Halo, Gaes!
Bentar lagi imlek, nih! Saat perayaan tahun baru China ini tentunya banyak hal menarik yang bisa lo temui, mulai dari kue keranjang, barongsai, liong, hingga lampion. Tapi, tahu enggak, sih? Selain Imlek, ada satu hari lagi yang merupakan rangkaian perayaan tahun baru China. Namanya Cap Go Meh.
Cap Go Meh berasal dari Bahasa Hokai yaitu cap yang artinya 10, go berarti 5, dan meh artinya malam. Secara harfiah Cap Go Meh berarti perayaan di malam atau hari ke-15 bulan pertama. Istilah ini lebih terkenal di Malaysia dan Indonesia karena di negara asalnya, Tiongkok, Cap Go Meh lebih dikenal dengan nama Festival Lampion.
Seperti namanya, dalam Festival Lampion masyarakat akan memasang banyak lampion di rumah dan jalanan. Festival ini pertama kali dilakukan sekitar abad ke-17 yaitu pada masa Dinasti Han, di mana para petani di Tiongkok akan memasang lampion di ladang untuk mengusir hama, menakut-nakuti hewan liar yang suka merusak ladang, dan memperindah pemandangan. Selain memasang lampion, ada juga pertunjukan musik dan barongsai.
Nah! Di salah satu destinasi Pariwisata Indonesia khususnya Kota Singkawang, Kalimantan Barat, perayaan Cap Go Meh enggak kalah unik dan menarik. Karena selain ada berbagai lomba, pawai, pertunjukan seni, expo UMKM dan kuliner, ada juga kehadiran tatung yang paling ditunggu-tunggu. Saking menariknya, tatung menjadi salah satu magnet Pariwisata Indonesia di Kota Singkawang.
Tatung atau loya adalah manusia biasa yang dirasuki oleh roh baik. Tatung di Singkawang diyakini sudah ada lebih dari 200 tahun yang lalu. Pada masa itu, terjadi imigrasi besar-besaran dari Tiongkok ke Kalimantan yang sebagian besar adalah pedagang dan penambang emas yang datang ke wilayah Monterado, Kalimantan. Sebagian besar mereka menjadikan wilayah Singkawang sebagai tempat singgah dan bermukim.
Pada suatu saat, terjadi wabah cacar mematikan di daerah Singkawang yang diyakini akibat ulah dari roh jahat. Masyarakat Tionghoa yang sudah berbaur dengan Suku Dayak pun melakukan ritual untuk memohon pertolongan dari para dewa atau leluhur untuk mengusir wabah. Ini sesuai dengan ajaran Taoisme yang dianut oleh masyarakat Tionghoa.
Ritual tolak bala itu pun terus dilaksanakan turun termurun setiap tahun dan dinamakan cuci jalan. Saat perayaan Cap Go Meh, para tatung akan berkeliling kota dalam upacara cuci jalan dimana mereka membaca doa dan mantra-mantra untuk menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat.

Uniknya, ritual ini kental akan unsur magis dan mistis. Para tatung yang kerasukan ini diyakini akan memiliki kekuatan gaib dan bertindak di alam bawah sadar mereka. Para tatung kerap melakukan berbagai atraksi ekstrem seperti menyayat lidah, mengiris lengan, menusuk badan dengan benda tajam, dan sebagainya. Beberapa orang meyakini bahwa atraksi para tatung ini merupakan bentuk pengorbanan atau penebusan dari dewa untuk meringankan dosa yang diperbuat manusia.
Meski pria dan wanita bisa menjadi tatung, tapi hanya orang-orang yang dipercaya sebagai pilihan langit saja yang bisa menjadi media tolak bala ini. Selain itu, tugas para tatung pun enggak ringan, GAes.
Sebelum melakukan tugas cuci jalan, para tatung harus menjalani ritual khusus seperti puasa selama tiga hari, menyucikan diri, hingga merapal doa-doa tertentu. Nantinya, mereka juga harus memakai pakaian dengan bobot belasan hingga puluhan kilo dan berkeliling kota dari pagi hingga sore untuk melaksanakan cuci jalan. Semua hal iutu harus dilakukan sepenuh hati demi kesejahteraan masyarakat.
Fyi, tatung saat perayaan Cap Go Meh hanya ada di Indonesia, loh. Bahkan di negeri asalnya, Tiongkok, tatung pun tidak ada. Karena tatung bisa dikatakan sebagai hasil asimilasi antara budaya Tionghoa dan Dayak. So, enggak heran kalo moment ini sangat dinantikan oleh para wisatawan lokal maupun asing.
Oh ya, Gaes. Di tahun 2020, Cap Go Meh dan Tatung di tetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Perayaan Cap Go Meh di Singkawang pun dijadikan salah satu event nasional, loh. Kalo berniat untuk menyaksikan perayaan unik dan menarik ini, jangan lupa datang ke destinasi Pariwisata Indonesia di Singkawang saat Cap Go Meh, ya Gaes ya.
Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023





































Leave a Reply