Kain Koffo merupakan kain unik karena terbuat dari serat batang pisang, yaitu pisang abaka (Foto : beritapapua)

Tenun Koffo

Kain Khas Sangihe Talaud yang Bangkit dari Mati Suri

Kain Khas Sangihe Talaud yang Bangkit dari Mati Suri

Halo, Gaes!

Kain etnik dengan bahan baku katun (kapas) atau kulit kayu emang bisa ditemukan di banyak tempat di Nusantara. Tapi kain dengan bahan baku serat batang pisang cuma bisa lo dapat di sini! Di destinasi Pariwisata Indonesia di Kepulauan Sangihe Talaud.

Secara administratif, Sangihe Talaud merupakan kepulauan di Provinsi Sulawesi Utara. Di pulau yang berada di bagian barat laut pulau Sulawesi ini terdapat satu kain tradisional yang layak banget buat lo koleksi atau jadikan cinderamata. Namanya Kain Koffo.

Seperti yang udah gue singgung tadi, Kain Koffo merupakan kain unik karena terbuat dari serat batang pisang, yaitu pisang abaka (Musa textilis). Pisang ini merupakan tumbuhan asli Filipina. Melihat lokasi Sangihe Talaud yang dekat dengan Filipina, enggak heran kalo pisang dengan nama lain pisang manila atau pisang serat ini banyak ditemukan di Sangihe Talaud.

Di masa lalu, Kain Koffo biasanya ditenun oleh putra dan putri Raja Sangihe Talaud (Foto : journaltelegraf)

Kalo dibandingkan dengan kapas, serat pisang abaka memiliki kekuatan yang lebih tinggi, loh. Daya serapnya juga lebih baik. Makanya enggak heran kalo masyarakat Sangihe Talaud sudah menggunakan tumbuhan ini sebagai bahan baku pakaian sejak tahun 1500-an. Sst! Selain untuk membuat pakaian, serat pisang ini juga digunakan sebagai komponen rumah adat di Sangihe Talaud serta untuk membuat uang kertas, Gaes.

Di masa lalu, Kain Koffo biasanya ditenun oleh putra dan putri Raja Sangihe Talaud. Seiring perkembangan zaman, masyarakat biasa pun mulai menenun kain ini sehingga Kain Koffo makin dikenal luas di Sangihe Talaud. Kain yang digunakan dalam ritual-ritual adat ini biasanya dijadikan sebagai penutup kepala pria, baju terusan, sarung (kahiwu), hingga selendang.

Sayangnya sekitar tahun 1800-an, kegiatan tenun ini mulai mengalami penurunan, Gaes. Ini disebabkan karena pemerintah Kolonial Belanda melarang budidaya pisang abaka. Saat itu, Kolonial Belanda mengeluarkan perintah untuk menebang seluruh pisang abaka dan menggantikannya dengan tanaman kapas, kopi, dan tebu yang dianggap memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Sejak itu, Kain Koffo semakin sulit ditemukan hingga akhirnya kain tradisional khas Sangihe Talaud ini mulai menghilang di tahun 1970-an. Untungnya di tahun 2000-an, pemuda pemudi Sulawesi Utara menghidupkan kembali warisan leluhur yang pernah mati suri ini.

Seperti kain-kain tradisional lainnya, pembuatan Kain Koffo memerlukan waktu yang cukup panjang. Prosesnya diawali dengan pemisahan serat-serat batang pisang dengan cara digaruk menggunakan alat berbahan bambu. Serat-serat yang sudah didapatkan lalu dijemur hingga benar-benar kering.

Serat kering ini lalu dipisah-pisahkan sesuai ketebalan dan disambung menjadi benang panjang, kemudian diwarnai. Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya buah mengkudu untuk warna ungu tua dan kebiru-biruan, kulit bakau untuk warna cokelat, kunyit untuk warna kuning, hijau dari pandan, serta buah kesumba untuk mendapatkan warna merah.

Benang-benang yang sudah diwarnai lalu siap ditenun menggunakan teknik ikat lungsi membentuk pola yang sudah ditentukan. Ada pola hias sangihe, sohi (lancip), isin kemboleng (gigi ikan hiu) yang menjadi lambang kekuatan dan keberanian, kakunsi tiwatu (anak kunci sempurna), salikuku (tikungan) yang menandakan situasi stabil, bentuk kuncup pohon pakis, dan sebagainya.

Di masa lalu, Kain Koffo bermotif hanya digunakan oleh kaum bangsawan, sedangkan rakyat biasa hanya boleh menggunakan kain polos. Tapi di masa sekarang, lo bisa memiliki Kain Koffo yang bermotif ataupun polos. Bentuknya pun enggak melulu berupa sarung karena sebagai cinderamata khas Sulawesi Utara, kain ini disulap menjadi berbagai benda mulai dari baju, scarf, pouch, hingga masker.

Oh ya, Gaes. Di tahun 2017, Kain Koffo sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, loh. Yuk! Ikut dukung dan lestarikan Kain Koffo agar tidak kembali mati suri dengan cara membelinya saat berkunjung ke destinasi Pariwisata Indonesia di Sulawesi Utara.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023