Pariwisata Indonesia, Sunset di Tanjung Kelayang
Sunset di Pantai Tanjung Kelayang. Cantik banget ya view-nya? (Sumber foto: Tiket.com)

3 Tempat Wisata di Provinsi Babel yang Top Markotop, No. 3 Disebut Wisata Inspiratif

Satu hal lagi, di Pulau Lengkuas ini terdapat bangunan mercusuar yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda sejak 1882, saat Anda bisa berada di puncak menaranya akan menyajikan kemegahan lanskap perairan dan bebatuan pantai dari segala penjuru.

Sederet pemandangan yang keren banget itu, rasanya bikin enggan pulang karena terdapat begitu banyak sudut atau spot foto instagenic untuk diabadikan. Dijamin tempat wisata ini top markotop dan cocok sekali untuk cekrek-cekrek foto!

Tanjung Kelayang terletak di bagian utara kepulauan ini, tepatnya di Kecamatan Sijuk, sekitar 27 kilometer dari Tanjung Pandan, Ibu Kota Kabupaten Belitung.

2. Danau Kaolin

Meski terdapat pro dan kontra dalam penetapan “Danau Kaolin” sebagai tempat wisata yang top markotop di provinsi Kep. Babel, namun tidak melunturkan pesona yang di milikinya. Mengingat, danau ini memiliki daratan putih menawan, wisatawan seolah-olah berada di daratan salju.

Tidak menepis, akibat pengerukan sumber daya alam yang membabi buta di masa lalu telah membuat jejak luka di Pulau Laskar Pelangi, bekas penambangan ini menjadi saksi bisu, dan sejatinya bisa dipetik pelajaran berharga atas peristiwa ini.

Singkatnya, Danau Kaolin terbentuk bukanlah secara alami. Melainkan, bekas peninggalan tambang kaolin yang terabaikan. Sebagai informasi, danau ini merupakan gundukan tanah liat yang biasanya digunakan sebagai campuran untuk membuat pasta gigi, porselin, industri kosmetik, hingga makanan.

Air berwarna biru menjadi hal yang kontras dengan daratan putih tadi. Inilah salah satu daya pikat Danau Kaolin. Karena kecantikannya itu, banyak wisatawan terutama pemburu spot photography berbondong-bondong datang ke area ini.

Tak sedikit pula, pengunjung yang datang, malah menjadikannya sebagai salah satu spot untuk foto prewedding. Waktu terbaik mengunjungi Danau Kaolin, yaitu saat pagi dan sore hari. Biasanya, para pengunjung berburu “sunrise” dan “sunset” di area ini.

Selain itu, suhu udara pada waktu pagi dan sore tidak terlalu panas, sehingga bikin nyaman wisatawan yang ingin berlama-lama menikmati keanggunan danau ini sambil berfoto-foto.

Wisatawan yang datang, ada pula yang sejak awalnya memang berniat untuk berenang atau sekedar berbasah-basahan di air danau. Masyarakat sekitar percaya bahwa kandungan kaolin dapat memberikan efek yang baik bagi kesehatan, seperti menyerap kadar minyak berlebih dan membuat kulit lebih halus.

Untuk diketahui, guys! Air di danau ini berasal dari air tadah hujan. Oleh karena itu, -sangat memungkinkan- Danau Kaolin sewaktu-waktu akan mengering dan menyisakan daratan dengan ceruk-ceruk besar yang tidak beraturan.

Atas alasan itu, Danau Kaolin sering disebut dengan istilah Kulong Biru alias berasal dari bekas penambangan biji timah yang sudah lama ditinggalkan.

Kulong Biru memang unik dan menyedot perhatian banyak turis domestik maupun mancanegara. Tempat wisata ini merupakan salah satu lokasi yang jadi andalan pariwisata di Kep. Babel. Bahkan, Danau Kaolin berhasil masuk dalam nominasi di Destinasi Unik Terpopuler pada Anugerah Pesona Indonesia 2019.

Keistimewaan lainnya, yaitu suasana udaranya tetap segar tanpa terganggu aroma belerang karena memang bukan berasal dari kawah pegunungan. Wisatawan juga dapat menyusuri jalur pedestrian maupun jembatan kayu yang terhubung dengan Danau Kaolin dan akan memberikan sensasi yang luar biasa.

Warna air ini akan berubah-ubah menyesuaikan dengan suhu udara dan pancaran sinar matahari. Pengunjung dapat mengabadikan setiap moment bahagia bersama orang-orang terdekat di spot swafoto menarik di setiap sudut danau (kulong) yang tidak ditemukan di tempat lainnya.

Danau Kaolin terletak di Desa Nibung Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah, berjarak ±60 Km dari Bandara Depati Amir dan sekitar ±15 Km dari Koba, Ibukota Kabupaten Bangka Tengah.

Melalui jalur darat dapat ditempuh dalam ±60 menit perjalanan dari Kota Pangkal Pinang. Objek wisata ini didukung dengan fasilitas kepariwisataan seperti toilet¸ pujasera, lapangan parkir yang luas dan toko cinderamata.

Saat berkunjung ke Kep. Babel, jangan lupa mampir ke danau ini, guys!

3. Museum Kata Andrea Hirata

Apakah waktu liburannya masih tersedia untuk satu hari lagi, guys? Yuk, jangan lewatkan dengan mengunjugi Museum Kata Andrea Hirata. Sebab, berkat kesuksesan film Laskar Pelangi, tak ada yang bisa menampiknya, popularitas pariwisata di Kep. Babel ikut terdongkrak dan ngehits. Bahkan, mendunia.

Bila sebelumnya, merekomendasikan dua tempat wisata top markotop di provinsi ini dengan konsep alam terbuka. Tetapi, tidak untuk yang ketiganya, sebab tempat wisata yang satu ini sesuatu yang sangat berbeda, sekaligus sebagai pesan ajakan untuk menapaktilasi novel Laskar Pelangi.

Museum ini didirikan pada awal 2010, yang terletak di Jl Laskar Pelangi 10 Gantong, Pulau Belitong, Indonesia 33462, dan dapat ditempuh dari pusat kota selama kurang lebih 1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor, atau berjarak 45-50 menit perjalanan dari Bandara Internasional H. A. S. Hanandjoeddin.

Pariwisata Indonesia, Museum Kata Andrea Hirata
Salah satu spot foto di tempat wisata inspiratif di Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Dok.Museum Kata Andrea Hirata)

Alternatif lain, untuk tiba ke tempat wisata itu, bisa pula menempuhnya dengan menggunakan taxi atau jasa agen perjalanan yang ada di bandara. Sepanjang perjalanan menuju ke lokasi, Anda akan disuguhkan pemandangan alam yang dijamin bakal berdecak kagum, yang sesekali terlihat barisan bukit yang siap menyapa hingga tiba di museum tersebut.

Mengulik harga tiket masuknya, bahkan tidak terlalu mahal dan dirasa cukup sepadan. Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp50 ribu rupiah per satu orangnya. Sementara, untuk jam operasional “Museum Kata” dibuka sejak pukul 09.30-17.00 WIB setiap harinya.

Di dalam museum, wisatawan akan disambut dengan karya-karya Andrea Hirata, mulai dari Laskar Pelangi yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa sampai novel-novelnya yang lain seperti Sang Pemimpi, Edensor, Sirkus Pohon, Ayah, dan yang terbaru adalah Orang-orang Biasa dan Guru Aini.

Museum kata, juga menyediakan replika SD Muhammadiyah yang menjadi latar ikonik di Laskar Pelangi. Di sini juga disediakan panggung ekspresi bagi pengunjung yang ingin unjuk bakat seperti menyanyi, sampai baca puisi.

Tampak pula, spot-spot foto yang bisa menghiasi akun media sosial Anda. Mulai dari meja tempat Andrea Hirata menulis, bangku-bangku taman, sepeda tua, sampai dinding yang dipenuhi jendela lawas.

Jika wisatawan sudah puas berkeliling, Anda bisa menukarkan kupon di pintu masuk untuk menikmati Kupi Kuli di bagian dapur museum. Aroma kopi yang harum serta rasa kopi yang tidak terlalu asam membua Kupi Kuli menjadi favorit pengunjung saat ke sini.

Kupi Kuli sendiri merupakan kopi yang disajikan dengan cara tradisional khas orang Belitung zaman dulu, nama ini juga disematkan karena memang kopi ini digemari oleh para pekerja dan menjadi tradisi sebelum berangkat kerja harus minum kopi dulu, meski tanpa sarapan kue.

Novel karangan Andrea Hirata telah memperoleh penghargaan International dan menjadi Best Seller di Turki, prestasinya patut diacungi jempol dan benar-benar fenomenal. Sampai-sampai, Laskar Pelangi juga ikut mengisi dunia layar lebar Indonesia.

Ide dalam cerita filmnya, menyampaikan kisah perjalanan hidup anak-anak yang bersekolah di sebuah pondok sekolah dasar di Belitung yang mengambil latar belakang di tahun 1970.

Semangat mereka untuk belajar sangat tinggi meskipun kondisi bangunan sekolahnya, terbilang kurang layak, sehingga terancam ditutup oleh pemerintah setempat karena jumlah siswanya yang terus berkurang. Sekolah itu, bernama “SD Muhammadiyah Gantong”.

Lambat laun, nasib SD Muhammadiyah Gantong tertolong karena kehadiran dua murid baru, yakni Harun (Jeffry Yanuar) dan Lintang (Ferdian). Bu Muslimah (Cut Mini), guru yang mengajar di sekolah tersebut semakin bersemangat untuk mendidik murid-muridnya itu.

Sebab, ia percaya bahwa anak didik yang dijuluki sebagai Laskar Pelangi, diyakininya kelak akan menjadi orang hebat di tengah keterbatasan yang mereka miliki. Banyak pula, yang mencari tahu, apakah Laskar Pelangi ini benar-benar kisah nyata atau sekedar karangan belaka?

Namun, apapun itu, dan sampai saat ini, museum yang dibilang cukup unik dan terpencil menjadi salah satu warna pariwisata di Kep. Babel sebagai salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi dengan ribuan pengunjung setiap minggunya dari seluruh dunia.

Tempat wisata ini, dikelompokkan dalam jenis wisata yang sangat inspiratif, karena kaya pesan moral dan nilai kehidupan, serta museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia, dulunya, tak lain dan tidak bukan ialah kediaman pribadi dari sang novelis. (Rizky/eh)