabat-pejabat kolonial Belanda.

Seiring waktu, akhirnya Tjong A Fie pada tahun 1911 dinobatkan sebagai “Kapitan Tionghoa” (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian.

Padahal, di negeri asalnya, ia berasal dari keluarga yang terbilang sederhana dengan pendidikan seadanya.

Kala itu, ia bersama kakaknya Tjong Yong Hian (1850-1911), memutuskan untuk berhenti dari sekolah, dan memilih menjaga toko ayahnya. Menyoroti upayanya yang sudah ikut membanting tulang, ia masih tetap merasa ragu melanjutkannya.

Karena tak juga lekas berbuah manis, dan ekonomi keluarga tetap kurang beruntung, terus pun bertahan menuju sukses ibarat “jauh panggang dari api”.

Lalu, memutar otak dan berpikir ulang agar memperoleh penghidupan yang layak tercetuslah ide untuk merantau ke Indonesia yang saat itu masih di bawah pengawasan Hindia Belanda.

Perjalanan menuju suksesnya dimulai tahun 1875. Tahun itu, Tjong A Fie pergi ke Medan buat mengadu nasib dengan menjumpai kakaknya yang sudah lebih dulu menjadi kapitan Tionghoa di kota tersebut.

Selepas lima tahun tinggal bersama kakaknya, ia mulai mandiri. Lambat laun, makin menguasai cara-cara berdagang sehingga usahanya terbilang cukup sukses dan membuatnya matang, tak hanya menguasai bidang ekonomi, malah bidang politik mulai diterjuninya.

Alhasil, kerajaan bisnisnya kian “menggurita”, dan sekalipun lahir tahun 1860. Kemudian wafat pada tahun 1921, nama Tjong A Fie masih tetap harum dan dikenang sampai sekarang.

Menyoroti penampilan kediaman Tjong A Fie, merupakan perpaduan dari tiga desain yakni Tionghoa, Melayu, dan Eropa yang dibangun tahun 1900, yang baru dibuka untuk umum, pada 18 Juni 2009 guna memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150. (Rizky)