Tiwah adalah ritual adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Ngaju yang menganut agama Hindu Kaharingan (Foto : vantage)

Upacara Kematian yang Rumit, Unik dan Menarik

Tiwah, Prosesi Mengantarkan Keluarga Dayak Ngaju ke Surga Abadi

Tiwah, Prosesi Mengantarkan Keluarga Dayak Ngaju ke Surga Abadi

Halo, Gaes!

Banyaknya suku dan agama di Nusantara emang menjadi salah satu kekayaan tersendiri. Karena keberagaman itu, negeri kita pun memiliki banyak tradisi serta ritual yang unik dan menarik. Kerennya lagi, tradisi dan ritual ini bisa menjadi daya tarik Pariwisata Indonesia. Contohnya Tiwah.

Tiwah adalah ritual adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Ngaju yang menganut agama Hindu Kaharingan. Ritual yang sudah berusia ratusan tahun ini bisa lo saksikan di Provinsi Kalimantan Tengah.

Seperti ritual-ritual lainnya, Tiwah juga punya tujuan dan makna tersendiri, Gaes. Ritual adat terbesar Suku Dayak Ngaju ini merupakan upacara yang dilakukan untuk mengantarkan roh kerabat dan leluhur yang sudah meninggal menuju lewu tatau atau surga abadi. Lewu tatau diyakini sebagai alam keabadian yang terletak di langit ke-7 yang dihiasi permata, emas, dan berlian.

Proses pengantaran roh tersebut dilakukan dengan cara mengumpulkan tulang belulang yang sudah dikuburkan secara sementara, kemudian dipindahkan ke bangunan khusus yang disebut sandung. Sandung umumnya terbuat dari kayu ulin yang bisa tahan hingga seratus tahun lebih.

Bangunan sandung. (Foto : goodnewsfromindonesia)

Biasanya Tiwah dilaksanakan di bulan Mei, Juni, atau Juli setelah masa panen agar persiapan pangan cukup dan masyarakat tidak disibukan dengan pekerjaan bertani. Selain itu, bulan-bulan tersebut adalah bulan-bulan liburan di mana para anggota keluarga, termasuk anak, cucu, hingga cicit bisa berkumpul dan hadir.

Meski merupakan rangkaian upacara kematian, Tiwah enggak selalu dilaksanakan setelah sesorang meninggal, Gaes. Soalnya, upacara sakral ini membutuhkan dana yang enggak sedikit, sekitar 50 hingga 100 juta, loh. Hal itu dikarenakan keluarga harus menyiapkan berbagai perlengkapan serta hewan kurban seperti kerbau, sapi, babi, dan ayam.

Keluarga dari kalangan berada bisa melaksanakan Tiwah beberapa saat setelah kematian. Tapi keluarga yang lain terkadang harus menunggu setahun hingga beberapa tahun untuk melaksanakan ritual ini. Untuk meringankan pembiayaan, biasanya Tiwah dilakukan untuk beberapa jenazah. Masyarakat juga bisa mengadakan patungan agar ritual ini terlaksana.

Bagi masyarakat Suku Dayak Nganju, Tiwah emang jadi ritual yang mutlak dilaksanakan. Mereka percaya bahwa kerabat dan leluhur akan merasa bahagia jika sudah di-Tiwah-kan. Soalnya, arwah yang belum di-tiwah-kan diyakini belum bisa masuk ke surga dan masih terus berada di dekat manusia.

Selain itu, arwah yang belum di-Tiwah-kan ini dipercaya akan membawa kesialan atau musibah, seperti gagal panen dan penyakit pada keluarga yang ditinggalkan. Ritual ini juga dilakukan untuk melepas gelar janda atau duda sehingga pasangan yang ditinggalkan bisa menikah kembali.

Selain membutuhkan dana yang tidak sedikit, Tiwah pun memiliki beberapa rangkaian upacara yang bisa memakan waktu 7 hingga 40 hari. Ritual ini juga harus dilaksanakan secara cermat dan teliti karena kekurangan atau ketidaksempurnaan ritual diyakini akan membuat keluarga menanggung beban berat, seperti terganggunya kesehatan dan rezeki yang tidak lancar.

Fyi, sejak tahun 2014 Tiwah sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Kalimantan Tengah. Ritual ini juga menjadi salah satu magnet Pariwisata Indonesia di Kalimantan Tengah. Eits! Kalo berniat untuk melihatnya, jangan lupa cek jadwal pelaksanaan Tiwah dan pastikan lo tidak membawa benda-benda pantangan ke lokasi pelaksanaan Tiwah, ya Gaes ya.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023