Tenun yang merupakan keterampilan Suku Dayak Benuaq ini diperkirakan sudah ada sebelum abad ke-17. (Foto : Ricky Martin/Bobo)

Lengkapi Kain Etnik Lo Dengan Ulap Doyo

Tenun Ulap Doyo, Cinderamata Khas Pariwisata Indonesia di Kalimantan Timur

Tenun Ulap Doyo, Cinderamata Khas Pariwisata Indonesia di Kalimantan Timur

Halo, Gaes!

Siapa, nih, yang nyokapnya adalah kolektor kain etnik? Atau jangan-jangan lo sendiri yang hobi mengkoleksi? Nah! Kalo lo atau nyokap lo masuk ke dalam dua kategori tadi, kain dari destinasi Pariwisata Indonesia di Kalimantan Timur ini, wajib banget lo beli. Penasaran sama kain yang gue maksud? Simak ulasannya berikut, ya!

Namanya tenun ulap doyo. Tenun yang merupakan keterampilan Suku Dayak Benuaq ini diperkirakan sudah ada sebelum abad ke-17.  Keterampilan ini diwariskan turun temurun dan mulai terkenal pada masa Kerajaan Kutai. Biasanya, Suku Dayak Benuaq menggunakan kain ini dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari pesta pernikahan hingga upacara kematian.

Dalam Bahasa masyarakat setempat, ulap berarti kain. Sedangkan kata doyo diambil dari bahan utama pembuat tenun ini, yaitu serat daun doyo atau Curliglia latifolia. Kalo dilihat sekilas, tanaman ini mirip tunas kelapa muda dengan daun lebih besar, bergaris dan mengkilat. Tapi sebenarnya, doyo adalah tanaman sejenis pandan, Gaes.

Doyo banyak ditemukan di daerah rawa pedalaman Kalimantan. Tanaman ini tumbuh secara berkelompok dan membentuk rimbunan daun yang lebat. Doyo memiliki serat yang kuat sehingga bisa dijadikan bahan untuk membuat kain. Teksturnya juga lebih lentur dan awet jika dibandingkan dengan kapas lebih udah lapuk.

kata doyo diambil dari bahan utama pembuat tenun ini, yaitu serat daun doyo atau Curliglia latifolia (Foto : balitbangda)

Untuk mendapatkan serat doyo, awalnya daun-daun ini direndam di air, kemudian diserut menggunakan pisau dari bambu. Penyerutan dilakukan dari pangkal hingga ke ujung daun secara berkali-kali hingga serat terpisah dari daunnya, Gaes. Serat yang sudah didapatkan kemudian dikeringkan sampai benar-benar kering lalu diwarnai dengan berbagai pewarna alami, seperti buah glinggam, kayu oter, buah londo, kayu uwar, putri malu, umbi kunyit, dan getah akar.

Di tahap selanjutnya, serat doyo kembali diserut hingga bagian luarnya hancur dan menghasilkan benang yang halus, Gaes. Tahap ini disebut moyo doyo. Selanjutnya, benang halus itu disambung dan dipintal atau digulung. Proses pemintalan ini harus benar-benar rapi, ya Gaes ya, enggak boleh sampai ada benang yang kusut. Dan benang-benang dari serat doyo pun siap untuk ditenun.

Sebelum ditenun, pengrajin harus menyiapkan pola yang diinginkan. Ada puluhan motif yang bisa digunakan dalam tenun ulap doyo. Fyi, di masa dulu, motif-motif yang diambil dari cerita rakyat dan alam ini dipakai untuk menunjukkan identitas pemakainya, sehingga enggak boleh digunakan sembarangan.

Misalnya, motif jaunt nguku. Ini adalah motif yang dikhususkan untuk kaum mantiq atau bangsawan. Sedangkan orang biasa atau marantikaq umumnya menggunakan motif waniq ngelukng luker (orang biasa).

Ada juga motif naga yang melambangkan kecantikan wanita serta motif harimau yang menjadi simbol keperkasaan seorang pria. Kedua motif ini tidak boleh digunakan oleh orang di bawah 20 tahun. Konon jika melanggar, akan terjadi hal fatal pada orang tersebut, misalnya mendapat musibah hingga meninggal dunia, Gaes.

Selain aturan tentang motif, warna tenun ulap doyo juga menggambarkan keahlian pemakainya. Misalnya, kain warna hitam menunjukkan bahwa pemakainya mampu menolak sihir hitam atau sihir jahat. Sedangkan kain hitam yang memiliki garis putih, memberitahukan bahwa pemakainya mampu mengobati segala bentuk sihir dan penyakit.

Tapi di masa sekarang, penggunaan motif-motif tersebut tidak lagi terbatas. Lo bebas memilih tenun ulap doyo dengan warna dan motif yang diinginkan.

Keseluruhan proses pembuatan ulap doyo masih dilakukan secara tradisional. So, enggak heran kalo penyelesaian selembar kain tenun ulap doyo bisa memakan waktu 1 hingga dua bulan. Dengan waktu pembuatan yang lama ditambah kerumitan proses penenunan, selembar kain ulap doyo bisa dihargai mulai dari ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta.

Eits! Tapi lo enggak perlu khawatir. Tenun yang sejak tahun 2013 telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda ini sudah tersedia dalam berbagai ukuran dan jenis cinderamata. Mulai dari kain, pakaian, tas, dompet, sarung, hingga masker. Lo bisa memilih cinderamata sesuai dengan budget dan keinginan.

So, kalo berlibur ke destinasi Pariwisata Indonesia di Kalimantan Timur, jangan lupa untuk membeli tenun ulap doyo. Tentunya, koleksi kain etnik lo atau nyokap, bakal makin lengkap.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023