Pendiri Sanggar Wit Tonjaya, I Komang Wardana atau Jero Mangku Taksu (tampak tengah), jepretan foto ini diabadikan saat sebelum pandemi Covid-19 / Foto: Istimewa

I Komang Wardana Pendiri Sanggar Wit Tonjaya di Bali, Intip Profilnya

Rezeki Tuhan sudah atur, "sampai sekarang saya meyakini sekali hal ini dan tidak mau meminta-minta, lebih-lebih bersungut-sungut agar diberi iba dan ujungnya dibantu, itu bukan motivasi saya mendirikan Sanggar Wit Tonjaya, termasuk kepada istri dan anak-anak jangan lakukan hal tersebut. Apapun keadaannya, kita harus bisa untuk menjadi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah," kata JM Taksu. Berikut ulasannya.

Rezeki Tuhan sudah atur, "sampai sekarang saya meyakini sekali hal ini dan tidak mau meminta-minta, lebih-lebih bersungut-sungut agar diberi iba dan ujungnya dibantu, itu bukan motivasi saya mendirikan Sanggar Wit Tonjaya, termasuk kepada istri dan anak-anak jangan lakukan hal tersebut. Apapun keadaannya, kita harus bisa untuk menjadi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah," kata JM Taksu. Berikut ulasannya.

Kepribadian JM Taksu adalah sosok yang rendah hati, penuh welas asih, sabar, berwibawa, mengayomi, gemar memberikan motivasi, taat beragama, dan mencintai silaturahmi. Aktif pula dalam memimpin berbagai macam upacara keagamaan, persembahyangan dan doa sesuai ajaran agama Hindu.

Siswa Sanggar Wit Tonjaya diundang untuk pementasan, momen unjuk kebolehan ini diabadikan saat sebelum pandemi Covid-19 / Foto: Istimewa

Dalam kesehariannya, senantiasa mengedepankan sikap toleransi antar umat bergama dan menjauhkan diri dari sifat yang negatif seperti diskriminasi kepada orang lain; membedakan orang lain berdasarkan agama, ras, gender, dan suku.

Menurutnya, manusia adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan YME. Oleh karenanya, manusia hidup di dunia diminta untuk bersikap adil dan tidak saling menyakiti satu sama lain. Dengan kata lain, manusia juga makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, sudah pasti, membutuhkan peran orang lain.

Berdasarkan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pendiri Sanggar Wit Tonjaya mengatakan, semua warga negara Indonesia ikut memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Di balik maksud ucapannya ini, untuk menerangkan, sifat-sifat buruk yang bernada serupa akan dapat terjangkit kepada siapapun. Penyebabnya, merasa memiliki segala sesuatu. Lalu, lupa diri dan menjadi ‘mentang-mentang’, dia merinci hal itu, antara lain angkuh, besar hati, besar kepala, congkak, jemawa, pongah, sombong, tinggi hati, kata JM Taksu, “ini menjadi godaan bagi mereka yang memiliki kekuasaan.”

Kemudian, ayah tiga anak ini mengajak para seniman dan budayawan di Indonesia, “marilah berbuat dari apa yang kita miliki saat ini dan harus ikhlas, jangan pamrih,” imbaunya.

Suami dari Ni Komang Kembar Ariyasih menambahkan, jangan kotori tangan dengan target lain. Walaupun terselebung dan itu sebesar satu buliran pasir dalam berkarya, Tuhan YME sungguh Maha Tahu.

Lebih lanjut, sambungnya, leluhur bangsa ini pun sudah mengingatkan, yaitu seniman profesinya benar-benar sosial tetapi di balik sosialnya, dan mahakarya yang diciptakannya, harus pandai-pandai dan penuh bijaksana serta arif saat memetik sebagai ladang kehidupan.

Untuk itu, katanya, tetaplah berbuat baik dan teruslah berkarya dengan penuh ikhlas. Sementara, pada bagian rezeki atau mendapatkan manfaat dari hal ini, biarkan menjadi urusan Tuhan YME.

Keteguhan, tekad yang keras, ditambah lagi berkomitmen untuk totalitas yang konsisten berkarya melalui jalur seniman dan budayawan, yakinlah dengan sendirinya, “proses mengikuti hasil,” imbuhnya.

Rezeki Tuhan sudah atur, “sampai sekarang saya meyakini sekali hal ini dan tidak mau meminta-minta, lebih-lebih bersungut-sungut agar diberi iba dan ujungnya dibantu, itu bukan motivasi saya mendirikan Sanggar Wit Tonjaya, termasuk kepada istri dan anak-anak jangan lakukan hal tersebut. Apapun keadaannya, kita harus bisa untuk menjadi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” kata JM Taksu.