Halo, Gaes!
Udah bukan rahasia lagi, kalo Pariwisata Indonesia menawarkan berbagai pilihan untuk dinikmati. Termasuk taman-taman nasional yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Salah satunya adalah Taman Nasional Ujung Kulon.
Saat mendengar Taman Nasional Ujung Kulon, lo mungkin akan teringat pada badak jawa. Tapi, badak bercula satu ini bukan satu-satunya hal yang bisa lo temuin di sana, Gaes.
Baca juga : 3 Tempat Wisata Pantai yang Paling Terkenal di Banten
Penasaran ingin tahu ada apa lagi di taman nasional ini? Simak info lengkapnya!
Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Rute menuju tempat ini bisa lo mulai dari Pelabuhan Sumur yang berada sekitar 136 km dari pusat Kota Serang, Banten. Dari Pelabuhan Sumur, lo bisa naik perahu boat dengan perjalanan sekitar 2 jam menuju Taman Nasional Ujung Kulon.
Dulunya kawasan taman nasional tertua di Indonesia ini merupakan lahan pertanian dan perkebunan penduduk lokal. Kemudian pada tahun 1883, erupsi Krakatau yang menghasilkan tsunami hingga 15 meter telah menghancurkan area tersebut.
Ngomong-ngomong tentang erupsi Krakatau, ada yang unik, nih, Gaes. Di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, tepatnya di Pulau Peucang, lo bisa menemukan Pohon Kiara.
Pohon raksasa ini disebut-sebut sebagai satu-satunya pohon yang selamat dari letusan Krakatau. Berarti umurnya sudah lebih dari se-abad. Keren, kan?
Balik lagi ke erupsi Krakatau, ekosistem Ujung Kulon bisa memulihkan diri dengan sangat cepat dan membentuk hutan yang baru. Hanya selang beberapa tahun, kawasan paling barat Pulau Jawa ini kembali menjadi lahan subur dengan kekayaan biota di dalamnya.
Bahkan saking kayanya, Ujung Kulon sudah menarik minat peneliti dari Belanda dan Inggris sejak tahun 1846.
Di tahun 1992, taman ini pun ditetapkan sebagai salah satu taman nasional Indonesia dan di tahun yang sama, Taman Nasional Ujung Kulon ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu Word Heritage Site.
Taman Nasional Ujung Kulon memiliki luas keseluruhan 122.956 hektar dengan 44.337 hektar di antaranya adalah perairan. Keberagaman lokasi ini mempengaruhi kekayaan ekosistem yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon, dari ekosistem hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa air tawar, hutan hujan tropis dataran rendah, hutan bakau, padang rumput, hingga lautan.

Misalnya, di Pulau Handeleum. Di pulau ini, lo bisa menyusuri Sungai Cigenter menuju air terjun bertingkat dengan menggunakan sampan atau kano.
Di perjalanan, lo bakal dibuat takjub dengan pemandangan hutan hujan tropis di kiri dan kanan sungai. Eits, di sini lo harus hati-hati, soalnya banyak terdapat ular phyton dan buaya. Sangat memacu adrenalin, bukan?
Untuk yang lebih suka petualangan yang ‘aman-aman’ saja, Pulau Peucang bisa menjadi pilihan. Pulau ini juga sudah dilengkapi dengan penginapan yang bisa digunakan para pengunjung.
Keindahan pasir putih di pantai menjadi salah satu magnet yang membuat pulau ini sering dikunjungi wisatawan. Bukan itu aja. Di Pulau Peucang, lo bisa berinteraksi dengan monyet ekor panjang, babi hutan, rusa, hingga biawak, loh.
Perairan di Pulau Peucang juga cocok banget buat lo yang suka snorkeling. Terumbu karang, padang lamun (rumput laut berdaun lebar), dan ikan-ikan kecil bisa memanjakan mata lo saat menyelam di sana.
Salah satu kegiatan yang sayang untuk dilewatkan adalah menyeberang ke padang penggembalaan Cidaon untuk melakukan wildlife viewing. Di padang rumput yang luas ini, lo bisa mengamati banteng, rusa, hingga merak ekor hijau.
Selain Pulau Peucang, lo juga bisa menemukan spesies beragam di Pulau Panaitan. Pulau ini emang memiliki kombinasi berbagai ekosistem, dari vegetasi mangrove, hutan pantai, hingga hutan hujan dataran rendah. So, enggak heran lo bakal menemukan beraneka fauna, dari kancil, kera ekor panjang, rusa, burung, babi hutan, hingga buaya dan ular phyton.

Lo juga bisa melakukan wisata sejarah di Pulau Panaitan, loh. Soalnya, di pulau ini, tepatnya di puncak Gunung Raksa, terdapat Arca Ganesha dan peninggalan zaman hindu kuno lainnya.
Jika ingin bertemu dengan badak jawa, lo bisa menjadikan daerah Semenanjung Ujung Kulon sebagai destinasi.

Kawasan ini emang menjadi rumah asli si ‘artis’ Taman Nasional Ujung Kulon. Dan agar tidak mengganggu habitat, pengelolaan di daerah ini emang dibatasi. Menjaga habitat badak bercula satu ini emang menjadi agenda yang harus kita dukung, Gaes, karena jumlah populasinya sangat mengkhawatirkan. Enggak heran kalo badak jawa termasuk dalam sepuluh hewan langka dunia, bahkan menjadi mamalia terlangka. Yuk, kita bantu jaga agar hewan endemik ini tidak punah!
Gimana, Gaes? Pariwisata Indonesia di taman nasional tertua ini ternyata menyimpan banyak hal, kan? So, buruan masukin Taman Nasional Ujung Kulon ke dalam bucket list liburan lo dan nikmati petualangan serunya. (Anita)
Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022





































Leave a Reply