Penasaran? Silakan datang ke Taman 1000 Musamus!
Untuk menuju ke wisata anti mainstream ini cukup menggunakan mobil yang dimulai dari kota Merauke (Bandara Internasional Mopah), kemudian dilanjutkan dengan langsung ke lokasi tersebut.
Estimasi waktu tempuh perjalanan ke lokasi ini, berapa lama? Hanya 2 jam untuk sampai ke lokasi tujuan, jaraknya dihitung dari Bandara tadi dan trip wisata ini, benar-benar terbilang aman.
Bahkan, lintasan menuju objek wisatanya cocok pula untuk dinikmati bersama keluarga alias berlaku untuk semua umur (semua kalangan, red).
Meski begitu, saat berkendara, tetap harus disiplin (safety driver, red). Sekalipun sesekali menjumpai jalan yang terlihat perbaikan di sana-sini, ‘overall’ tetap masih ‘wookey’-lah!
Sebelum tiba di Taman 1000 Musamus, wisatawan akan melewati perkampungan Salor 2 yang mengelola objek wisata itu.
Berkat kampung ini atau “Salor 2” wisata anti mainstream menjadi viral dan ramai dikunjungi wisatawan. Merekalah yang paling aktif dalam mempromosikan wisata Taman 1000 Musamus.
Saat berada di Kampung Salor 2, tampak gapura bertuliskan Wisata 1000 Musamus yang berada di kanan jalan. Gapura ini untuk menandai, kalau wisatawan yang datang sudah dijalur yang benar dan tepat.
Dari tempat itu, sedikitnya masih 1 Km lagi perjalanan untuk tiba ke lokasi yang dimaksud. Meski belum sampai di tujuan, Sobat Pariwisata sudah menemukan pemandangan berupa gundukan-gundukan tanah yang menjulang seperti bangunan.
Itulah yang disebut wisata Anti Mainstream yang sesungguhnya. Jelajah wisata ke Taman 1000 Musamus memang keren abiez. Sobat Pariwisata Indonesia, welcome to Taman 1000 Musamus!
Ketinggian musamus ini beragam, malah ada yang mencapai 5 meter. Struktur dan interior apartemen rayap (Macrotermes), jika ditelisik lebih mendalam maka rancangan bangunannya mirip seperti yang dibuat manusia.
Terdapat lorong-lorong rumit yang berfungsi sebagai ruang ventilasi. Bila musim kemarau, ventilasi ini membantu untuk melepaskan udara panas. Sebaliknya, ketika memasuki musim hujan berguna sebagai pelindung dari air hujan.
Dari mana diperoleh materialnya ini? Menurut kajian yang dilakukan secara ilmiah oleh para peneliti, mereka menyimpulkan, berasal dari campuran tanah, tadahan air hujan, rumput kering, dan air liur semut.
Sekalipun materialnya terbilang sederhana, tapi semut-semut itu terbukti mampu mendirikan bangunan yang menjulang.
Serangga-serangga yang terkesan lemah, berhasil mendirikan apartemen rayap yang kokoh. Saking kuatnya, bahkan bisa dipanjat oleh manusia.
Mari turut menjaganya, agar musamus-musamus itu bisa bertahan lama, dan diimbau baik kepada masyarakat, maupun wisatawan bisa menjaga apartemen rayap ini untuk tetap lestari, tidak mencoret-coretnya, tidak menaiki, maupun mencongkel-congkelnya.
Silakan menikmati wisatanya, tanpa harus merusak Taman 1000 Musamus!
Cukup dengan foto di dekatnya, jangan coba-coba menunggang seperti berada di atas kuda. Apalagi bertolak pinggang sembari berdiri di gundukan tanah tersebut. Mohon tidak melakukan hal itu, Sob!
Taman 1000 musamus tersebar di wilayah savana seluas 28 hektar. Sayangnya, baru 8 hektar yang masuk dalam pengelolaan area wisata tersebut, -dan dari tempat ini- wisatawan yang datang akan menyaksikan ratusan apartemen rayap.
Lantaran jumlahnya yang banyak, masyarakat setempat di Kampung Salor 2 menamakannya sebagai lokasi wisata Taman 1.000 musamus.
Fasilitas lain yang bisa dijumpai saat berada di objek wisata itu, seperti penyewaan kuda, mobil-mobil wisata yang telah dimodifikasi, wisata outbound, sejumlah saung, pendopo, dan homestay yang turut bertumbuh kembang di lokasi tersebut.
Tertarik untuk jelajah anti mainstream di Taman 1000 Musamus yang ada di Merauke ini Sob? (eh)
.





































Leave a Reply