Kaledo merupakan kuliner khas Suku Kaili, suku asli yang mendiami Sulawesi Tengah (Foto : ceceromed kitchen)

Bumbu Sederhana di Balik Kelezatan Kaledo

Kuliner Khas Destinasi Pariwisata Indonesia di Palu

Kuliner Khas Destinasi Pariwisata Indonesia di Palu

Halo, Pecinta Wisata Kuliner!

Bagi beberapa orang, opor ayam emang jadi menu wajib saat lebaran. Tapi di destinasi Pariwisata Indonesia di Sulawesi Tengah, Kaledo adalah menu yang kerap menemani saat merayakan hari istimewa tersebut. Penasaran dengan kuliner yang satu ini? Kuy, baca artikel ini sampai habis, ya.

Kaledo merupakan kuliner khas Suku Kaili, suku asli yang mendiami Sulawesi Tengah. Kalo dilihat sekilas, kuliner ini sangat mirip dengan sop kaki sapi, Gaes. Makanya kemudian muncul pendapat bahwa Kaledo merupakan akronim dari kaki lembu Donggala. Fyi, Donggala adalah salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah dan terkenal dengan kain tenunnya.

Meski istilah kaki lembu Donggala cukup populer, tapi menurut salah satu tokoh di Kota Palu, nama Kaledo bukan merupakan akronim dari kata apapun dan sudah ada sejak kuliner ini pertama kali dibuat, yaitu ketika Suku Kaili mulai mendiami Lembah Palu. Saat itu, kata kaki dan lembu belum menjadi kosa kata yang digunakan oleh masyarakat Suku Kaili.

Suku Kaili yang di masa tersebut masih menganut kepercayaan animisme terbilang memiliki kebudayaan kuliner yang cukup keren. Mereka mampu memadukan hewan ternak yang dipelihara dan bumbu dari tanaman yang banyak ada di sana, menjadi sajian lezat yang hingga hari ini diburu oleh para wisatawan lokal maupun asing.

Bumbu yang gue maksud adalah asam jawa. Asam jawa (Tamarindus indica) adalah tumbuhan tropis yang diduga berasal dari India dan hidup baik di ketinggian sekitar 1.000-1.500 mdpl. Buah dari tanaman ini merupakan bagian yang paling sering digunakan sebagai bumbu masakan, bahan minuman atau jamu. Bagian kayunya juga kerap digunakan untuk membuat beragam kerajinan. Di Sulawesi Tengah, tepatnya di daerah yang terbentang dari Palu, Sigi, Kulawi, hingga Napu di Kabupaten Poso, banyak terdapat jejak-jejak tanaman ini.

Selain asam jawa, jangan ngebayangin bumbu super rumit lainnya untuk membuat Kaledo, ya Gaes ya. Karena untuk membuat kuliner yang satu ini hanya dibutuhkan bumbu-bumbu sederhana, seperti garam, penyedap rasa, dan cabe hijau.

Pengolahan asam jawa untuk membuat Kaledo harus diperhatikan, ya Gaes ya. Bumbu ini tidak langsung dicampurkan ke dalam rebusan daging, tapi direbus terlebih dahulu secara terpisah. Setelah kulitnya lunak dan lebih mudah dikupas, daging asam jawa pun dihancurkan dan disaring, lalu dicampurkan ke dalam kuah Kaledo. Nah! Dari asam jawa inilah rasa asam khas pada Kaledo berasal.

Selain rasa asam, ciri khas Kaledo terdapat pada rasa gurih dari sumsum kaki sapi.(Foto : Indonesiatraveler)

Selain rasa asam, ciri khas Kaledo terdapat pada rasa gurih dari sumsum kaki sapi. Potongn kaki sapi ini sengaja dibuat tidak terlalu kecil agar sumsum tidak ambyar dan tetap melekat di bagian dalam tulang. Mengkonsumsinya juga sangat unik, loh, yaitu dengan menggunakan sedotan.

Oh ya, Gaes, kaki sapi diyakini baru digunakan sebagai bahan utama Kaledo setelah tahun 1600-an atau ketika agama Islam masuk di Tanah Kaili. Sementara sebelum itu, masyarakat Suku Kaili diyakini menggunakan kaki babi hutan sebagai bahan untuk membuat Kaledo.

Di masa lalu, Kaledo merupakan sajian yang dihidangkan untuk para raja, kaum bangsawan, dan tamu-tamu agung dari jauh. Tapi seiring perkembangan zaman, sajian ini mulai bisa dinikmati oleh masyarakat umum.

Biasanya, Kaledo menjadi menu utama dalam acara-acara khusus, seperti pesta pernikahan atau hidangan saat Idul Fitri dan Idul Adha. Tapi lo juga bisa menemukan kuliner yang satu ini di warung-warung makan khusus yang ada di Kota Palu. Uniknya lagi, biasanya Kaledo tidak dimakan dengan nasi, melainkan dengan singkong atau pisang kepok rebus.

Oh ya, Gaes, sejak tahun 2017 Kaledo sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, loh. Kalo berkunjung ke destinasi Pariwisata Indonesia di Sulawesi Tengah, jangan lupa mencicipi kuliner yang satu ini, ya.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023