Rumah Adat Todo merupakan rumah adat paling tua di Kabupaten Manggarai, terdiri dari 1 bangunan induk dan 4 bangunan rumah adat yang mirip rumah induk tapi lebih kecil.
Terdapat pula 2 rumah adat pada sisi timur bangunan induk, yakni Niang Rato dan Niang Lodok. D samping itu ada juga 2 rumah adat lainnya pada sisi baratnya, yakni Niang Wa atau Keka dan Niang Teruk. Sedangkan di bagian depan bangunan induk terdapat Waruga (sebagai empat untuk musyawarah.
Gendang Kulit Manusia
Selain keunikan bangunan dan kebudayaannya, kampung adat ini terkenal dengan salah satu pusaka khasnya, yaitu gendang. Gendang di sini bukan sembarang gendang biasa, tetapi terbuat dari kulit manusia.
“Gandang itu sebenarnya punya cerita yang sangat berarti bagi kerajaan-kerajaan Manggarai. Gendang itu (dibuat) dari kulit wanita cantik nan sakti, yang dulu kisahnya diperebutkan oleh tiga kerajaan,” tutur Titus Jegadut, Penanggung Jawab Pariwisata di Kampung Adat Todo, seperti dilansir dari kompas.com.
Titus menceritakan legenda kampung kelahirannya tersebut pada tiap wisatawan yang datang, sebelum mereka menelusuri lebih ke dalam kampung adatnya. Sepintas rumah adat kampung ini memang berwujud seperti Wae Rebo, tetapi kearifan lokalnya lah yang berbeda.
“Dahulu ada tiga kerajaan yang ingin berkuasa di daratan Manggarai ini, ada Todo, Bima di Sumbawa, dan Kerajaan Goa di Sulawesi. Semuanya selain berebut daratan juga berebut putri cantik yang sakti,” tutur Titus.
“Perempuan ini keturunan India dan Bima, yang kabur dari Bima karena bentrok antara adat India yang ingin membunuh anak permpuan (saat itu) dengan adat Bima yang membolehkan anak perempuan,” kata Titus.
Sayangnya, ketiga kerajaan ini besaing dengan tidak sehat untuk memperebutkan tanah sekaligus putri caktik nan sakti tersebut. Akhirnya para raja mengutus perwakilannya untuk saling bertemu dan merumuskan peraturan untuk persaingan yang sehat di Manggarai.
“Setelah mereka mereka saling curiga dalam bersaing, mereka sempat konflik. lalu diadakan komitmen untuk hentikan ini problem dengan satu fokus solusi, yaitu siapa yang bisa tangkap dan nikahi ini perempuan, dialah yang berhak jadi Raja Manggarai,” tuturnya.
Alhasil raja Todo yang kala itu mengetahui keberadaan wanita sakti tersebut dekat dengan kerajaannya, ia pun terjun langsung untuk mencarinya di saat masyarakatnya masih terlelap.
“Raja Todo berniat untuk menyudahi persaingan konflik tiga kerajaan yang memperebutkan wanita itu, alhasil dibunuhlah si wanita sakti tadi dengan cara tertentu. Sejak saat itu Todo memproklamirkan sebagai penguasa Manggarai sekaligus pemersatu kerajaan-kerajaan di sana,” ucap Titus.
Di akhir penjelasannya menerangkan, setelah tersiar kabar, bahwa wanita yang diperebutkan itu mati di tangan Raja Todo.
Maka, ketiga kerajaan tersebut sepakat untuk tidak lagi konflik. Peperangan bisa dihentikan. Kemudian, hasil daratan Manggarai dikembalikan ke Raja Todo.





































Leave a Reply