TWA Pulau Bakut adalah kawasan hutan bertopografi datar. Tak ayal, kondisi tersebut juga ikut memberikan dampak terhadap destinasi wisata alam ini, yang ketika air sungai sedang pasang maka tinggi airnya menggenangi hampir keseluruhan Pulau Bakut, terkecuali pada areal di bawah Jembatan Barito. Sebab, tanah di tempat itu jauh relatif lebih tinggi.
Sobat Pariwisata, beragam jenis flora yang tumbuh di TWA Pulau Bakut, di antaranya Jeruju (Acanthus ilicifolius), Piai (Acrostichum aureum), Api-api (Acicennia officinalis), Putat (Baringtonia asiatica), Kelampa (Cerbera manghas), Bakung (Crimum asiaticum), Buta-buta (Excoecaria agallocha), dan lainnya.
Sementara untuk fauna-fauna yang hidup di TWA Pulau Bakut terbilang banyak, antara lain Burung Madu Ekor Merah, Burung Madu Kelapa, Elang Laut Perut Putih, Elang Bondol, Bondol Kalimantan, Kalong besar, Kadal, Ular air dan ular sawah, Biawak, Buaya sapit dan masih banyak lagi.
Namun, fauna terfavorit dan paling memikat banyak wisatawan adalah Bekantan, “Monyet Belanda” ini memiliki ciri khas “hidung panjang dan besar” dengan rambut berwarna coklat kemerahan, yang jumlahnya lebih dari 100 ekor, dan akan terus bertambah setiap tahunnya.
Satwa Bekantan sangat menyukai kawasan yang dekat dengan perairan seperti muara sungai ataupun hutan bakau, habitat asli satwa endemik ini memang tinggal di atas pohon-pohon mangrove. Itulah habitat alaminya.
Menariknya, Bekantan yang merupakan kera asal Borneo ini juga mirip dengan monyet-monyet pada umumnya, yakni tergolong sebagai binatang pemalu, jika menjumpai manusia dan merasa tak nyaman, jarang mau berinteraksi langsung.
Selepas melewati pintu masuk berbentuk gerbang yang cukup lebar, berlanjut menyusuri akses jalan di sepanjang pulau berupa jembatan yang terbuat dari kayu Ulin, jangan lupa singgah di menara pandang.
Sebab, pemandangan destinasi wisata alam di TWA Pulau Bakut makin sempurna bila dilihat dari atas sana. Keren banget, wow!
Pulau seluas 15,8 hektar ini letaknya cukup strategis, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan selaku pengelola juga menghadirkan fasilitas agar pengunjung nyaman, tersedia sarana toilet dan tempat mushola.
Beberapa waktu lalu, TWA Pulau Bakut juga dikunjungi Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ri Alue Dohong.
“Wisatawan mau ke sini kemungkinan besar akan ketemu Bekantan, kemudian tadi juga burung ada 52 jenis dan ini ekosistem mangrove, posisi ini akan punya nilai yang strategis dan penting karena dia sangat dekat dengan Kota Banjarmasin, Batola dan sekitarnya,” kata Wakil Menteri KLHK, Alue Dohong.
Tertarik melihat Bekantan atau menikmati destinasi wisata alam liar di TWA Pulau Bakut, Sob?
Pewarta : Ipda. Abdul Hadi
Editor : I Gusti Bagus WS





































Leave a Reply