3 Pakaian Adat Khas Sulawesi Tenggara

Pakaian adat khas Provinsi Sulawesi Tenggara
Pariwisata Indonesia

Indonesia negri yang kaya. Alamnya indah, cantik nan memesona. Negara kita terdiri dari banyak kepulauan. Dan tiap pulaunya, sungguh indah luar biasa. Banyaknya pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke melahirkan kebudayaan yang kaya dan beragam. Termasuk kesenian tari, lagu daerah, rumah adat hingga pakaian adatnya. Mari kenali tiga pakaian adat khas Provinsi Sulawesi Tenggara(Sultra), yuk!

Baca Juga:  Tarian Adat Khas Sulawesi Tenggara, Nari Yuk!

Provinsi ini, masyarakatnya pluralistik dan penuh keramahan. Penduduknya menyebarkan rasa kasih sayang, kerukunan, dan kedamaian. Masyarakat disini, hidup damai berdampingan. Sungguh indah, kebhinnekaan Indonesia. Luar biasa, Indonesia penuh kedamaian.

Masyarakat disini nggak cuma satu suku. Penduduknya heterogen. Mayoritas penduduknya adalah dari suku Tolaki. Walau mendominasi, tidak menindas suku minoritas. Suku lainnya yang tinggal di Provinsi ini seperti suku Buton, Muna, Morenene, dan juga suku Wawonii menyatu dalam rajut kebhinnekaan. Menjadikan pakaian adat dari Provinsi Sultra, coraknya makin beragam.

Pariwisata Indonesia

Redaksi mengulas, apa aja sih pakaian favorit yang menjadi baju adat provinsi Sultra? Kenali, yuk!

1. Baju Adat Tolaki

Baju adat ini biasa dipakai oleh masyarakat dari suku Tolaki. Pada awalnya dipakai oleh para bangsawan, saudagar dan mereka berdarah biru. Status sosialnya dari masyarakat terpandang. Saat ini, baju adat Tolaki siapapun, rakyat biasapun bisa.

Netizen fortuna_windy, tampil cantik dan memesona dengan baju adat Tolaki. Kepoin, yuk!

Baju adat ini, kerap ditampilkan dalam upacara pengantin maupun perhelatan bernuansa formal dan terhormat. Dan istimewa, karena ada dua jenis baju adat Tolaki, yaitu pakaian adat Babu Nggawi dan pakaian adat Babu Nggawi Langgai. Apa, itu?

Baju adat Babu Nggawi Langgai untuk busana pengantin pria. Adapun baju adat Babu Nggawi untuk mempelai wanita. Kedua pakaian ini, didaulat sebagai baju adat nasional untuk provinsi Sulawesi Tenggara.

2. Pakaian Adat Buton

Pakaian adat ini terdiri dari sarung dan ikat kepala, motifnya berwarna biru. Masyarakat dari suku Buton, umumnya, nggak mengenakan baju, cuma balutan menggunakan kain-kain biasa. Identitas utamanya, terlihat pada rumbai-rumbai di ikat pinggang. Nah, ini disebut kabokena tanga!

Netizen kang_khafa memposting di media sosial miliknya. Ia mengunggah ke instagram bisnisnya, dalam jepretan foto sempurna. Instagram Kang_khafa adalah wedding fotography. Lihat hasil fotonya, keren bukan?

Penggunaan ikat kepala bermotif warna kebiruan, di ulir bertumpuk dan menjadi ciri khas masyarakat dari suku Buton. Khusus busana wanitanya, memakai baju adat Kombowa. Busana lengan pendek tanpa berkancing. Dan biasa disebut ‘bia-bia itanu’ bercorak kotak kecil-kecil. Menambah cantik mempelai wanita, melekatkan lagi tambahan perhiasan seperti cincin, gelang dan anting-anting warna keemasan. Glamour dan sorotan cahaya bikin berkelap kelip, makin mewah!

3. Pakaian Adat Suku Muna

Pakaian berikut ini, masih dari provinsi Sultra. Adalah busana adat masyarakat dari suku Muna. Redaksi memulai ulasan dari baju adat yang dikenakan oleh kaum wanita suku Muna. Baju adatnya terdiri dari bhadu, bheta, dan kain yang dibalutkan di pinggang, disebut simpulan kagogo. Dan busana yang melekat di badan ini, biasanya berlengan pendek. Sebagian memang ada yang dibuat berlengan panjang. Busananya lentur, jatuh menguntai. Terbuat dari kain satin. Bewarna merah dan ada juga warna biru. Busana wanita berlengan pendek disebut kuta kutango, dipakai untuk aktivitas keseharian.

Ilustarsi visual dari dua postingan instagram netizen fiddma, memposting perhelatan bahagianya. Sungguh membuat kita terharu. Redaksi memberikan apresiasi hebat, karena mencintai pakain baju adat khas Sultra, khususnya busana adat suku Muna. Tonton aja, postingan pertama yang ditampilkan redaksi. Ini dia, IGTV fiddma!

Baju diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan, dan di lubang leher diberikan hiasan warna kuning emas. Sarung yang biasa dikenakan, umumnya berwarna merah, biru, hitam, cokelat, atau warna-warna gelap. Terdiri atas tiga lapisan. Lapisan pertama adalah bagian sarung warna putih, dililitkan di pinggang. Lapisan kedua, untuk membalut baju, dililitkan di dada.

Tampak dalam postingan kedua di instagram fiddma saat momen pemotretan. Di unggahnya, dengan melekatkan caption di foto bertuliskan, “Alhamdulillah,” katanya.

Busananya menjurai sampai di bawah lutut. Lapisan ketiganya, digulung melilit dada, mengepit ketiak. Sarungnya, bercorak garis-garis lurus. Agar tampil sempurna, busananya dihiasi kalung-kalung bulat. Terbuat dari logam. Makin mewah bila disempurnakan gelang-gelang emas melingkar di tangan. Ada lagi, kalung bertahta menghias di leher. Makin lengkap dan aksesorisnya tampil mencolok, terlihat glamour. Wanita tersebut tentu berasal dari keluarga bangsawan. 

Sementara untuk busana pria, terdiri dari baju (bhadu), sarung (bheta), celana (sala), dan kopiah (songko) atau balutan kain bertumpuk di kepala (kampurui). Dipakainya untuk aktivitas keseharian. Berlengan pendek dan warnanya putih. Pada bagian kepala, mirip seperti sorban. Kepalanya di ulir memutar dan bertumpuk. Motif bercorak batik. Lingkar pinggang dihiasi logam berwama kuning. Direkat, kuat-kuat. Berfungsi sebagai ikat pinggang. Selain sebagai penguat sarung juga untuk menyelipkan senjata tajam. Dan sarung ini, berwama merah bercorak geometris lurus-lurus.

Baca Juga:  5 Destinasi Favorit di Sulawesi Tenggara

Pakaian adat Sulawesi Tenggara masih tetap dipakai hingga hari ini. Kecintaan masyarakat Sulawesi Tenggara, menjunjung tinggi leluhur dan kebudayaan, khususnya baju adat. Dan pakaian adat nusantara adalah identitas bangsa. Wujud nyata, rasa cinta tanah air.  Untuk pakaian adat, jauh sebelum industri mode dunia menginvasi ke Indonesia, kita telah lebih dulu mengenal busana yang keren-keren dan tiada duanya. Salah satu mode busana yang istimewa dan sekarang kita mengulasnya adalah pakaian adat yang berasal dari provinsi Sulteng. Kamu harus bangga menjadi anak bangsa. Inilah Kebhinnekaan dan manifestasi dari kebudayaan warisan leluhur kita dulu. Negri ini harus kita bangun dan menjaganya bersama.(Dian/Erwin)